You are here:

kicknews.today – “Ini soal keyakinan, jadi tidak bisa dipaksa,” seorang guru SD di Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima yang enggan menyebutkan namanya, menyatakan alasannya menolak imunisasi anaknya.
Guru yang berstatus ASN ini mengaku, punya alasan kenapa anaknya tidak diberikan imunisasi lengkap. Pasca persalinan buah hatinya sudah diberikan imunisasi pertama. Pada imunisasi kedua anaknya sempat disuntik imunisasi, namun salah tindakan sehingga diminta untuk disuntik ulang oleh pihak medis.
“Saat itu saya tolak dan pulang. Kasihan anak saya sudah menangis, lalu diminta untuk suntik ulang,” sesalnya saat ditemui akhir Agustus 2022 lalu.
Pasca kejadian itu, anaknya tidak lagi diberikan imunisasi lanjutan hingga usianya beranjak dua tahun. Dari awal dia mengaku, memang tidak ingin anaknya diberikan imunisasi. Menurutnya, anak yang imunisasi cenderung kurang aktif, daya tahan tubuh lemah dan gampang sakit.
“Imunisasi itu virus yang dimasukan ke tubuh anak, jadi saya tidak ingin kesehatan anak saya terganggu,” ucapnya.
Tidak hanya itu, terdapat pula beberapa kelompok masyarakat yang menolak imunisasi karena menyangkut keyakinan. Mereka menganggap imunisasi itu haram.
“Kami memang dilarang untuk memberikan imunisasi pada anak karena itu haram,” kata seorang ibu yang enggan namanya dipublikasikan, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, dari dua orang anaknya tidak pernah diberikan imunisasi di Puskesmas. Hal itu juga dilarang oleh sang suami.
“Anak saya baik-baik saja dan jarang sakit juga. walaupun sakit itu cuma batuk dan demam sebentar,” katanya.
Pernyataan kedua orang ibu yangenggan memberikan imunisasi lengkap kepada anaknya, adalah potret rendahnya kesadaran masyarakat soal kesehatan  di Kabupaten Bima, terutama menyangkut imunisasi dasar anak. Selain minimnya pengetahuan akan pentingnya imunisasi, alasan lain adalah lantaran sebagian masyarakat masih mempercayai informasi hoaks.
Padahal, dampak bagi anak yang tidak imunisasi lengkap sudah jelas; anak-anak akan lebih mudah terserang berbagai penyakit menular, seperti rubella, difteri, hepatitis, campak. Bukan itu saja, anak juga lebih rentan terkena masalah kesehatan lain akibat malnutrisi seperti stunting dan gizi buruk.
Realita ini terlihat di Kecamatan Lambu. Di Wilayah yang berada di ujung timur kabupaten Bima itu, ternyata masih cukup banyak anak yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap.
Selain kesadaran atau pengetahuan orangtua akan pentingnya imunisasi lengkap, keengganan itu juga dipicu masalah keyakinan, ketakutan akan efek samping, keraguan atas manfaat imunisasi serta tidak memiliki waktu untuk mengantarkan anak ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.
Mirisnya, kondisi ini bukan hanya terjadi pada masyarakat awam. Bahkan ada juga orang tua dari latar belakang sarjana yang memilih untuk tidak memberikan imunisasi lengkap pada anaknya.
Imunisasi dan Stunting
Pemerintah terus bekerja keras agar anak bisa mendapatkan imunisasi sejak bayi melalui Posyandu. Bahkan baru-baru ini pemerintah mencanangkan program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) dengan harapan capaian 100 persen imunisasi bisa diwujudkan. 
Sebab, pemberian imunisasi lengkap pada anak sangat penting dilakukan. Selain mencegah anak dari penyakit menular, juga agar anak terhindar dari stunting dan gizi buruk.
Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, Kabupaten Bima menjadi salah satu daerah terbesar kasus stunting di NTB, dengan prevalensi 25 sampai 30 persen. Artinya, dari 100 balita yang dilahirkan, 25 sampai 30 diantaranya menderita stunting.
