Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa pandemi memberikan pelajaran yang banyak. Tidak hanya dalam hal kesehatan, tetapi juga dalam hal pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selama pandemi 2020-2022, Sri Mulyani mengungkapkan APBN dibuat luwes, fleksibel, responsif dan lincah. Hal ini dalam rangka menghadapi begitu banyak shock dan perubahan yang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pertama shock-nya kesehatan, kalau virus gak bisa diajak negosiasi, gak bisa diajak duduk sama Covid-19. Covid kamu mau menyerang siapa dulu? Dan bagaimana mutasinya?” ujar Sri Mulyani dalam Stragei Capai Ekonomi Kuat & Berkelanjutan di Tengah Risiko, Jumat (28/10/2022).

“Virusnya berubah aja terus. Kamu siap gak siap, urusan kami. Pokoknya saya berubah terus,” lanjutnya. Oleh karena itu, APBN jadi instrumen yang menopang.

“Jangan sampai kehidupan rakyat dan ekonomi mengikuti kedombrangannya Covid tadi, kan kaya gitu. Maka, kita melakukan stabilisasi,” paparnya.

Menurutnya, kondisi pandemi sama halnya dengan perubahan iklim. Tidak ada yang tahu, negara mana atau wilayah mana yang akan kena bencana kekeringan. Meskipun, ada BMKG yang memberikan prediksi cuaca.

“Tapi precisely kita ga tahu. Tiba-tiba hujan aja dan banjir,” katanya.

Dalam kondisi seperti inilah, APBN harus menjalankan fungsi stabilitasnya. Saat itu, APBN masuk sebagai instrumen yang menghalau ancaman stabilitas. APBN dipasang instrumen countercyclical.

“Di situ kemudian APBN menyangga, jatuhnya di-counter supaya dia tidak terlalu dalam. Tahun 2020-2021 hingga 2022 ini APBN desainnya countercylical.”

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

source