JawaPos.com – Covid-19 tak bisa dianggap ringan. Sekalipun jika tertular lalu gejalanya ringan, tetap saja bisa menimbulkan potensi dampak gejala sisa jangka panjang atau Long Covid. Sebanyak 20 persen atau 1 dari 5 orang mengalami Long Covid seperti laporan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS.
Gejala Long Covid yang dialami misalnya batuk, sesak, hingga sakit kepala. Saat berjalan atau berlari, sebagian orang juga masih merasakan rasa terengah-engah.
“Memang dunia saat ini menghadapi ujian yang tak mudah ya. Menghadapi virus yang baru, dengan karakter jauh berbeda dari 100 tahun lalu, ini bandel nih virus ini, dengan begitu cepat bermutasi, lebih cepat daripada yang 100 tahun lalu,” kata Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Dicky menengarai bahwa mutasi yang saat ini semakin muncul itu akibat dari pengabaian negara di dunia dalam intervensi virus atau perilaku masyarakat memberi kesempatan bagi virus SARS-CoV-2 mudah bereplikasi dan bermutasi.
“Ini satu kondisi yang merugikan dan diciptakan kita sendiri. Inilah akan jadi catatan sejarah bagaimana kegagalan kita, dunia secara umum dalam meredam penularan Covid-19,” jelasnya.
Dicky mengutip hasil CDC bahwa dampak sebanyak 20 persen atau seperlima kasus yang pulih dan dinyatakan sembuh, berpotensi mengalami Long Covid. Situasi itu akan menjadi beban di masyarakat.
“Bicara 20 persen atau 1 dari 5, itu bicara jutaan orang lho. Itu akan jadi beban bukan hanya pemerintah satu negara tapi dunia. Paling tidak, 2 tahun ke depan atau tahun ini kita sudah melihat dampak Long Covid, apalagi kita akan lihat 5-10 tahun ke depan,” jelasnya.
Dicky menilai, Long Covid belum banyak menjadi perhatian negara. Padahal, kata dia, secara tak langsung menggambarkan kegagalan negara melakukan pencegahan.
“Dalam konteks membangun kewaspadaan, ini konsekuensi dari Covid-19 yang harus dihadapi semua. Supaya tak mengalaminya, harus dari sekarang lakukan manajemen risiko dan tegaskan bahwa pandemi belum berakhir, dampak masih ada bahkan saat pandemi dinyatakan berakhir,” tegasnya.
Editor : Edy Pramana
Reporter : Marieska Harya Virdhani
Saksikan video menarik berikut ini:
© PT Jawa Pos Grup Multimedia

source