IRAN, RADARJEMBER.ID – Kematian Mahsa Amini menjadi kontroversi karena sebelum meninggal, Amini tidak memakai hijab dengan benar dan ditangkap polisi moral. Laporan Alarabiya News, Mahsa Amini adalah perempuan Iran ditangkap oleh polisi setempat.
BACA JUGA : Asrama Brimob Sukoharjo Terkena Ledakan Bubuk Petasan Sitaan
Karena ia tidak memakai hijab. Setelah ditangkap pada Selasa (13/9), Mahsa Amini sempat dirawat di rumah sakit karena kesehatan menurun hingga mengalami koma. Aktivis menduga Amini dipukuli polisi selama berada di dalam tahanan.
Hal itu membuat Amini luka serius hingga meninggal dunia di rumah sakit. Secara resmi tercatat 41 orang telah tewas sejak aksi unjuk rasa dimulai dan berakhir ricuh, pasca kematian Pasha Amini.
Kelompok Hak Asasi Manusia Iran (IHR)  berbasis di Norwegia mengatakan pada Minggu malam bahwa jumlah korban tewas lebih banyak setidaknya 57 jiwa. Foto-foto diedarkan oleh IHR menunjukkan pengunjuk rasa di jalan-jalan di Teheran meneriakkan ‘matilah diktator’.
Ratusan demonstran, aktivis reformis, dan jurnalis telah ditangkap di tengah demonstrasi yang sebagian besar terjadi pada malam hari sejak kerusuhan pertama pecah setelah kematian Amini, 22, dalam tahanan polisi pada 16 September.
Iran telah memanggil Duta Besar Inggris dan Norwegia. Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan pihaknya memperjuangkan kebebasan media dan mengutuk tindakan keras pemerintah Iran terhadap pengunjuk rasa, jurnalis, dan kebebasan internet. (*)
Editor: Winardyasto HariKirono
Foto:Istimewa
Sumber Berita:jawapos.com
 
IRAN, RADARJEMBER.ID – Kematian Mahsa Amini menjadi kontroversi karena sebelum meninggal, Amini tidak memakai hijab dengan benar dan ditangkap polisi moral. Laporan Alarabiya News, Mahsa Amini adalah perempuan Iran ditangkap oleh polisi setempat.
BACA JUGA : Asrama Brimob Sukoharjo Terkena Ledakan Bubuk Petasan Sitaan
Karena ia tidak memakai hijab. Setelah ditangkap pada Selasa (13/9), Mahsa Amini sempat dirawat di rumah sakit karena kesehatan menurun hingga mengalami koma. Aktivis menduga Amini dipukuli polisi selama berada di dalam tahanan.
Hal itu membuat Amini luka serius hingga meninggal dunia di rumah sakit. Secara resmi tercatat 41 orang telah tewas sejak aksi unjuk rasa dimulai dan berakhir ricuh, pasca kematian Pasha Amini.
Kelompok Hak Asasi Manusia Iran (IHR)  berbasis di Norwegia mengatakan pada Minggu malam bahwa jumlah korban tewas lebih banyak setidaknya 57 jiwa. Foto-foto diedarkan oleh IHR menunjukkan pengunjuk rasa di jalan-jalan di Teheran meneriakkan ‘matilah diktator’.
Ratusan demonstran, aktivis reformis, dan jurnalis telah ditangkap di tengah demonstrasi yang sebagian besar terjadi pada malam hari sejak kerusuhan pertama pecah setelah kematian Amini, 22, dalam tahanan polisi pada 16 September.
Iran telah memanggil Duta Besar Inggris dan Norwegia. Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan pihaknya memperjuangkan kebebasan media dan mengutuk tindakan keras pemerintah Iran terhadap pengunjuk rasa, jurnalis, dan kebebasan internet. (*)
Editor: Winardyasto HariKirono
Foto:Istimewa
Sumber Berita:jawapos.com
 
IRAN, RADARJEMBER.ID – Kematian Mahsa Amini menjadi kontroversi karena sebelum meninggal, Amini tidak memakai hijab dengan benar dan ditangkap polisi moral. Laporan Alarabiya News, Mahsa Amini adalah perempuan Iran ditangkap oleh polisi setempat.
BACA JUGA : Asrama Brimob Sukoharjo Terkena Ledakan Bubuk Petasan Sitaan
Karena ia tidak memakai hijab. Setelah ditangkap pada Selasa (13/9), Mahsa Amini sempat dirawat di rumah sakit karena kesehatan menurun hingga mengalami koma. Aktivis menduga Amini dipukuli polisi selama berada di dalam tahanan.
Hal itu membuat Amini luka serius hingga meninggal dunia di rumah sakit. Secara resmi tercatat 41 orang telah tewas sejak aksi unjuk rasa dimulai dan berakhir ricuh, pasca kematian Pasha Amini.
Kelompok Hak Asasi Manusia Iran (IHR)  berbasis di Norwegia mengatakan pada Minggu malam bahwa jumlah korban tewas lebih banyak setidaknya 57 jiwa. Foto-foto diedarkan oleh IHR menunjukkan pengunjuk rasa di jalan-jalan di Teheran meneriakkan ‘matilah diktator’.
Ratusan demonstran, aktivis reformis, dan jurnalis telah ditangkap di tengah demonstrasi yang sebagian besar terjadi pada malam hari sejak kerusuhan pertama pecah setelah kematian Amini, 22, dalam tahanan polisi pada 16 September.
Iran telah memanggil Duta Besar Inggris dan Norwegia. Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan pihaknya memperjuangkan kebebasan media dan mengutuk tindakan keras pemerintah Iran terhadap pengunjuk rasa, jurnalis, dan kebebasan internet. (*)
Editor: Winardyasto HariKirono
Foto:Istimewa
Sumber Berita:jawapos.com
 
Jl. Ahmad Yani No. 99 Jember
Telepon Redaksi: 0331-483545
Fax: 0331-486894
Email: radarjember.digital@gmail.com

source