TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA – Upaya pencegahan Stunting terus di lakukan oleh semua pihak, termasuk dalam kegiatan yang di lakukan oleh Mahasiswa Fisipol Untan yang melibatkan Satgas Stunting dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam memberikan edukasi tentang stunting pada remaja dan ibu hamil pada Sabtu 1 Oktober 2022 kemarin di desa Sungai Rengas kec Sei Kakap.
Dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi tentang stunting ini, hadir Satgas Stunting Provinsi Indah Budiastutik, BKKBN bina ketahanan remaja Elsi, Ketua GENRE Fahrizi dan masyarakat yang terdiri para ibu hamil, ibu bersama balita, kader posyandu dan masyarakat sekitar.
Dalam sosialisasi tentang stunting ini merupakan rangkaian Kegiatan mahasiswa Fisipol Untan yang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Satgas Stunting Prov Kalbar Indah Budiastutik, M.Kes mengatakan, berdasarkan data survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 prevalensi angka stunting Provinsi Kalimantan Barat masih di atas Nasional yaitu 29,8 persen.
” Ini artinya kita harus saling bersinergi dan bekerjasama dalam pencegahan terjadinya stunting di kalbar” katanya pada Tribun Pontianak Minggu 2 Oktober 2022.
Indah mengatakan Kegiatan seperti inilah akan berperan dalam memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang upaya pencegahan stunting.
Cerita Murhasina MUA Asal Terentang Kabupaten Kubu Raya
” BKKBN perwakilan Kalimantan Barat melalui kelembagaannya ada Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Satgas Stunting, Tim Pendamping Keluarga (TPK) sampe ke tingkat desa, harus terus memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata akademisi ilmu kesehatan masyarakat ini.
Indah juga menyebutkan dalam materinya tentang apa itu stunting, dampaknya serta tidak hanya faktor lingkungan dan sanitasi yang menjadi penyebab stunting, namun pola asuh yang salah dan pengetahuan orang tua juga bisa menyebabkan terjadinya stunting.
“Biasanya yang selalu disalahkan dalam stunting itu karena faktor kesehatan atau gizinya saja, sebenarnya tidak hanya itu faktor di luar kesehatan justru menyumbang terjadinya stunting seperti sanitasi, lingkungan kumuh, faktor ekonomi, dan tidak hanya tingkat kemiskinan saja, kita harus menyadari keluarga berisiko stunting itu, tidak peduli miskin atau kaya. Kalau orang kaya tapi salah dalam pola asuh, juga bisa terjadi stunting,” ujarnya.
Dan Satgas Stunting PROV Kalbar ini juga menjelaskan, dalam upaya pencegahan stunting ini ada lima sasaran yang menjadi fokus dalam upaya percepatan penurunan stunting yaitu calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca salin, bayi dua tahun (Baduta), dan bayi lima tahun (Balita). Di sini banyak peserta dari mahasiswa silahkan dipersiapkan matang-matang sebelum menikah ya, mulai memilih calon suami/istri, daftar di KUA 3 bulan sebelum menikah, periksa kesehatan mulai dari berat badan, lingkar lengan atas, dan pemeriksaan kadar Hb lebih lanjut. Imbuhnya.

source