Suara.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendukung penuh percepatan implementasi program ini dan mensupervisi pembangunan pabrik Minyak Makan Merah. Dukungan itu dilakukan agar sesuai dengan Good Manufacturing Practice (cara memproduksi pangan yang baik.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala BPOM Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP, saat mengunjungi langsung Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di Medan Sumatra Utara.
Sebagai informasi, PPKS telah menghasilkan inovasi yang diharapkan menjadi upaya dan langkah baru dalam rangka pengentasan stunting sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Produk inovasi tersebut adalah Minyak Makan Merah.
Penny menekankan bahwa proses supervisi dalam rangka mendapatkan izin edar tersebut tidak berbiaya atau gratis. Selanjutnya, PPKS dan BPOM akan terus berkoordinasi agar upaya mewujudkan pabrik Minyak Makan Merah dapat segera terealisasi dan produknya dapat terjamin untuk dikonsumsi masyarakat.
Baca Juga: BPOM Diminta Tak Hanya Labeli Satu Kemasan Plastik Saja, Kenapa?
Minyak Makan Merah memiliki beberapa keunggulan, seperti proses pengolahan yang sederhana dan murah; instalasi pengolahan dapat dibangun di remote area sehingga distribusi dan biaya logistik menjadi lebih murah; memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik sehingga dapat menjadi solusi untuk pemenuhan zat gizi bagi masyarakat Indonesia.
“Serta yang tak kalah penting adalah dapat dikembangkan pada skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau Koperasi, sehingga berpotensi meningkatkan nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan pekebun,” kata Mahmudi, Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) yang  dalam keterangannya, Senin, (22/8/2022). 
Proses produksi yang relatif sederhana tetapi tidak mengurangi standar mutu dan keamanan pangan, memungkinkan inovasi ini diimplementasikan oleh petani sawit rakyat maupun skala koperasi dan UMKM. Bahan baku minyak sawit (CPO) yang melimpah di Indonesia dan berasal dari benih unggul kelapa sawit (varietas PPKS) menjamin ketersediaan produksi serta nilai nutrisi alami minyak kelapa sawit tetap terjaga tanpa adanya tambahan zat atau bahan aditif lain.
Hasil inovasi Minyak Makan Merah yang diketuai Dr. Frida R. Panjaitan ini memiliki kandungan fitonutrien, antara lain: karoten (sebagai pro-vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (sebagai vitamin E), dan squalene.
Kepala PPKS, Dr. Ir. H. M. Edwin S. Lubis, M.Agr.Sc. menyatakan bahwa Minyak Makan Merah berpotensi digunakan sebagai pangan fungsional. Sesuai digunakan untuk menumis bahan pangan, salad dressing, serta bahan baku margarin dan shortening. Berbagai kandungan nutrisi ini membuat Minyak Makan Merah sebagai salah satu bahan pangan untuk anti stunting.
Baca Juga: Komisi IX: Siap Dukung Pemerintah Hapus Stunting dari Indonesia
“Kandungan asam oleat dan asam linoleat dalam Minyak Makan Merah, berfungsi untuk pembentukan dan perkembangan otak, transportasi dan metabolisme pada anak,” ucap Edwin.
Penelitian menemukan hasrat seksual wanita terhadap suaminya akan menurun setela
Bintik kecil kehitaman atau cokelat pada kulit biasanya dianggap biasa oleh keba
Sang gadis merasa mendapat pesan cek kesehatan dari karyawan toko buku.
Dalam setiap video-nya, ia selalu memberi caption, “Hari ke-sekian memakan dagin
Sebuah paku besi tertancap di kandung kemih seorang pria, yang mengakibatkan dir
Bagaimana penularan demam berdarah?
Seorang anak balita menderita kanker mata serius setelah mengalami mata juling.
Mencegah penumpukan sampah makanan alias food waste sebenarnya bisa dilakukan mu
Kesehatan mental anak sangat penting karena ini merupakan proses dia beradaptasi
Ikuti Kami
Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda
© 2022 suara.com – All Rights Reserved.

source