Anda belum login
Anda belum login
Sign InorSign Up
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Email
Password
Nama
Email
Password
Ulangi Password
Pencarian
INVESTOR.id
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengingatkan potensi resesi karena kenaikan suku bunga acuan, pengetatan likuiditas, serta peningkatan harga pangan dan energi, yang menciptakan krisis tersendiri, sangat nyata bagi banyak negara.
"Saya berharap dalam kasus ini, Indonesia akan dapat terus menavigasi tantangan tambahan lainnya untuk ekonomi kita dan sekarang dalam ekonomi global," kata Sri Mulyani dalam Launching of the 2022-2025 IsDB Group’s Member Country Partnership Strategy (MCPS) for Indonesia, baru-baru ini.
Dalam konteks itu, ia menyebutkan strategi Indonesia pertama adalah mengatasi banyak masalah struktural termasuk kualitas sumber daya manusia, infrastruktur, produktivitas, dan daya saing.
Baca juga: Biden: AS Tidak Akan Resesi
Menangani masalah sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan, penelitian, inovasi, serta dalam hal kesehatan tentulah tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak cepat. Namun, tentunya hal tersebut akan membutuhkan konsistensi dalam jangka menengah panjang.
Selanjutnya, Bendahara Negara itu menambahkan, strategi kedua yakni tentang reformasi sistem kesehatan, dimana pandemi telah membuka aspek reformasi lain yang perlu dilakukan pada sistem kesehatan.
"Indonesia menjadi negara di antara beberapa negara di dunia yang berhasil mengelola pandemi, jika Anda mengukurnya di semua indikator. Tetapi ini tidak berarti bahwa kita telah selesai dengan sistem kesehatan kita," tuturnya.
Baca juga: Lebih Bagus dari RRT dengan Fundamental Kuat, Pemerintah Optimistis Indonesia Lolos dari Resesi
Mengarungi ancaman pandemi, yang kini diikuti oleh ancaman baru, kata Sri Mulyani, bukanlah tugas yang mudah bagi negara sebesar Indonesia.
Ancaman tersebut berupa meningkatnya inflasi akibat harga pangan dan energi akibat situasi geopolitik, meningkatnya inflasi di banyak negara maju dan berkembang, yang kemudian diikuti dengan pengetatan kebijakan moneter yaitu kenaikan suku bunga serta pengetatan likuiditas.
"Ini dengan sendirinya akan menciptakan tambahan yang sangat, sangat berpotensi mengganggu banyak perekonomian, terutama mereka yang sudah dalam situasi yang sangat rapuh," ungkap Sri Mulyani.
Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Sumber : ANTARA
Berita Terkait
Mencegah Krisis AS Menular ke Indonesia
Rasio Utang RI Lebih Rendah dari Negara Lain
Meningkat, Pemerintah Gelontorkan Rp 96,4 Triliun untuk Belanja Subsidi
Sri Mulyani Girang APBN Semester I Surplus Rp 73,6 Triliun
Terpopuler
01
MNC Investama (BHIT) Ganti Nama, Hary Tanoe Jadi Dirut, Mantan Ketua BPK Komutnya
Jumat, 29 Juli 2022 | 08:00 WIB
02
Tinggal Santuy, Lo Kheng Hong Sepekan Cuan Rp 124 Miliar dari Saham BMTR
Jumat, 29 Juli 2022 | 16:46 WIB
03
Sido Muncul (SIDO) Penjualannya Turun Tipis, Tapi Dampaknya ke Laba Lumayan
Jumat, 29 Juli 2022 | 11:32 WIB
04
Saham Global Mediacom (BMTR) Terbang, Apa Kabar Lo Kheng Hong?
Jumat, 29 Juli 2022 | 12:50 WIB
05
Global Mediacom (BMTR) dan MNCN Dikabarkan akan Merger, Bagaimana Prospek Sahamnya?
Jumat, 29 Juli 2022 | 10:02 WIB
Terkini
Dana Abadi Strategi Wujudkan Pendidikan Tinggi Indonesia Berkelas Dunia
Sabtu, 30 Juli 2022 | 23:12 WIB
Kemenperin dan Lippo Cikarang ‎Gelar Seminar Eco Industrial Park
Sabtu, 30 Juli 2022 | 22:33 WIB
PGRI Dorong Pemerintah Tuntaskan Pengangkatan Guru Honorer Jadi ASN
Sabtu, 30 Juli 2022 | 22:12 WIB
DPR Terus Pantau Penyekapan 60 Pekerja MigranKorban TPPO di Kamboja
Sabtu, 30 Juli 2022 | 21:52 WIB
Moeldoko Promosikan Sorgum Jadi Alternatif Pangan
Sabtu, 30 Juli 2022 | 21:39 WIB
Copyright ©2022 Investor Daily. All Rights Reserved

source