PONTIANAK – Stunting merupakan masalah pertumbuhan pada balita yang menjadi perhatian beberapa negara di dunia termasuk di Indonesia. Balita stunting mengalami gagal tumbuh yang terlihat dari tinggi badan dibawah rata-rata jika dibandingkan dengan usianya.
Anak-anak yang menderita stunting beresiko mengalami keterlambatan perkembangan otak yang berpengaruh kepada kecerdasan. Jika tidak diberikan intervensi sedini mungkin, anak-anak akan memulai hidup mereka dengan kerugian yang nyata: mereka menghadapi kesulitan belajar di sekolah, dan menghadapi hambatan untuk berpartisipasi dalam komunitas mereka.
Kemampuan kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk, berpenghasilan lebih rendah pada saat dewasa, kualitas kerja yang tidak kompetitif, kehilangan produktivitas (Soliman et al., 2021; SSGI, 2021; UNICEF et al., 2021). Dampak jangka panjang lainnya dari balita stunting adalah kualitas negara pada masa yang akan datang. Semakin banyak jumlah anak yang mengalami stunting maka semakin buruk gambaran masa depan negara.
Secara global diketahui sebanyak 149,2 juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting dengan kasus tertinggi berada di benua Asia (79 juta jiwa). Kasus stunting di Indonesia menduduki peringkat ke-27 di dunia (31,8 persen). Studi Status Gizi Indonesia menobatkan Kalimantan Barat sebagai peringkat ke-7 tertinggi kasus stunting (29,8 persen) dari 38 provinsi di Indonesia dengan kasus stunting di Kota Pontianak sebesar 24,4 persen (SSGI, 2021).
Tingginya prevalensi kejadian stunting di Indonesia disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah tingginya angka anemia dan kurang gizi pada perempuan sebelum menikah sehingga pada saat hamil menghasilkan anak stunting. Anak-anak yang terlahir dari Ibu yang anemia akan beresiko mengalami stunting. Intervensi sensitif penanganan stunting salah satunya adalah edukasi, konseling dan perubahan perilaku.
Sementara intervensi spesifik salah satunya adalah pemberian tablet tambah darah untuk remaja, wanita usia subur dan Ibu hamil. Wanita usia subur salah satunya adalah mahasiswi tingkat akhir. Mahasiswi tingkat akhir merupakan salah satu sasaran yang perlu perhatian khusus sebagai upaya pencegahan stunting. Hal ini disebabkan karena mahasiswi mengalami menstruasi setiap bulan sehingga beresiko mengalami anemia.
Tingginya angka kejadian stunting di Pontianak, Kalimantan Barat melatar belakangi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang dilakukan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura . Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Gedung FK Untan pada tanggal 24 Oktober 2022.
Ns. Fitri Fujiana, M.Kep., Sp.Kep.Mat selaku ketua kegiatan PKM mengatakan topik kegiatan ini adalah screening Hb, pemberian tablet tambah darah dan edukasi pranikah pada mahasiswa tingkat akhir Untan sebagai upaya pencegahan stunting. Peserta kegiatan melibatkan 50 orang mahasiswa tingkat akhir dari berbagai fakultas di Untan. Kegiatan PKM dibuka Dr. Nurmainah, MM., Apt selaku wakil dekan II mewakili Dekan FK Untan dr. Muhammad Asroruddin yang berhalangan hadir pada sesi pertama.
Dr. Nurmainah menyampaikan kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk nyata kepedulian FK dan Untan terhadap prevalensi kejadian stunting di Pontianak, Kalbar dan Indonesia.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar haemoglobin (Hb) pada 50 orang mahasiswa selaku peserta kegiatan. Pemeriksaan hb menggunakan Dari screening kadar Hb ini ditemukan sebanyak 38 persen peserta memiliki kadar Hb dibawah normal (< 12 g/dl). Kadar Hb paling rendah pada peserta adalah 7,1 g/dl, dan hb paling tinggi adalah 16,1 g/dl. peserta yang memiliki kadar Hb dibawah normal, diberikan tablet tambah darah.
