Jump to navigation
PANGKALPINANG – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr. Andri Nurtito, MARS menjelaskan diperlukan integrasi antarprogram dalam upaya penemuan kasus tuberkulosis (TB). Hal ini diungkapkannya saat membuka Workshop Integrasi Program Penanggulangan Tuberkulosis bagi Tenaga Kesehatan Kabupaten Kota, yang diselenggarakan di Sun Hotel, Rabu (20/07/2022).
“Penemuan kasus TB komorbid (HIV dan DM) serta TB pada kelompok berisiko tinggi masih rendah di FKTP dan FKRTL. Hal ini disebabkan integrasi antarprogram yang kurang optimal dan jejaring layanan yang belum maksimal,” jelasnya.
“Salah satu upaya untuk memaksimalkan penemuan kasus TB komorbid dan TB pada kelompok berisiko tinggi adalah dengan penguatan kompetensi petugas lintas program dan layanan terkait tata laksana TB,” lanjut Andri.
Berdasarkan data tahun 2021, lanjut Andri, jumlah penemuan kasus TB di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 1.556 kasus dengan jumlah kasus TB HIV sebanyak 51 kasus (3,3 persen) dan kasus TB DM sebanyak 174 kasus (11,2 persen).
Lebih lanjut, Andri menjelaskan bahwa TB masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. 
“Menurut laporan WHO, Indonesia menempati peringkat tertinggi kedua di dunia terkait angka kejadian tuberkulosis. Insidensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2021 adalah 252 per 100.000 penduduk atau diperkirakan sekitar 845.000 penduduk menderita tuberkulosis. Estimasi jumlah kasus TB-HIV di Indonesia pada tahun 2021 adalah 19.000,” tuturnya.
“Dengan demikian, peningkatan kapasitas sumber daya manusia program TB menjadi penting untuk pemenuhan tenaga terampil di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan di fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Andri.
Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Babel, Ira Ajeng Astried menjelaskan bahwa personal yang paling berisiko sakit TB, antara lain anak-anak, orang dengan HIV/AIDS, usia lanjut, penyandang diabetes melitus, perokok, dan orang yang berkontak erat dengan kasus TB. 
Tujuh dari 100 pasien pasien TB biasanya terinfeksi HIV, ujarnya. “Orang usia lanjut dan ibu hamil juga memiliki kekebalan tubuh yang lemah sehingga lebih berisik untuk terinfeksi penyakit, termasuk TB. Ibu hamil yang terinfeksi TB juga berdampak pada janin yang dikandung,” lanjutnya.
“Kekurangan gizi dan diabetes melitus diperkirakan berkontribusi masing-masing lebih dari 120.000 dan 25.000 kasus TB. Penyandang diabetes melitus mempunyai risiko 2-3 kali sakit TB dan dapat berisik kambuh atau kematian akibat TB,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjut Ira, diperlukan kegiatan pengembangan kompetensi seperti workshop yang sekarang sedang dilaksanakan. “Tenaga kesehatan di kabupaten/kota tingkat rumah sakit dan puskesmas dapat memahami materi mengenai tata laksana TB, baik komorbid maupun kelompok berisiko, dalam pelaksanaan layanan terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan,” pungkas Ira.
 
Komplek Perkantoran Terpadu
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Air Itam, Pangkalpinang
Bangka 33684
Telp. +62(0717) 4262141
Fax. +62(0717) 4262143
Email : dinkes@babelprov.go.id

source