KARANGANYAR – Untuk penanggulangan sejumlah penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar mengajukan anggaran Rp 3 miliar di APBD perubahan 2022.
Sekretaris Dinkes Kabupaten Karanganyar Arief Setyoko mengungkapkan, usulan anggaran ini untuk mengantisipasi risiko tinggi dalam persalinan. Serta menekan angka kematian ibu dan bayi. Menyusul dibangunannya pelayanan obstetri neonatal emergency dasar (Poned) di 10 puskesmas.
”Sekitar Rp 3 miliar yang diajukan selain untuk gaji PNS dan PPPK juga sebagai pendukung sarana dan prasarana, salah satunya penanggulangan risiko tinggi dalam persalinan dan perlengkapan untuk kegiatan fogging,” kata Arif.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Karanganyar Purwati mengungkapkan, data buletin epidemiologi Dinkes Karanganyar, perkembangan penyakit menular untuk demam berdarah dan chikungunya meningkat.
Hingga minggu ke-22 terdapat 507 kasus DBD. Delapan orang di antaranya meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut. Penyebaran kasus demam berdarah tertinggi terjadi di wilayah Kelurahan Cangakan, Kecamatan Karanganyar.
”Untuk kematian ada di kecamatan Jaten, Tasikmadu, Colomadu, Jumantono, dan Karanganyar. Kematian tertinggi di Tasikmadu, karena ada tiga orang yang meninggal dunia akibat serangan DBD tersebut,” kata Purwati.
Diharapkan setelah usulan anggaran tersebut disepakati, kembali digerakkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Melibatkan sejumlah kader kesehatan di desa. (rud/adi/dam)
KARANGANYAR – Untuk penanggulangan sejumlah penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar mengajukan anggaran Rp 3 miliar di APBD perubahan 2022.
Sekretaris Dinkes Kabupaten Karanganyar Arief Setyoko mengungkapkan, usulan anggaran ini untuk mengantisipasi risiko tinggi dalam persalinan. Serta menekan angka kematian ibu dan bayi. Menyusul dibangunannya pelayanan obstetri neonatal emergency dasar (Poned) di 10 puskesmas.
”Sekitar Rp 3 miliar yang diajukan selain untuk gaji PNS dan PPPK juga sebagai pendukung sarana dan prasarana, salah satunya penanggulangan risiko tinggi dalam persalinan dan perlengkapan untuk kegiatan fogging,” kata Arif.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Karanganyar Purwati mengungkapkan, data buletin epidemiologi Dinkes Karanganyar, perkembangan penyakit menular untuk demam berdarah dan chikungunya meningkat.
Hingga minggu ke-22 terdapat 507 kasus DBD. Delapan orang di antaranya meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut. Penyebaran kasus demam berdarah tertinggi terjadi di wilayah Kelurahan Cangakan, Kecamatan Karanganyar.
”Untuk kematian ada di kecamatan Jaten, Tasikmadu, Colomadu, Jumantono, dan Karanganyar. Kematian tertinggi di Tasikmadu, karena ada tiga orang yang meninggal dunia akibat serangan DBD tersebut,” kata Purwati.
Diharapkan setelah usulan anggaran tersebut disepakati, kembali digerakkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Melibatkan sejumlah kader kesehatan di desa. (rud/adi/dam)
Penerbit : PT Surakarta Intermedia Pers
Alamat : Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 37 Surakarta

source