Regional
Kategori
Event
Channels
DOWNLOAD IDN APP SEKARANG!
Kota Tangerang, IDN Times – Kepala Bidang Pemerintahan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Provinsi Banten Ahmad Rohili mengungkapkan, kasus stunting atau kekerdilan di Kota Tangerang sekitar 15,3 persen.
Hal itu, kata dia, berdasarkan data agregat dari sampel yang diambil melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI.
Sementara itu, berdasarkan Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), angka stunting Kota Tangerang diangka 8,03 persen. Angka ini pun sudah turun dari 9,65 persen pada 2020 lalu. Ini merupakan data by name by address yang dilakukan Puskesmas melalui pelayanan Posyandu di seluruh daerah.
“Kami apresiasi Kota Tangerang. Dengan angka stunting 15,3 persen, pasalnya ini di bawah angka Provinsi bahkan Nasional. Namun, baik data SSGI dan E-PPGBM tetap menjadi acuan kota kabupaten untuk terus menekan angka stunting,” kata Ahmad Rohili, Kamis (28/7/2022).
Sebagaimana diketahui, Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) mencatat, Provinsi Banten menempati posisi lima besar daerah dengan angka balita stunting tertinggi se-Indonesia. Sebanyak 294.862 balita di tanah Jawara menderita stunting atau kekerdilan.
Baca Juga: 294.862 Balita di Banten Alami Stunting, Tertinggi Ada di Pandeglang
Ia menuturkan, apa yang dilakukan Kota Tangerang sudah sangat baik. Sebab, dalam penanganan stunting, Kota Tangerang benar-benar melakukannya secara terstruktur, mulai dari pendataan, penentuan lokus stunting, perencanaan pada jajaran OPD terkait, hingga pendampingan target sasaran.
“Kalau dilihat langsung ke Kota Tangerang, secara umum Kota Tangerang sangat rapi. Tak hanya pada programnya, tapi sektor-sektor pendukungnya, seperti taman-taman yang mendukung tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Rohili menjelaskan ada lima klaster penilaian pada Kota Layak Anak. Diantaranya, Hak sipil dan kebebasan, Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, Kesehatan dasar dan kesejahteraan, Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya serta Perlindungan khusus.
“Dalam lima klaster tersebut, Kota Tangerang berhasil meraih skor hingga 964 poin. Dimana, penurunan angka stunting dipahami menjadi tanggung jawab semua pihak, tak hanya satu dua OPD semata,” katanya.
Ia berharap, Kota Tangerang bisa terus maksimalkan program penurunan angka stunting dan gizi buruk. sebab, peran serta kota kabupaten sangat dibutuhkan untuk mendukung angka penurunan angka stunting di Provinsi hingga nasional.
“Harapannya, lewat aksi Kota Tangerang dan tujuh kota kabupaten lainnya bisa mendukung target Provinsi Banten dengan 19,25 persen pada 2023 dan target Nasional dengan 14 persen pada 2024 mendatang,” harapnya.
Baca Juga: Arief Minta Perusahaan di Kota Tangerang Ikut dalam Virtual Job Fair
kamu sudah cukup umur belum ?