JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa di Indonesia belum ada kasus cacar monyet atau monkeypox. Meski demikian, kewaspadaan terus dilakukan karena Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan penyakit itu sebagai public health emergency of international concern (PHEIC).
Sikap pemerintah menghadapi kasus cacar monyet tersebut disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Dia mengatakan, laporan terkini dari Kemenkes menyebutkan, belum ada bukti kasus cacar monyet di Indonesia. ”Tetapi, pemerintah tetap melakukan antisipasi,” ujarnya kemarin (27/7).
Secara internasional, dilaporkan sudah ada 17.156 kasus monkeypox. Juru Bicara Kemenkes Mohamad Syahril menyatakan, sudah ada 75 negara yang melaporkan adanya kasus itu. Dua di antaranya adalah Singapura dan Australia. ”(Sebanyak) 99,5 persen pasiennya laki-laki. Ada yang memiliki riwayat status HIV positif,” ucapnya. Dari jumlah kasus tersebut, lima orang mengalami kematian akibat penyakit itu.
Plt Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes Endang Budi Hastuti pada kesempatan yang sama menjelaskan, pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) tetap dipantau. Skriningnya lewat pemantauan suhu. ”Hampir mirip dengan Covid-19,” bebernya.
Penemuan kasus monkeypox di Singapura memunculkan kekhawatiran penyakit itu masuk ke Indonesia. Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia dr Adityo Susilo SpPD menuturkan, masyarakat juga perlu mewaspadai kemungkinan masuknya virus tersebut ke Indonesia. Risiko fatalitas cacar monyet ini dikatakan lebih tinggi pada kelompok anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan imunitas rendah.
Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI dr Agus Dwi Susanto SpP(K) mengatakan, pemahaman terhadap infeksi cacar monyet dan kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa (KLB) dapat mencegah persebaran di Indonesia. Agus juga meminta tenaga kesehatan yang menemukan gejala cacar monyet pada pasien segera melakukan tindak lanjut dengan tes PCR. ”Segera melapor ke dinas kesehatan setempat agar bisa segera dilakukan surveilans dan tindakan lebih lanjut,” tuturnya.
JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa di Indonesia belum ada kasus cacar monyet atau monkeypox. Meski demikian, kewaspadaan terus dilakukan karena Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan penyakit itu sebagai public health emergency of international concern (PHEIC).
Sikap pemerintah menghadapi kasus cacar monyet tersebut disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Dia mengatakan, laporan terkini dari Kemenkes menyebutkan, belum ada bukti kasus cacar monyet di Indonesia. ”Tetapi, pemerintah tetap melakukan antisipasi,” ujarnya kemarin (27/7).
Secara internasional, dilaporkan sudah ada 17.156 kasus monkeypox. Juru Bicara Kemenkes Mohamad Syahril menyatakan, sudah ada 75 negara yang melaporkan adanya kasus itu. Dua di antaranya adalah Singapura dan Australia. ”(Sebanyak) 99,5 persen pasiennya laki-laki. Ada yang memiliki riwayat status HIV positif,” ucapnya. Dari jumlah kasus tersebut, lima orang mengalami kematian akibat penyakit itu.
Plt Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes Endang Budi Hastuti pada kesempatan yang sama menjelaskan, pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) tetap dipantau. Skriningnya lewat pemantauan suhu. ”Hampir mirip dengan Covid-19,” bebernya.
Penemuan kasus monkeypox di Singapura memunculkan kekhawatiran penyakit itu masuk ke Indonesia. Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia dr Adityo Susilo SpPD menuturkan, masyarakat juga perlu mewaspadai kemungkinan masuknya virus tersebut ke Indonesia. Risiko fatalitas cacar monyet ini dikatakan lebih tinggi pada kelompok anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan imunitas rendah.
Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI dr Agus Dwi Susanto SpP(K) mengatakan, pemahaman terhadap infeksi cacar monyet dan kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa (KLB) dapat mencegah persebaran di Indonesia. Agus juga meminta tenaga kesehatan yang menemukan gejala cacar monyet pada pasien segera melakukan tindak lanjut dengan tes PCR. ”Segera melapor ke dinas kesehatan setempat agar bisa segera dilakukan surveilans dan tindakan lebih lanjut,” tuturnya.
Penerbit : PT Surakarta Intermedia Pers
Alamat : Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 37 Surakarta