Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto: IST
JAKARTA, investor.id  – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pada masa pandemi Covid-19 ini, penyakit hepatitis juga harus segera ditangani tidak boleh ditunda. Pasalnya, hepatitis bisa menjadi kronis dan sirosis menyebabkan kanker hati yang berdampak  fatal terhadap  masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, Budi menegaskan, sesuai  dengan rencana Kementerian Kesehatan (Kemkes) penanganan hepatitis dan penyakit menular lainnya harus dimulai dari  sektor hulu yakni promotif dan preventif.
“Sesuai dengan rencana Kementerian Kesehatan, kita lebih banyak memperhatikan sektor hulu, yakni promotif dan preventif karena ini cara yang efisien dan lebih murah  juga cara yang lebih mensejahterakan, lebih mengenakan lagi bagi para  pasien atau rakyat Indonesia,” kata Budi saat membuka webinar Hari Hepatitis Sedunia XII Tahun 2021  dengan  tema “ Segera Tangani Hepatitis”, Rabu (28/7/2021).
Selanjutnya, Budi juga mengatakan, sektor hulu  ini fokus pada program vaksinasi. Dalam hal ini,  per Agustus 2021 ini, Kemkes kembali menjalankan program vaksinasi lainnya termasuk kepada balita untuk pencegahan hepatitis B seiring dengan program vaksinasi Covid-19.
Dengan penguatan di sektor hulu, Budi berharap  masyarakat tidak terkena penyakit hepatitis.  Dikatakannya,  dengan fokus pada sektor hulu, maka dapat melakukan deteksi lebih dini sehingga  penanganannya lebih cepat dan  mengurangi  keparahan  penyakit.  Selain itu,  membuat  masyarakat  tetap bisa hidup secara produktif ke depannya.
“Kami memang sedang  fokus pada penanganan Covid-19 dan saya juga menyadari mengakibatkan kurangnya atau menurunnya vaksinasi  yang lainnya  tetapi saya ingin memastikan  bahwa kita tidak boleh  mengabaikan itu. Karena apa yang kita lakukan akan sangat menentukan 10-15 tahun ke depan.  Jadi selain vaksinasi Covid-19, mulai  bulan Agustus ini kedepan  kita  juga akan memonitor secara ketat  vaksinasi-vaksinasi lainnya  termasuk  juga imunisasi hepatitis yang akan dilakukan pada bayi-bayi,” papar Budi.
Selain itu, Budi menambahkan, Kemkes juga memastikan bahwa tindakan promotif dan preventif  dilakukan salah satunya dalam bentuk  deteksi dini  baik terhadap ibu yang hamil  maupun juga terhadap populasi-populasi  berisiko terkena  hepatitis B atau C.
Salah satunya tenaga kesehatan (nakes).
“Jadi kita memastikan semua tenaga kesehatan  itu diberikan perlindungan dengan selalu diawasi dengan ketat agar  bisa deteksi lebih dini lagi,” ucapnya.
Budi juga menegaskan, pentingnya  sektor hulu ini agar penanganan di sisi hilir yakni rumah sakit tidak berat  serta akan  sangat menentukan terhadap kehidupan masyarakat kedepannya. 
“Kita jauh hidup lebih enak kalau kita disiplin di hulu  dan melakukan testing dan tracing lebih ketat di hulu dan melakukan deteksi  dini di hulu  dan treatment di hulu  dibandingkan kita mengabaikan itu. Kemudian terkena sehingga menanganinya di sisi hilir,” pungkasnya.
Oleh karena itu, Budi berharap  dapat mewujudkan eliminasi hepatitis B   pada 2030. Pasalnya, pada 2030  mendatang selain hepatitis,  Kemkes juga menargetkan untuk  mengeliminasi malaria.
“Saya rasa banyak tugas harus kita lakukan  dan kita lihat negara lain sudah bisa melakukan ini. Mudah-mudahan sambil kita menghadapi Covid-19  ini membangun  infrastruktur kesehatan dengan baik, kita benar-benar  bisa juga melakukan eliminasi  terhadap penyakit-penyakit seperti  malaria  dan hepatitis, sifilis  dan HIV,” ucapnya.
“Ini membutuhkan kerja keras dan dukungan dari  seluruh masyarakat  tidak mungkin kami bisa melakukan ini sendiri. Dan saya yakin kalau kita  kerja bersama secara  produktif  menggalang seluruh  kemampuan kita miliki masing-masing tujuan mulai itu bisa tercapai,” kata Budi.
Pada kesempatan sama, Budi  juga berbagi  cerita pernah menjadi penderita hepatitis  di masa kecilnya. Namun kala itu, ia belum mengetahui  karena  masih berusia  di bawah 10 tahun.
“Saya adalah penderita hepatitis pada saat saya  kecil. Jadi saya waktu itu tidak mengerti hepatitis seperti apa karena usia masih dibawah 10 tahun terkonfirmasi terkena hepatitis.  Ibu saya sempat merawat dan khawatir dan  sekarang baru saya menyadari.  Kepada  teman-teman yang bergerak menangani  hepatitis ini,  saya adalah bukti bahwa inisiatif pemerintah  setidaknya berhasil, saya sehat  sampai saat ini,” pungkasnya.
Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)
Sumber : BeritaSatu.com
Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS
Terpopuler
01
OneMed (OMED) Tetapkan Harga IPO di Batas Bawah
Selasa, 1 November 2022 | 09:37 WIB
02
Adaro (ADRO) Labanya Melesat 366%
Selasa, 1 November 2022 | 06:32 WIB
03
Indo Tambangraya (ITMG) Tebar Dividen Rp 4.128 per Saham
Rabu, 2 November 2022 | 17:35 WIB
04
SRAJ Lagi-lagi Cuan Besar, Empat Saham Lainnya Juga Loh!
Rabu, 2 November 2022 | 12:13 WIB
05
Perusahaan Sawit Menthobi (MKTR) Patok Harga IPO Rp 120
Selasa, 1 November 2022 | 10:34 WIB
Terkini
Laboratorium Diagnos Berbagi dengan Aksi Peduli 
Rabu, 2 November 2022 | 23:07 WIB
Genjot 'Income', VICI Dorong Penjualan Varian Baru Herborist
Rabu, 2 November 2022 | 22:07 WIB
Tingkatkan Ekspor Mobil, Gaikindo Berharap Pemerintah Lobi Australia
Rabu, 2 November 2022 | 21:47 WIB
DPR Ingatkan Sanksi Pidana 10 Tahun Penjara bagi Perusahaan Farmasi terkait Kasus Ginjal Akut
Rabu, 2 November 2022 | 21:45 WIB
Gandeng Riyad Bank, BSI Perkuat Bisnis Global
Rabu, 2 November 2022 | 21:26 WIB
Anda belum login
Anda belum login
Sign InorSign Up
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Pencarian
INVESTOR.id
Copyright ©2022 Investor Daily. All Rights Reserved

source