Sesi kedua kegiatan adalah pendidikan kesehatan pra nikah. Topik pendidikan kesehatan yang pertama adalah kesehatan reproduksi perempuan. Pemateri pada topik ini adalah Dr. dr Tri Wahyudi, Sp.OG (K) Obsos. Materi kedua disampaikan dr. Wiwik Windarti, Sp.A dengan topik pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang benar untuk mencegah stunting. Materi ketiga disampaikan oleh Dr. Agustina Arundina, RD, MPH dengan topik persiapan gizi pranikah untuk mencegah generasi stunting.
Peserta tampak antusias mengikuti materi yang disajikan oleh pemateri, hal ini terlihat dari banyak nya pertanyaan yang disampaikan oleh peserta pada saat sesi diskusi. Salah satu peserta dari Fakultas MIPA Untan mengatakan banyak ilmu yang baru diketahuinya setelah mengikuti kegiatan ini. Peserta dari Faperta Untan mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa sebagai persiapan sebelum menikah. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Beberapa peserta yang beruntung membawa pulang bingkisan sebagai pemenang doorprize.
Dekan FK Untan dr. Muhammad Asroruddin, Sp.M turut hadir pada sesi kedua kegiatan. Asroruddin menyampaikan kepada peserta agar mulai memperhatikan pola konsumsi yang sehat, agar pada saat menikah dan hamil nanti kondisi ibu dan janin sehat serta bebas stunting. Kegiatan juga dihadiri direktur RS Untan yang juga merupakan anggota PKM, yakni dr. Desriani, Sp.A. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan beberapa orang mahasiswa dan alumni FK Untan diantaranya, Tiko Kafaso, Nadya Eulalia, Tamara Septi, Afifah, Madi Ismail, Yulianti, Nabila dan Kiky. (mse/ser)
PONTIANAK – Stunting merupakan masalah pertumbuhan pada balita yang menjadi perhatian beberapa negara di dunia termasuk di Indonesia. Balita stunting mengalami gagal tumbuh yang terlihat dari tinggi badan dibawah rata-rata jika dibandingkan dengan usianya.
Anak-anak yang menderita stunting beresiko mengalami keterlambatan perkembangan otak yang berpengaruh kepada kecerdasan. Jika tidak diberikan intervensi sedini mungkin, anak-anak akan memulai hidup mereka dengan kerugian yang nyata: mereka menghadapi kesulitan belajar di sekolah, dan menghadapi hambatan untuk berpartisipasi dalam komunitas mereka.
Kemampuan kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk, berpenghasilan lebih rendah pada saat dewasa, kualitas kerja yang tidak kompetitif, kehilangan produktivitas (Soliman et al., 2021; SSGI, 2021; UNICEF et al., 2021). Dampak jangka panjang lainnya dari balita stunting adalah kualitas negara pada masa yang akan datang. Semakin banyak jumlah anak yang mengalami stunting maka semakin buruk gambaran masa depan negara.
Secara global diketahui sebanyak 149,2 juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting dengan kasus tertinggi berada di benua Asia (79 juta jiwa). Kasus stunting di Indonesia menduduki peringkat ke-27 di dunia (31,8 persen). Studi Status Gizi Indonesia menobatkan Kalimantan Barat sebagai peringkat ke-7 tertinggi kasus stunting (29,8 persen) dari 38 provinsi di Indonesia dengan kasus stunting di Kota Pontianak sebesar 24,4 persen (SSGI, 2021).
Tingginya prevalensi kejadian stunting di Indonesia disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah tingginya angka anemia dan kurang gizi pada perempuan sebelum menikah sehingga pada saat hamil menghasilkan anak stunting. Anak-anak yang terlahir dari Ibu yang anemia akan beresiko mengalami stunting. Intervensi sensitif penanganan stunting salah satunya adalah edukasi, konseling dan perubahan perilaku.
