POJOKSATU.id, KARAWANG – Riska Amalia (28), adalah bukti bahwa tuberkulosis (TB atau TBC) tidak akan menjadi momok sepanjang hayat jika mau berobat.
Perjuangan karyawati sebuah pabrik ternama ini untuk bisa sembuh dari TBC patut diacungi jempol. Riska pantang mengenal yang namanya bosan, capai, dan lelah untuk minum obat.
Redaksi pojoksatu.id berkesempatan berbincang langsung dengan Riska untuk mengetahui cerita lengkap perjuangan dirinya bisa sembuh dari penyakit mematikan tersebut.
Perempuan cantik yang berprofesi sebagai buruh pabrik ternama di Karawang ini bercerita banyak, mulai dari awal diagnosa dan gejala sampai akhirnya divonis menderita TBC.
“Perjuangannya berat banget yah, banyak keluhan, banyak pandangan miring tentang penyakit TB dari masyarakat dan dikucilkan teman-teman,” ujar Riska, kepada pojoksatu.id, di Puskesmas Anggadita, Kecamatan Klari, Kamis (20/10/22).
Butuh waktu lama bagi Riska untuk meyakinkan rekan kerjanya bahwa penyakit yang ia derita suatu saat bisa sembuh dan tidak akan menular selama dijaga dengan baik.
Riska bercerita, ia mengalami gejala awal sekitar bulan Januari 2022. Saat itu, berat badan Riska turun drastis, mengalami sakit di bagian dada, batuk tidak berhenti disertai dahak, lemas, dan panas dingin.
“Secara spesifiknya saya tidak tahu apakah tertular atau bukan. Yang jelas banyak faktor, salah satunya pola hidup,” ucap Riska.
Demi bisa sembuh dari TBC, Riska rela bolak-balik ke Puskesmas Anggadita. Atas saran dari dokter Puskesmas, ia diwajibkan meminum obat secara rutin tanpa berhenti agar bisa sembuh total dari TBC.
Meski menderita TBC, Riska mengaku bersyukur karena mendapatkan keringanan dari pihak perusahaan tempatnya bekerja. Misalnya saja diperbolehkan duduk, dan tidak mengangkat barang berat.
“Jadi kita itu diperhatikan dan dilindungi banget di PT. Soalnya di PT juga ada grupnya (grup WA) khusus yang menderita TB,” ujar Riska.
Sehingga, kata Riska, ia bersama penderita TB lain bisa saling bercerita, berbagi dan konsultasi seputar TBC sesama rekan di pabrik.
Faktor kedisiplinan untuk minum obat dan merubah pola hidup jadi kunci sukses Riska bisa sembuh dari TBC.
Banyak pelajaran yang ia dapat setelah akhirnya sembuh. Misalnya saja, Riska bisa merubah pola hidup menjadi lebih sehat, mensyukuri hidup, dan menghargai kesehatan.
“Alhamdulilah sekarang sehat. Dulu aku pas pertama TBC itu lemes gak bisa ngapa-ngapain, jalan ke kamar mandi aja harus mapah ke tembok,” ungkapnya.
“Tapi Alhamdulilah setelah minum obat teratur, sesuai dosis, sesuai anjuran dokter, akhirnya bisa sembuh,” ucapnya.
Selama proses pengobatan, kata Riska, ia selalu berkonsultasi kepada dokter dan petugas kesehatan di Puskesmas Anggadita.
Menurut Riska, tim kesehatan dari Puskesmas Anggadita sangat baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Riska juga tidak ragu untuk konsultasi atau bertanya seputar TBC kepada dokter atau petugas lain di Puskesmas Anggadita
“Motivasi saya untuk bisa sembuh adalah anak saya,” ucap Riska, sambil memperlihatkan rasa haru mengingat perjuangannya dulu saat terkena TBC.
Terakhir, Riska ingin mengajak kepada masyarakat yang saat ini masih berjuang bisa sembuh dari TBC untuk tidak menyerah.
“Tetap semangat, berdoa, jaga pola hidup yang sehat, berpikir positif dan yakin bisa sembuh,” pungkasnya.
Sementara itu, saat diwawancara, Riska ditemani oleh tim kesehatan Puskesmas Anggadita yang turut mengobati Riska sampai sembuh yakni Nurul Agustina, Skep (Kasubag TU /meakili kepala puskesmas), dr. Apex Wira Anshori (dokter puskesmas) dan Iyon, S.Kep (Pengelola program TBC). (Ega Nugraha/Pojoksatu)