JawaPos.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi sinyal akhir pandemi Covid-19 sudah di depan mata. Akan tetapi sejumlah negara di dunia masih berkutat dengan varian baru yang muncul. Ada lagi, kali ini dilaporkan oleh India, yakni subvarian Omicron BA.2.75.2 yang diyakini lebih menular.
Badan pengurutan genom India, INSACOG, telah memperingatkan bahwa Omicron’s BA.2.75, subvarian paling dominan saat ini di India, bermutasi lebih jauh dan mungkin menjadi lebih mudah menular dan menghindari kekebalan di masa depan.
Menurut laporan Times of India, koordinator pengurutan genom Maharashtra, dr Rajesh Karyakarte, telah mengonfirmasi bahwa varian BA.2.75 Covid bermutasi lebih jauh. Baru-baru ini, seorang ahli imunologi di Universitas Peking telah men-tweet bahwa BA.2.75.2 saat ini adalah strain yang paling menghindari kekebalan yang diuji sejauh ini.
“Varian ini berlomba-lomba untuk mendominasi dengan mengemas lebih banyak mutasi yang menghindari kekebalan,” kata ahli seperti dilansir dari Economic Times, Jumat (16/9).
Para ahli pertama kali mendeteksi varian ini di India pada bulan Mei, di mana ia dilaporkan menyebar lebih cepat daripada subvarian Omicron lainnya. BA.2.75 telah melahirkan apa yang telah ditetapkan sebagai BA.2.75.2. Subvarian BA.2.75.2 kini hadir di delapan negara termasuk India, Chili, Inggris, Singapura, Spanyol, dan Jerman.
Para ahli mengatakan, BA.2.75.2 juga mencoba untuk memantapkan dirinya di antara subgaris keturunan Omicron lainnya dengan mengambil lebih banyak mutasi. BA.2.75 dan turunannya saat ini ditemukan di 90 persen sampel pasien yang diurutkan di Maharashtra.
Seberapa Bahaya Subvarian Ini?
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan dunia masih berkutat dengan varian baru BA.2.75.2 subvarian Omicron di tengah varian BA.4 dan BA.5. Tantangannya, kata dia, subvarian itu menurunkan efikasi vaksin dan booster.
“Bicara India, dengan adanya subvarian itu ternyata memicu penularan dengan gejala.
Orang yang mengalami keluhan meningkat. Di Indonesia, kita diuntungkan dengan jumlah dewasa muda kita yang banyak,” ungkap Dicky kepada JawaPos.com, Jumat (16/9).
Ia mengingatkan adanya subvarian ini bisa saja membuat orang terinfeksi Covid-19 lebih dari 2 kali. Akan tetapi dengan adanya booster, lanjutnya, setiap individu lebih terlindungi.
“Proteksi dari vaksinasi dan dosis ketiga serta keempat jauh lebih penting, lebih kuat dibanding perlindungan dari terinfeksi. Vaksin yg ada saat ini masih layak jadi booster. Sebab BA.2.75.2 ini turunan BA 2.75 memiliki karakter yang mirip delta, tapi lebih berkembang dengan tingkat keparahan yang lebih rendah,” tegas Dicky.
JawaPos.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi sinyal akhir pandemi Covid-19 sudah di depan mata. Akan tetapi sejumlah negara di dunia masih berkutat dengan varian baru yang muncul. Ada lagi, kali ini dilaporkan oleh India, yakni subvarian Omicron BA.2.75.2 yang diyakini lebih menular.
Badan pengurutan genom India, INSACOG, telah memperingatkan bahwa Omicron’s BA.2.75, subvarian paling dominan saat ini di India, bermutasi lebih jauh dan mungkin menjadi lebih mudah menular dan menghindari kekebalan di masa depan.
Menurut laporan Times of India, koordinator pengurutan genom Maharashtra, dr Rajesh Karyakarte, telah mengonfirmasi bahwa varian BA.2.75 Covid bermutasi lebih jauh. Baru-baru ini, seorang ahli imunologi di Universitas Peking telah men-tweet bahwa BA.2.75.2 saat ini adalah strain yang paling menghindari kekebalan yang diuji sejauh ini.
“Varian ini berlomba-lomba untuk mendominasi dengan mengemas lebih banyak mutasi yang menghindari kekebalan,” kata ahli seperti dilansir dari Economic Times, Jumat (16/9).
Para ahli pertama kali mendeteksi varian ini di India pada bulan Mei, di mana ia dilaporkan menyebar lebih cepat daripada subvarian Omicron lainnya. BA.2.75 telah melahirkan apa yang telah ditetapkan sebagai BA.2.75.2. Subvarian BA.2.75.2 kini hadir di delapan negara termasuk India, Chili, Inggris, Singapura, Spanyol, dan Jerman.
Para ahli mengatakan, BA.2.75.2 juga mencoba untuk memantapkan dirinya di antara subgaris keturunan Omicron lainnya dengan mengambil lebih banyak mutasi. BA.2.75 dan turunannya saat ini ditemukan di 90 persen sampel pasien yang diurutkan di Maharashtra.
Seberapa Bahaya Subvarian Ini?
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan dunia masih berkutat dengan varian baru BA.2.75.2 subvarian Omicron di tengah varian BA.4 dan BA.5. Tantangannya, kata dia, subvarian itu menurunkan efikasi vaksin dan booster.
“Bicara India, dengan adanya subvarian itu ternyata memicu penularan dengan gejala.
Orang yang mengalami keluhan meningkat. Di Indonesia, kita diuntungkan dengan jumlah dewasa muda kita yang banyak,” ungkap Dicky kepada JawaPos.com, Jumat (16/9).
Ia mengingatkan adanya subvarian ini bisa saja membuat orang terinfeksi Covid-19 lebih dari 2 kali. Akan tetapi dengan adanya booster, lanjutnya, setiap individu lebih terlindungi.
“Proteksi dari vaksinasi dan dosis ketiga serta keempat jauh lebih penting, lebih kuat dibanding perlindungan dari terinfeksi. Vaksin yg ada saat ini masih layak jadi booster. Sebab BA.2.75.2 ini turunan BA 2.75 memiliki karakter yang mirip delta, tapi lebih berkembang dengan tingkat keparahan yang lebih rendah,” tegas Dicky.
Penerbit : PT Surakarta Intermedia Pers
Alamat : Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 37 Surakarta