Sementara intervensi spesifik salah satunya adalah pemberian tablet tambah darah untuk remaja, wanita usia subur dan Ibu hamil. Wanita usia subur salah satunya adalah mahasiswi tingkat akhir. Mahasiswi tingkat akhir merupakan salah satu sasaran yang perlu perhatian khusus sebagai upaya pencegahan stunting. Hal ini disebabkan karena mahasiswi mengalami menstruasi setiap bulan sehingga beresiko mengalami anemia.
Tingginya angka kejadian stunting di Pontianak, Kalimantan Barat melatar belakangi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang dilakukan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura . Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Gedung FK Untan pada tanggal 24 Oktober 2022.
Ns. Fitri Fujiana, M.Kep., Sp.Kep.Mat selaku ketua kegiatan PKM mengatakan topik kegiatan ini adalah screening Hb, pemberian tablet tambah darah dan edukasi pranikah pada mahasiswa tingkat akhir Untan sebagai upaya pencegahan stunting. Peserta kegiatan melibatkan 50 orang mahasiswa tingkat akhir dari berbagai fakultas di Untan. Kegiatan PKM dibuka Dr. Nurmainah, MM., Apt selaku wakil dekan II mewakili Dekan FK Untan dr. Muhammad Asroruddin yang berhalangan hadir pada sesi pertama.
Dr. Nurmainah menyampaikan kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk nyata kepedulian FK dan Untan terhadap prevalensi kejadian stunting di Pontianak, Kalbar dan Indonesia.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar haemoglobin (Hb) pada 50 orang mahasiswa selaku peserta kegiatan. Pemeriksaan hb menggunakan Dari screening kadar Hb ini ditemukan sebanyak 38 persen peserta memiliki kadar Hb dibawah normal (< 12 g/dl). Kadar Hb paling rendah pada peserta adalah 7,1 g/dl, dan hb paling tinggi adalah 16,1 g/dl. peserta yang memiliki kadar Hb dibawah normal, diberikan tablet tambah darah.
Sesi kedua kegiatan adalah pendidikan kesehatan pra nikah. Topik pendidikan kesehatan yang pertama adalah kesehatan reproduksi perempuan. Pemateri pada topik ini adalah Dr. dr Tri Wahyudi, Sp.OG (K) Obsos. Materi kedua disampaikan dr. Wiwik Windarti, Sp.A dengan topik pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang benar untuk mencegah stunting. Materi ketiga disampaikan oleh Dr. Agustina Arundina, RD, MPH dengan topik persiapan gizi pranikah untuk mencegah generasi stunting.
Peserta tampak antusias mengikuti materi yang disajikan oleh pemateri, hal ini terlihat dari banyak nya pertanyaan yang disampaikan oleh peserta pada saat sesi diskusi. Salah satu peserta dari Fakultas MIPA Untan mengatakan banyak ilmu yang baru diketahuinya setelah mengikuti kegiatan ini. Peserta dari Faperta Untan mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa sebagai persiapan sebelum menikah. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Beberapa peserta yang beruntung membawa pulang bingkisan sebagai pemenang doorprize.
Dekan FK Untan dr. Muhammad Asroruddin, Sp.M turut hadir pada sesi kedua kegiatan. Asroruddin menyampaikan kepada peserta agar mulai memperhatikan pola konsumsi yang sehat, agar pada saat menikah dan hamil nanti kondisi ibu dan janin sehat serta bebas stunting. Kegiatan juga dihadiri direktur RS Untan yang juga merupakan anggota PKM, yakni dr. Desriani, Sp.A. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan beberapa orang mahasiswa dan alumni FK Untan diantaranya, Tiko Kafaso, Nadya Eulalia, Tamara Septi, Afifah, Madi Ismail, Yulianti, Nabila dan Kiky. (mse/ser)
Jl. Gajah Mada No. 2-4 Pontianak
Fax: (0561) 760038/575368
Redaksi: (0561) 735070