logo
Selamat
Logo
twitter
facebook
instagram
youtube
Selasa, 25 Oktober 2022
25 Oktober 2022
17:17 WIB
Editor: Faisal Rachman
JAKARTA – Dinas Kesehatan DKI Jakarta meningkatkan kapasitas unit perawatan intensif khusus untuk pasien anak (Pediatric Intensive Care Unit/PICU), dari 197 menjadi 219 tempat tidur di sejumlah rumah sakit Ibu Kota.
"Ini sebagai salah satu strategi penanganan gangguan ginjal akut pada anak ditambahkan kapasitas PICU jadi total 219 tempat tidur," kata Luigi, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes DKI dalam seminar terkait kewaspadaan gangguan ginjal akut di Jakarta, Selasa (25/10).
Dari total 219 tempat tidur khusus perawatan intensif bagi pasien anak itu, paling banyak fasilitas PICU ada di 14 rumah sakit di Jakarta Timur mencapai 50 tempat tidur. 
Kemudian, di 15 rumah sakit di Jakarta Pusat ada 42 tempat tidur PICU. Sementara itu, Jakarta Utara ada 31 tempat tidur PICU di 7 rumah sakit.
Selanjutnya, di Jakarta Barat ada 33 tempat tidur PICU di 9 rumah sakit dan Jakarta Selatan ada 41 tempat tidur PICU di 15 rumah sakit. Selain menambah kapasitas tempat tidur PICU, pihaknya, kata Luigi juga, meningkatkan kompetensi dokter dan perawat.
Upaya itu dilakukan untuk menyiasati terbatasnya konsultan nefrologi atau tenaga kesehatan yang berperan dalam mendiagnosis dan menangani berbagai masalah ginjal pada anak, bayi dan remaja di Jakarta. 
Sementara itu, 44 Puskesmas kecamatan di Jakarta juga sudah mampu melakukan tes fungsi ginjal.
"Kami tingkatkan kompetensi dokter spesialis anak sebagai perpanjangan tangan nefrologi anak," serunya.
Dinas Kesehatan DKI mencatat sejak Januari hingga 24 Oktober 2022 terdapat 90 laporan kasus gangguan ginjal akut pada anak yang ditangani di Jakarta. 
Dari jumlah itu, hampir 50% di antaranya meninggal dunia, sisanya 26% dalam perawatan dan 15% di antaranya sembuh.
"Gejala yang paling banyak adalah riwayat demam atau demam, lalu penurunan kesadaran, gangguan saluran cerna. "Ini salah satu paling banyak keluhan ditemukan," kata Luigi.
Sisir Rumah Sakit
Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyisir seluruh rumah sakit (RS) di Ibu Kota untuk mendata kasus gagal ginjal akut yang berpotensi belum terangkum agar penanganan dapat dilakukan segera.
"Kami menyisir semua RS di DKI, apakah memang ada kasus di sana dan dilaporkan kepada kami," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti.
Dia juga meminta agar rumah sakit ikut berperan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan, terkait edaran dari Kementerian Kesehatan yang meniadakan penggunaan obat sirop untuk sementara waktu.
Tak hanya itu, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan rumah sakit vertikal pusat untuk melakukan pembekalan kepada tenaga kesehatan untuk memudahkan penanganan gagal ginjal akut.
Dinas Kesehatan DKI menjelaskan gejala awal gagal ginjal akut misterius di antaranya demam, diare dan muntah, batuk pilek. Kemudian, gejala lanjutan di antaranya jumlah urine dan frekuensi buang air kecil berkurang, badan membengkak, penurunan kesadaran dan sesak nafas.
Jika ditemukan gejala demam, diare, muntah, frekuensi buang air kecil berkurang, sebaiknya dalam 12 jam harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
"Semakin cepat terdeteksi, semakin baik perbaikan penyakit jika ditangani khusus," serunya.
Adapun langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah gangguan ginjal di antaranya cukupi kebutuhan cairan harian sesuai usia dan konsumsi makanan lengkap dan gizi seimbang. Kemudian, terapkan pola hidup sehat, hindari mengonsumsi obat keras terbatas tanpa resep dokter.
Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengajak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memperkuat kolaborasi, dalam mengatasi tantangan penyakit menular dan tidak menular yang terjadi di dalam negeri.
"Pandemi ini mengajarkan kita untuk saling berkolaborasi. Itu penting, karena pemerintah tidak bisa sendiri, butuh gerakan bersama dari seluruh komponen bangsa, termasuk dari IDI," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Budi mengatakan, peringatan HUT ke-72 IDI perlu dijadikan momentum untuk meningkatkan sinergi, kolaborasi dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan di Indonesia. Di tengah upaya penanganan pandemi covid-19, kata Budi, di saat bersamaan muncul penyakit hepatitis akut, cacar monyet dan yang terbaru gangguan ginjal akut pada anak.
Menurut Menkes, sektor kesehatan terus diuji, Indonesia tetap mampu mengatasinya. Hal ini, kata Budi, karena memiliki kekuatan berupa modal sosial yang besar serta sistem kesehatan yang kuat.
"Kemenkes sedang menjalankan transformasi kesehatan nasional fokus pada enam pilar, yakni transformasi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, SDM kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan," serunya.
Ketua PB IDI Adib Khumaidi dalam acara puncak HUT IDI di Bandung, Jawa Barat, siap mendukung pemerintah di garda terdepan penanganan masalah kesehatan.
"IDI turut serta menyukseskan agenda transformasi kesehatan demi sistem kesehatan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi masalah kesehatan saat ini maupun di masa depan," imbuhnya.
Bagikan ke:
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on LinkedIn
Share on Whatsapp
Silahkan login untuk memberikan komentar

Login atau Daftar
Tentang kami
Redaksi
Pedoman Media Siber
Disclaimer
Privacy Policy
Kontak
©Validnews 2022 All rights reserved.

source