Copyright © KabarRiau.com
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Desain by : Aditya
Phota : dr Nora Nasution saat menerima Raksahum di Aula Dinas Kesehatan Sumut
Medan – Terkait Pemberitaan kabarriau.com yang berjudul Terkuak, Anggaran Covid Terserap 40 Persen, RAKSAHUM : "FORKOPIMDA Sumut Gagal dan Perlu Di Evaluasi", dr Nora Nasution memberikan Bantahan atas berita tersebut.
dr Nora Nasution mengatakan bahwa dirinya tidak ada membicarakan anggaran tapi yang sampaikan terkait cakupan atau capaian Maayarakat yang di suntik vaksin Booster di Sumatera Utara saat di Aula Lantai 2 Gedung Dinkes Sumut bersama Raksahum 
"Karena saya gak ada bicara soal anggaran, saya bicara cakupan atau capaian masyarakat yang di booster hanya sekitar 40 % an tepatnya 40,90 %" ungkapnya
Sebelumnya di beritakan, Hari ini, Puluhan orang menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Medan, Sumatera Utara (Sumut), yang berada di Jalan Williem Iskandar Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Senin (24/10/2022)
Massa aksi yang tergabung dalam Rakyat untuk Keadilan dan Supremasi Hukum (Raksahum) menggelar unjuk rasa karena kasus gagal ginjal akut (GGA) misterius yang telah merenggut nyawa 99 anak Indonesia.
"Kami kemari karena anak-anak Indonesia, ini kita miris sedih anak-anak jadi korban," kata orator aksi, A Rizal atau yang akrab disapa Bhoy di depan kantor Dinas Kesehatan Kota Medan.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Menerima Perwakilan Peserta Aksi di Ruang Aula di lantai 2.
Perwakilan Aksi Di terima oleh Dr Mora dan satu persatu peserta Aksi memberikan paparannya
Menurut Ade , Dinas Kesehatan Sumatera Utara lalai dalam mengawasi obat yang beredar sehingga mengakibatkan anak-anak menderita gagal ginjal akut.
"Biasanya yang kena ginjal itu 30 tahun ke atas. Ini anak-anak yang ginjalnya masih sehat, belum terkena minuman keras, soda, hanya karena minum obat bisa menderita gagal ginjal," ucapnya.
Boy mengatakan Dinas Kesehatan Sumut harus bertanggung jawab atas kasus gangguan ginjal anak misterius terhadap anak di Indonesia.
"Kalau benar obat itu mengandung bahan berbahaya sanksi pidana perusahaan obat itu," ucapnya.
Sementara Ade Dermawan koordinator aksi, mendesak agar Dinas Kesehatan Provinsi Sumut bertanggungjawab atas kasus ginjal anak.
"Apa tanggung jawab-mu, hanya telepon dari pusat, enak aja. Kalau kalian tarik, mana obatnya," kesalnya.
"Dinas Kesehatan Provinsi Sumut juga harus minta maaf, atas kejadian gangguan ginjal anak ini," sambungnya.
Johan Merdeka mengatakan bahwa Dinas Kesehatan Gagal dalam melaksanakan fungsinya
"Anggaran Dinas Kesehatan besar tapi gagal dalam menjalankan fungsinya" katanya
Zulkifli dalam pertemuan tersebut meminta melibatkan LSM Penjara PN dan Raksahum dalam melakukan penarikan dan pemusnahan obat berbahaya yang menyebabkan kasus gagal ginjal akut pada anak
"Tolong libatkan kami dalam sidak, kami ingin tahu apakah obat berbahaya sudah di tarik dan di musnahkan" ungkapnya
Peserta Aksi memberikan waktu kepada Dinas Kesehatan Provinsi dalam waktu 2 X 24 jam untuk menindak lanjuti aspirasi mereka
"Kami tunggu khabar dari Dinas, kalau tidak kami akan membawa massa lebih besar lagi" ungkapnya
Di dalam aksinya massa aksi juga membawa spanduk besar yang berisi tuntutan unjuk rasa diantaranya copot Menteri Kesehatan RI, copot Kepala BPOM RI, tutup perusahaan obat yang sedang bermasalah.
Kemudian, meminta kepolisian untuk memeriksa oknum yang bermain obat-obatan dan kesehatan dan barang impor.
Temui massa
Dr Mora mengatakan akan menindaklanjuti aspirasi RAKSAHUM dan menyampaikannya ke Kadis Kesehatan Provinsi Sumut
Ia mengatakan, pihaknya telah menindak sejumlah apotek dan mengamankan obat yang diduga tercemar etilen glikol untuk tidak dijual di apotek.
 
"Kita sudah menyurati Kepala Daerah terkait adanya Obat yang di duga mengakibatkan gagal ginjal akut pada anak dan selanjutnya apa yang menjadi aspirasi Raksahum akan kami sampaikan ke pimpinan" pungkasnya
Situasi pertemuan agak memanas namun agak mereda setelah pihak Dinas Kesehatan Sumut meminta waktu agar dapat memberikan penjelasan soal bukti obat sirup yang telah ditarik.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, massa akhirnya membubarkan diri.
Diketahui, kasus gagal ginjal akut  di Indonesia telah mencapai 206 anak, 99 di antaranya meninggal dunia. Angka tersebut berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 18 Oktober 2022.
Kemenkes melaporkan kasus gagal ginjal akut misterius yang muncul di Indonesia, dalam dua bulan terakhir ini menyerang anak usia enam bulan sampai 18 tahun tersebar di 20 provinsi.
Meski penyakit tersebut telah menyebar luar, Kemenkes belum memastikan apakah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) terkait gangguan ginjal akut tersebut.**

source