Paling Banyak di Kranggan, Pernikahan Dini Turut Jadi Faktor Penyebab
KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan anak di kota yang mengalami gangguan tumbuh kembang alias stunting. Separo kasus tersebut terdapat di Kecamatan Kranggan.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto dr Triastutik Sri Prastini mengatakan, berdasarkan laporan puskesmas per Agustus ini, tercatat 416 anak mengalami stunting. Sebanyak 208 kasus di antaranya berada di wilayah Kecamatan Kranggan. ’’Bulan lalu, Kecamatan Magersari yang tinggi. Bulan ini, kasus stunting paling banyak di Kecamatan Kranggan. Memang setiap bulan datanya berjalan, jadi selalu berubah,’’ ujarnya.
Masih kata Trias, kasus stunting sejatinya menurun saban tahun. Tahun lalu tembus 6,9 persen dari jumlah total anak di Kota Mojokerto. Tahun ini, per agustus menurun hanya 5,59 persen. Meski turun tipis, kata dia, hal itu tetap dipandang apik. Sebab, tak mudah mengentaskan masalah tumbuh kembang anak. ’’Ada banyak faktor penyebab yang harus dicegah dengan penanganan maksimal,’’ ungkapnya.
dr Trias menuturkan, meski stunting tergolong genetik, bukan berarti tak bisa dicegah. Dokter spesialis anak ini menyebutkan, pemberian asupan gizi dan makanan sehat selama kehamilan hingga pasca melahirkan dapat diintensifkan. Upaya tersebut dapat menekan risiko stunting pada balita. ’’Bisa dicegah dengan penanganan saat sakit, selalu diberi gizi yang baik, dan selalu dipantau pertumbuhannya secara berkala,’’ terangnya.
Trias tak menampik, kasus stunting berkorelasi tinggi dengan tingkat kemiskinan masyarakat. Namun, bukan berarti kemiskinan menjadi penyumbang utama masalah kesehatan itu. Pemenuhan gizi tetap menjadi yang utama. Namun, itu juga harus ditambah dengan pemahaman orang tua dan lingkungan.
’’Kemiskinan itu bagian dari stunting, tapi keterampilan dan pengetahuan ibu hamil juga penting,’’ tegas mantan Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo ini.
Trias menambahkan, kesehatan calon pengantin (catin) turut menjadi faktor. Pihaknya mengaku bakal intens melakukan pemantauan kesehatan bakal catin. Bahkan, pemenuhan gizi dan sosialisasi itu dilakukan sejak usia sekolah.
’’Sehingga, dalam audit kemarin, semua sektor dibutuhkan untuk memberantas kasus stunting. Termasuk peranan dalam menekan pernikahan dini yang juga melibatkan banyak sektor. Kami harap, sinergi dari OPD lain juga bisa membantu pemberantasan stunting ini,’’ pungkasnya. (oce/fen)
Paling Banyak di Kranggan, Pernikahan Dini Turut Jadi Faktor Penyebab
KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan anak di kota yang mengalami gangguan tumbuh kembang alias stunting. Separo kasus tersebut terdapat di Kecamatan Kranggan.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto dr Triastutik Sri Prastini mengatakan, berdasarkan laporan puskesmas per Agustus ini, tercatat 416 anak mengalami stunting. Sebanyak 208 kasus di antaranya berada di wilayah Kecamatan Kranggan. ’’Bulan lalu, Kecamatan Magersari yang tinggi. Bulan ini, kasus stunting paling banyak di Kecamatan Kranggan. Memang setiap bulan datanya berjalan, jadi selalu berubah,’’ ujarnya.
Masih kata Trias, kasus stunting sejatinya menurun saban tahun. Tahun lalu tembus 6,9 persen dari jumlah total anak di Kota Mojokerto. Tahun ini, per agustus menurun hanya 5,59 persen. Meski turun tipis, kata dia, hal itu tetap dipandang apik. Sebab, tak mudah mengentaskan masalah tumbuh kembang anak. ’’Ada banyak faktor penyebab yang harus dicegah dengan penanganan maksimal,’’ ungkapnya.
dr Trias menuturkan, meski stunting tergolong genetik, bukan berarti tak bisa dicegah. Dokter spesialis anak ini menyebutkan, pemberian asupan gizi dan makanan sehat selama kehamilan hingga pasca melahirkan dapat diintensifkan. Upaya tersebut dapat menekan risiko stunting pada balita. ’’Bisa dicegah dengan penanganan saat sakit, selalu diberi gizi yang baik, dan selalu dipantau pertumbuhannya secara berkala,’’ terangnya.
Trias tak menampik, kasus stunting berkorelasi tinggi dengan tingkat kemiskinan masyarakat. Namun, bukan berarti kemiskinan menjadi penyumbang utama masalah kesehatan itu. Pemenuhan gizi tetap menjadi yang utama. Namun, itu juga harus ditambah dengan pemahaman orang tua dan lingkungan.
’’Kemiskinan itu bagian dari stunting, tapi keterampilan dan pengetahuan ibu hamil juga penting,’’ tegas mantan Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo ini.
Trias menambahkan, kesehatan calon pengantin (catin) turut menjadi faktor. Pihaknya mengaku bakal intens melakukan pemantauan kesehatan bakal catin. Bahkan, pemenuhan gizi dan sosialisasi itu dilakukan sejak usia sekolah.
’’Sehingga, dalam audit kemarin, semua sektor dibutuhkan untuk memberantas kasus stunting. Termasuk peranan dalam menekan pernikahan dini yang juga melibatkan banyak sektor. Kami harap, sinergi dari OPD lain juga bisa membantu pemberantasan stunting ini,’’ pungkasnya. (oce/fen)
PT Mojokerto Intermedia Pers
Jl R A Basuni No 96 Jampirogo
Sooko Mojokerto 61361
Email: radar.mojokerto@jawapos.com

source