Koalisi Warga Kesehatan LaporCovid-19 menyoroti ketersediaan alias stok vaksin virus corona yang mulai mengalami kelangkaan di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi itu menurut mereka menyebabkan percepatan program vaksinasi Covid-19 mengalami tren pelambatan.
Koordinator Advokasi LaporCovid-19 Firdaus menambahkan kelangkaan itu terjadi salah satunya usai pemerintah tidak lagi mendatangkan vaksin dari pembelian langsung maupun hibah dari luar negeri, melainkan mengandalkan stok lama dan produksi dalam negeri yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Percepatan program vaksinasi kian melambat. Laju vaksinasi terus mengalami penurunan setidaknya sejak bulan Mei lalu,” kata Firdaus dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (25/10).
Firdaus merinci pada Agustus 2022, berdasarkan data Kemenkes, Indonesia hanya mampu melakukan 3,5 juta suntikan atau 50 persen lebih rendah dibandingkan bulan Mei 2022 yang berhasil melakukan 7 juta suntikan.

Selain animo masyarakat yang menurun, stok vaksin di berbagai daerah sudah mulai menipis. Akibat kelangkaan atau stok yang menipis itu, tak jarang pemerintah daerah menutup layanan vaksinasi.
Kondisi tersebut menurutnya cukup mengkhawatirkan mengingat masih banyak warga yang belum mendapatkan vaksin booster. Apalagi data WHO menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang masih konsisten memiliki jumlah pertambahan kasus dan kematian Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara.
Bahkan tingkat kematian di Indonesia terbilang mengkhawatirkan, di atas rerata angka kematian global. Indonesia belum mampu menurunkan rerata angka kematian yang masih di angka 2,7 persen menjadi kurang dari 1 persen bahkan nol kematian.
LaporCovid-19 pun menurutnya telah menerima 60 laporan warga terkait pelaksanaan vaksinasi sepanjang 2022. Dari jumlah tersebut, 17 persen laporan berkaitan dengan kesulitan mendapatkan vaksin booster. Warga sulit mencari lokasi vaksinasi karena tak jarang pemerintah daerah menutup layanan vaksinasi akibat kelangkaan vaksin.
“Kelangkaan vaksin dan rendahnya cakupan vaksinasi booster bisa membahayakan Indonesia di tengah upaya pemerintah mengakhiri pandemi,” kata dia.
Dengan demikian, guna merespons perkembangan vaksinasi Covid-19 saat ini, LaporCovid-19 mendorong pemerintah melakukan beberapa langkah. Pertama, pemerintah mempercepat distribusi stok vaksin yang masih tersedia di pusat dan melakukan relokasi vaksin dari daerah-daerah yang masih tinggi persediaan vaksinnya.
“Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan dan distribusi aman untuk menghindari vaksin kedaluwarsa,” ujarnya.

Kedua, vaksinasi booster harus diprioritaskan kepada kelompok rentan seperti lanjut usia dan kelompok yang memiliki komorbiditas, bukan semata-mata memenuhi kebutuhan pelaku perjalanan dan pengunjung pusat perbelanjaan.
Alih-alih membuka sentra pelayanan vaksin booster di stasiun, terminal, atau bandara. Firdaus menyebut lebih baik pemerintah memperketat protokol kesehatan di tempat publik dan mengalihkan vaksin booster ke Puskesmas.
Ketiga, pemerintah perlu menyediakan informasi ketersediaan stok vaksin sesuai jenisnya berdasarkan kabupaten/kota agar warga dapat mengetahui kondisi sebenarnya stok vaksin di daerahnya masing-masing dan tidak kesulitan mencari.
“Dengan masuknya varian baru XBB ke Indonesia. Pemerintah harus secepatnya menangani kelangkaan vaksin dan meningkatkan laju vaksinasi booster untuk memperkuat kekebalan komunitas dari vari ancaman varian baru Covid-19,” ujar Firdaus.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga melaporkan persediaan vaksin virus corona di Indonesia mulai menipis. Berdasarkan laporan data per Selasa (25/10) pukul 12.00 WIB, kumulatif stok vaksin Covid-19 yang tersedia dan terdistribusi di 34 provinsi Indonesia tersisa 2.278.521 dosis.

ADVERTISEMENT

source