KEMENKO PMK – Sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam membangun SDM unggul berkualitas menuju Indonesia Maju, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar High Level Meeting Peningkatan Kesejahteraan Anak Usia Sekolah dan Remaja (RAN PIJAR) di Bali, Kamis (3/11).
Acara ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran RAN PIJAR yang telah diselenggarakan pada tanggal 19 April 2022 lalu dengan komitmen dari 20 Menteri/Kepala Lembaga terkait.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan, remaja merupakan bagian yang signifikan bagi populasi Indonesia dalam membangun Indonesia Maju.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan jumlah penduduk Indonesia berusia 5-19 tahun mencapai 69 juta jiwa (26% dari total populasi di Indonesia) yang terdiri atas 35 juta laki-laki dan 33 juta perempuan (BPS, 2019).
Jumlah penduduk usia muda yang besar ini dinilai dapat menjadi potensi penggerak pembangunan apabila kelompok umur tersebut dipersiapkan menjadi kelompok penduduk yang berkualitas dan berdaya saing untuk Indonesia Maju.
 
“Namun bila kelompok penduduk tersebut tidak memiliki kapasitas dan keterampilan yang memadai, maka kelompok umur tersebut akan menjadi penghambat dalam pembangunan bangsa,”  kata Agus saat memberi sambutan pada High Level MEETING RAN PIJAR di Bali, Kamis (3/11).
Oleh karena itu, permasalahan-permasalahan yang terjadi pada remaja harus diperhatikan, seperti anemia, obesitas, merokok, kekerasan anak, perundungan, gangguan mental dan NAPZA.
Ha ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs) dalam pentingnya menangani hak dan kebutuhan anak usia sekolah dan remaja.
Dalam Permenko PMK No. 1/2022, ditetapkan lima strategi utama dalam upaya Peningkatan Kesejahteraan Anak Usia Sekolah dan Remaja: diantaranya penguatan komitmen dan koordinasi serta kerja sama lintas sektor dan pemangku kepentingan, perluasan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas, dan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak dan remaja.
Kemudian perbaikan kualitas dan akses untuk menunjang peningkatan pendidikan, keterampilan hidup, dan peran serta Anak Usia Sekolah dan Remaja serta penguatan dan pengembangan sistem informasi, data, riset, dan inovasi dalam pengembangan program.
Dengan demikian, kata Agus, dukungan dari semua pihak terkait sangat dibutuhkan untuk terus meningkatkan dan mendorong serta melaksanakan berbagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan anak usia sekolah dan remaja secara bersama-sama.
“Setap provinsi, kabupaten/kota diharapakan dapat mengimplementasikan RAN PIJAR dan membuat terobosan inovasi dalam peningkatan kesejahteraan anak usia sekolah dan remaja,” ungkapnya.
Dengan diselenggarakannya High Level Meeting ini diharapkan juga peningkatan kesejahteraan anak usia sekolah dan remaja dapat terimplementasi sampai tingkat desa dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat khususnya anak usia sekolah dan remaja.
 
“Kolaborasi pemangku kepentingan baik di pusat, provinsi, kab/kota menjadi salah satu kunci dalam pelaksanaan upaya peningkatan kesejahteraan anak usia sekolah dan remaja,” kata Agus.
Sementara itu Representative UNFPA Indonesia Anjali Sen mengatakan, dirinya mengapresiasi Kemenko PMK dan RAN PIJAR yang secara komprehensif telah mencakup program yang bersifat promotif, preventif dan kuratif.
Acara ini dinilai menjadi salah satu titik awal untuk mendukung terjalinnya kemitraan dan kolaborasi para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan daerah untuk implementasi secara terpadu.
 “Kita perlu mengeksplorasi perspektif masing-masing lembaga dan membina hubungan kerja untuk mendukung inisiatif Rencana Aksi Nasional Peningkatan Kesejahteraan Anak Usia Sekolah dan Remaja,” tuturnya.
Anjali menambahkan, beberapa isu pemuda masih sensitif di Indonesia, khususnya kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender.
Itulah mengapa dialog dan kerja sama dinilai penting, baik  antara kementerian, tokoh agama dan masyarakat, LSM, badan-badan PBB, serta organisasi dan jaringan yang dipimpin orang muda.
 
Adapun High Level Meeting RAN PIJAR merupakan hasil kerja sama dan kolaborasi Kemenko PMK bersama United Nations Population Fund (UNFPA) Indonesia dan Siklus Indonesia. 
Sejalan dengan hal itu, Asisten Deputi Ketahanan Gizi dan Promosi Kesehatan Jelsi Natalia Marampa menyebut,  dengan adanya kegiatan ini diharapkan Pemerintah Provinsi  Bali dan  Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya dapat menyusun rencana kerja implementasi RAN PIJAR di daerah secara komprehensif.
“Saya harap juga dapat dilaksanakan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh OPD terkait dan para pemangku kepentingan lainnya serta partisipasi mitra pembangunan lainnya (LSM, akademisi dan organisasi profesi),” ucapnya.
Sebagai tambahan, pada kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali siap untuk menjadi piloting RAN PIJAR. 
Turut hadir dalam acara tersebut Representative UNFPA Indonesia Anjali Sen, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Kemendagri Zanariah, Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek Vivi Andriani, Kepala Dinas Pendidikan, pemuda, dan olahraga Provinsi DIY Didik Wardaya, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Bappeda Provinsi Bali Ida Bagus Gde Wesnawa Punia dan para tamu undangan lainnya. 

source