Khusus di Kecamatan Lambu kasus stunting menunjukan peningkatan. Tahun 2021, kasus stunting di Lambu sebanyak 472 dari 3828 sasaran, sementara per Maret naik menjadi 831 atau 21,6 persen dari jumlah sasaran.
Pada umumnya, faktor determinan penyebab masalah stunting di Kabupaten Bima berdasarkan hasil verifikasi lapangan yaitu, akses air bersih tingkat rumah tangga, riwayat balita menderita cacingan, kepemilikan jamban sehat. Selain itu, kasus stunting juga disebabkan karena riwayat imunisasi dasar yang tak lengkap.
Sementara data gizi buruk dan kurang gizi di Kabupaten Bima disebut masih cukup tinggi, terutama Kecamatan Lambu yang menjadi salah satu wilayah paling banyak. Data Puskesmas setempat pada tahun 2021, anak penderita kurang gizi mencapai 92 orang atau 2,24 persen.
Sementara di tahun 2022 per Maret sebanyak 64 anak kurang gizi atau 1,6 persen dari sasaran. Dari 64 tersebut 12 anak diantaranya menderita gizi buruk yang sebagian besar dengan penyakit penyerta seperti tuberculosis, ispa, hingga bocor jantung.
Koordinator Imunisasi Puskesmas Lambu, Lili Andriani, AMD.Kep. mengatakan, selain karena faktor lingkungan dan pola asuh, bertambahnya kasus stunting dan gizi buruk di Lambu salah satunya disebabkan karena capain imunisasi dasar lengkap dua tahun terakhir atau selama pandemi menurun atau di bawah 75 persen. Sebab, selama pandemi Covid kegiatan imunisasi dan posyandu dibatasi.
“Memang kami akui, petugas imunisasi tidak bisa bekerja maksimal karena adanya pembatasan sosial selama pandemik. Tapi sekarang capaian imunisasi sudah mulai mendekati 80 persen,” kata Lili Andriani dikonfirmasi pada 24 September 2022.
Semua anak penderita stunting atau gagal tumbuh dan gizi buruk di Lambu menurutnya, rata-rata yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap. Kasus ini juga menjadi pembahasan pada Rakorcab beberapa waktu lalu di Kantor Camat Lambu, tentang pentingnya imunisasi dalam menekan kasus stunting dan gizi buruk.
“Ini pentingnya imunisasi lengkap, karena dengan begitu kekebalan tubuh anak menguat secara spesifik. Walaupun di sisi lain disebabkan karena faktor lingkungan yang kotor, pola asuh dan pemberian gizi kurang,” ujar wanita kelahiran Makassar, Sulsel ini.
Imunisasi menurutnya, tidak dapat digantikan oleh nutrisi lain. Seperti air susu ibu (ASI) misalnya, hanya dapat memperkuat pertahanan tubuh secara umum. Sementara, imunisasi mampu membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman atau virus berbahaya.
“Imunisasi fungsinya merangsang pembentukan antibodi terhadap virus tertentu. Setelah antibodi terbentuk, maka vaksin imunisasi akan bekerja cepat mencegah penularan penyakit. Selain imunisasi, bayi juga tetap diberikan ASI dan menjaga kebersihan lingkungan rumah tangga,” katanya.
Kesadaran orangtua untuk memberikan imunisasi lengkap pada bayi menurut Lili, masih cukup rendah di Lambu. Tidak sedikit masyarakat menganggap imunisasi itu tidak penting, takut efek samping, keraguan atas manfaat imunisasi serta tidak memiliki waktu untuk mengantarkan anak ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Bahkan ada beberapa kelompok warga yang memilih tidak memberikan imunisasi karena menganggap imunisasi itu haram.
“Memang di Lambu ada beberapa kelompok masyarakat menolak untuk diimunisasi. Mereka anggap imunisasi itu haram atau apalah dan terkesan menghindar,” katanya.
