Disebabkan Usia Menua dan Putus Asa
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sebanyak 76 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Mojokerto meninggal dunia sejak 12 tahun terakhir. Selain disebabkan usia, tak sedikit penderita yang putus asa dan memutuskan berhenti dari pengobatan.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Agus Dwi Cahyono mengatakan, sejak 2010, total kematian ODHA tercatat ada 76 kasus. Mereka tersebar di 18 kecamatan. ’’Sesuai data Dinkes, dalam kurun waktu 12 tahun sudah ada 76 kematian ODHA. Korbannya tersebar di semua kecamatan,’’ ujarnya.
Mantan Kepala Puskesmas Pungging ini menuturkan, penyebab meninggalnya ODHA dikarenakan faktor usia dan mangkir pengobatan. Karena harus menjalani pengobatan seumur hidup, lanjut dia, maka tak heran beberapa penderita memilih untuk berhenti mengonsumsi obat ARV. Padahal, dengan konsumsi obat tersebut, mereka bisa membantu memutus rantai penularan HIV/AIDS serta memperpanjang harapan hidup.
’’Yang diperlukan dalam penanganan kasus ODHA ini, lebih intensif terhadap pendampingannya. Termasuk saat konsumsi obat itu, kita menggandeng KPA untuk melakukan pengawasan dan pendampingan sehingga menekan angka kematian ODHA,’’ paparnya.
Terkait antisipasi bertambahnya kasus HIV/AIDS, Agus mengatakan, pihaknya terus melakukan antisipasi dengan cara memutus mata rantai penyebaran penyakit mematikan tersebut. Selain skrining di lingkup masyarakat, pihaknya juga menggandeng PMI dalam kewaspadaan penularan HIV/AIDS melalui transfusi darah. ’’Biasanya kalau ada pendonor yang ternyata ada indikasi HIV, PMI langsung mengkontak puskesmas domisili yang berdekatan untuk dilakukan tes lanjutan,’’ papar dia.
Sementara itu, di PMI Kabupaten Mojokerto, tercatat sepanjang tahun 2022, sudah ada tujuh kantong darah yang dimusnahkan. Pasalnya, ketujuh kantong darah ini terindikasi dari penyakit HIV. ’’Dari Januari-Juli ini, sudah ada tujuh kantong dari pendonor yang kita musnahkan. Karena terindikasi HIV dari hasil uji laboratorium,’’ ujar Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Mojokerto dr Bennharty.
Ben menyebutkan, pemusnahan tujuh kantong ini, juga ditindaklanjuti dengan laporan kepada masing-masing pendonor dari hasil diagnosa pemeriksaan laboratorium. Sehingga, usai memeriksa sampel, pendonor yang terindikasi HIV langsung dihubungi untuk segera melakukan pemeriksaan di faskes terdekat.
’’Kita juga hubungi puskesmas terdekat dari domisili pendonor, sehingga segera mendapat pemeriksaan. Ini juga sebagai upaya memutus penularan penyakit tersebut ke orang lain,’’ pungkasnya. (oce/fen)
Disebabkan Usia Menua dan Putus Asa
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sebanyak 76 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Mojokerto meninggal dunia sejak 12 tahun terakhir. Selain disebabkan usia, tak sedikit penderita yang putus asa dan memutuskan berhenti dari pengobatan.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Agus Dwi Cahyono mengatakan, sejak 2010, total kematian ODHA tercatat ada 76 kasus. Mereka tersebar di 18 kecamatan. ’’Sesuai data Dinkes, dalam kurun waktu 12 tahun sudah ada 76 kematian ODHA. Korbannya tersebar di semua kecamatan,’’ ujarnya.
Mantan Kepala Puskesmas Pungging ini menuturkan, penyebab meninggalnya ODHA dikarenakan faktor usia dan mangkir pengobatan. Karena harus menjalani pengobatan seumur hidup, lanjut dia, maka tak heran beberapa penderita memilih untuk berhenti mengonsumsi obat ARV. Padahal, dengan konsumsi obat tersebut, mereka bisa membantu memutus rantai penularan HIV/AIDS serta memperpanjang harapan hidup.
’’Yang diperlukan dalam penanganan kasus ODHA ini, lebih intensif terhadap pendampingannya. Termasuk saat konsumsi obat itu, kita menggandeng KPA untuk melakukan pengawasan dan pendampingan sehingga menekan angka kematian ODHA,’’ paparnya.
Terkait antisipasi bertambahnya kasus HIV/AIDS, Agus mengatakan, pihaknya terus melakukan antisipasi dengan cara memutus mata rantai penyebaran penyakit mematikan tersebut. Selain skrining di lingkup masyarakat, pihaknya juga menggandeng PMI dalam kewaspadaan penularan HIV/AIDS melalui transfusi darah. ’’Biasanya kalau ada pendonor yang ternyata ada indikasi HIV, PMI langsung mengkontak puskesmas domisili yang berdekatan untuk dilakukan tes lanjutan,’’ papar dia.
Sementara itu, di PMI Kabupaten Mojokerto, tercatat sepanjang tahun 2022, sudah ada tujuh kantong darah yang dimusnahkan. Pasalnya, ketujuh kantong darah ini terindikasi dari penyakit HIV. ’’Dari Januari-Juli ini, sudah ada tujuh kantong dari pendonor yang kita musnahkan. Karena terindikasi HIV dari hasil uji laboratorium,’’ ujar Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Mojokerto dr Bennharty.
Ben menyebutkan, pemusnahan tujuh kantong ini, juga ditindaklanjuti dengan laporan kepada masing-masing pendonor dari hasil diagnosa pemeriksaan laboratorium. Sehingga, usai memeriksa sampel, pendonor yang terindikasi HIV langsung dihubungi untuk segera melakukan pemeriksaan di faskes terdekat.
’’Kita juga hubungi puskesmas terdekat dari domisili pendonor, sehingga segera mendapat pemeriksaan. Ini juga sebagai upaya memutus penularan penyakit tersebut ke orang lain,’’ pungkasnya. (oce/fen)
PT Mojokerto Intermedia Pers
Jl R A Basuni No 96 Jampirogo
Sooko Mojokerto 61361
Telp. (0321) 322444
Email: radar.mojokerto@jawapos.com

source