Untuk mencapai 100 persen imunisasi dasar lengkap ini butuh kerja ekstra. Terutama bagaimana mensosialisasikan akan pentingnya imunisasi demi kesehatan anak.
“Seperti ada guru ASN yang enggan imunisasi anak menurutnya itu masalah. Kita tidak bisa menjamin bagaimana dampak bagi kesehatan anak ke depan,” sebutnya.
Dia menjelaskan, anak stunting dan gizi buruk tetap diberikan penanganan khusus melalui pemantauan rutin. Pemberian makanan bergizi, vitamin dan obat-obatan jika terdapat keluhan.
“Alhamdulillah, berkat penanganan rutin sejumlah Balita sudah bebas dari gizi buruk dan stunting,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Koordinator Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima, Erma Suryani. Dia mengaku, sebagian besar Balita penderita stunting dan gizi buruk ditinggalkan oleh ibunya menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Selain itu, orang tuanya bercerai kemudian anak dititipkan ke neneknya.
Dua kasus tersebut menurutnya, paling tinggi Kecamatan Lambu dan Sape. Baru kemudian disusul oleh kecamatan lain seperti Woha, Monta, Bolo, Wera, Madapangga dan sejumlah wilayah lainnya.
“Khusus gizi buruk rata-rata di bawah usia 5 tahun. Saat ini, ada beberapa yang dirawat di RSUD. Selebihnya pengawasan Puskesmas,” jelas, Erma dikonfirmasi awal September 2022 lalu.
Anak gizi buruk sebagian besar ditinggal kerja ibunya karena terhimpit ekonomi. Kemudian anak diasuh oleh neneknya. Tidak heran, sejak kecil anak mereka kurang nutrisi ASI serta tidak diberikan imunisasi yang menyebabkan pertumbuhannya terganggu.
Selain itu, beberapa balita tersebut memiliki penyakit penyerta, seperti diare, Tuberkulosis dan Ispa.
“Penyakit itu muncul, karena kesalahan pola asuh tadi. Sehingga berujung balita yang bersangkutan menderita gizi buruk,” ujarnya.
Menekan kasus tersebut, pihaknya intens sosialisasi kepada masyarakat melalui program posyandu. Para orang tua diberikan pendidikan bagaimana pencegahan dini, hingga pertolongan pertama jika balita menderita gejala gizi buruk.
Kondisi itu diakui Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB), H Lalu Hamzi Fikri. Menurutnya, masih terdapat sejumlah orang tua di NTB yang menganggap imunisasi tidak penting untuk keberlangsungan hidup anak.
Padahal, dampak bagi anak yang tidak imunisasi sudah jelas akan lebih mudah terserang berbagai penyakit menular. Bukan itu saja, anak juga lebih rentan terkena masalah kesehatan lain akibat malnutrisi seperti stunting dan gizi buruk.
“Ini dibutuhkan peran seluruh elemen bagaimana mensosialisasikan pentingnya imunisasi. Contohnya selama covid-19, bagaimana mengubah perilaku orang yang awalnya tidak mau vaksin menjadi vaksin. Di situ, peran media juga sangat dibutuhkan,” kata Fikri yang juga Ketua PKBI NTB belum lama ini.
Sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki perhatian akan pemenuhan hak anak, salah satunya adalah pemenuhan kesehatan dasar anak, PKBI NTB bersama UNICEF menggandeng berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari anggota sekolah, seperti murid, guru dan orangtua, komunitas dan forum anak, bahkan jurnalis untuk menyuarakan pentingnya imunisasi.
Melalui program Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat dan Anak peran serta semua pihak, termasuk pemerintah daerah dimaksimalkan untuk mengubah prilaku masyarakat agar capaian imunisasi dasar lengkap bagi anak dapat meningkat. Dukungan dari pemerintah daerah diharapkan bisa terus berlanjut untuk mengupayakan agar orang tua memahami manfaat atau pentingnya imunisasi. (*)
Editor: Juwair Saddam

source