DEPOK POS – Masa remaja menjadi fase yang krusial dan kritis yang terjadi dalam kehidupan manusia. Masa remaja ditandai dengan perkembangan biologis, emosional, sosial hingga perkembangan intelektual yang signifikan.
Tidak jarang, perkembangan tersebut juga diikuti dengan perubahan besar dalam kesehatan dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan seperti merokok dan penyalahgunaan zat, perilaku seksual yang tidak aman, gaya hidup yang tidak sehat dimana secara substansial dapat berdampak pada hasil kesehatan di kemudian hari. Seiring dengan perkembangan remaja, masalah-masalah lain dapat terjadi khsusunya pada permasalahan TRIAD KKR (Seksualitas, HIV dan AIDS serta Napza) serta pengetahuan remaja mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja yang rendah.
Masa remaja juga menjadi masa yang membuat setiap orang akan mengembangkan kemampuan dan mengasah keterampilan yang diperlukan guna mencapai hidup yang sehat, produktif dan memuaskan di masa depan.
Oleh karena itu, dalam rangka melakukan transisi remaja yang sehat menuju dewasa, remaja membutuhkan kemudahan akses terhadap berbagai layanan seperti pendidikan maupun kesehatan dimana di dalamnya termasuk pada pendidikan tentang seksualitas hingga kesempatan mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Pentingnya Peran Remaja di Masa Depan
Remaja juga ditetapkan menjadi populasi yang memiliki jumlah besar dari penduduk dunia. Data yang diterbitkan UNICEF pada Tahun 2021 menyebutkan dari total 270.203.917 junlah populasi di Indonesia, 46 Juta diantaranya merupakan remaja yang berada pada rentang usia 10 hingga 19 tahun.
Untuk itu, melihat jumlah yang begitu besar, generasi remaja sebagai penerus bangsa perlu dipersiapkan untuk menjadi manusia yang sehat dan produktif. Peran remaja yang penting dalam menentukan masa depan bangsa dan negara membuat pertumbuhan dan perkembangan seseorang pada fase remaja menjadi perhatian.
Bahkan menurut WHO, kesehatan pada remaja merupakan investasi karena mereka akan menghasilkan tiga keuntungan yaitu remaja sekarang; untuk masa depan mereka dan untuk generasi berikutnya. Investasi tersebut tentunya dapat memberikan dampak jangka panjang seperti dapat mengurangi kemiskinan dengan meningkatkan kemampuan ekonomi remaja yang bermanfaat bagi mereka.
Bagi remaja putri, mereka dapat menghindari kejadian kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) sehingga menimbulkan peningkatan kesehatan, kesempatan yang lebih baik untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan mengembangkan kemampuan mereka, hingga pencegahan aborsi yang tidak aman dan mengurangi isolasi sosial.
Kompleksitas permasalahan remaja juga menuntut pemerintah dan berbagai pihak harus membuat program dengan solusi multisektoral yang dapat menghubungkan intervensi sektor kesehatan dengan jenis intervensi lain yang berkaitan dengan permasalahan remaja.
Peran Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dalam Mewujudkan Remaja Sehat
Melihat berbagai pertimbangan diatas membuat Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan pada tahun 2003 mengembangkan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitataf mengenai masalah remaja dengan program kesehatan remaja yang dikenal sebagai Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).
Pelayanan yang terdapat pada program PKPR juga terdiri dari konseling, peningkatan kemampuan remaja melalui Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS), KIE, pembinaan konseling sebaya, pelayanan klinis/medis dan rujukan, pelayanan kesehatan reproduksi, pencegahan dan penanggulangan NAPZA, pelayanan gizi, serta pemberdayaan remaja memalui keikutsertaan remaja dalam kegiatan kesehatan.
Pembentukan program PKPR didasarkan pada UU RI No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 136 yang menyebutkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan remaja harus ditujukan untuk mempersiapkan menjadi orang dewasa yang sehat dan produktif baik sosial maupun ekonomi.
Selain itu, pasal 137 juga menjelaskan bahwa Pemerintah berkewajiban menjamin agar remaja dapat memperoleh edukasi, informasi, dan layanan mengenai kesehatan remaja agar mampu hidup sehat dan bertanggung jawab.
Implementasi program PKPR terdiri dari banyak layanan seperti pencegahan dan penanggulangan anemia dan masalah gizi; tumbuh kembang remaja; kesehatan reproduksi remaja; pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan mental; pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA; pencegahan dan penanggulangan kekerasan; pencegahan, deteksi dan penanggulangan ISR, IMS; Pencegahan, deteksi dan penanggulangan HIV/AIDS; pencegahan, deteksi dan penanggulangan tuberculosis; pencegahan dan penanggulangan cacingan; skrining status TT remaja hingga pencegahan dan penanganan kehamilan remaja.
Dalam kegiatan promotif dan preventif, umumnya puskesmas akan memberikan penyuluhan dan edukasi mengenai materi PKPR pada remaja. Kegiatan kuratif juga dilakukan melalui pelayanan medis yang dilakukan di puskesmas sehingga berbagai permasalahn kesehatan remaja dapat teratasi. Selain kegiatan tersebut, banyak puskesmas saat ini yang mulai mengembangkan kegiatan Pelatihan Konselor Sebaya. Kegiatan tersebut dibuat dengan maksud agar penyebaran informasi mengenai materi PKPR pada remaja dapat dilakukan dengan komprehensif.
Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan remaja sehat dan produktif dibutuhkan optimalisasi program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja yang telah diimplementasikan tersebut. Pelayanan PKPR yang diberikan juga harus senyaman mungkin sesuai dengan kebutuhan remaja.
Pemerintah dan pihak terkait juga diharapkan dapat memberikan bantuan baik dari segi fisik maupun anggaran guna memaksimalkan pelaksanaan program PKPR. Jam pelayanan bagi program PKPR juga diharapkan lebih fleksibel seperti diberikan kemudahan akses melalui konsultasi via online dan jejaring lainnya sehingga remaja yang ingin memanfaatkan layanan tidak mengganggu jadwal sekolah.
Dengan demikian, remaja dapat memperoleh akses pelayanan PKPR dengan maksimal sehingga nantinya dapat dihasilkan remaja yang sehat, produktif dan berdaya guna di masa depan.
Fadia Shafa Angelika Hareni
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Penerapan Keluarga Sadar Gizi dalam Mengendalikan Stunting
Urgensi Pelayanan Kesehatan Tradisional dalam Meraih Kesehatan Nasional
Stop Bom Waktu dengan “One-Stop Shop” Layanan Kesehatan Jiwa
Jangan Sembarang Pasang Behel! Ahli Gigi dan Tukang Gigi Bukan Tenaga Kesehatan
Donor Darah, Kolaborasi Puskesmas dan PMI sebagai Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja
Implementasi Program CERDIK sebagai Langkah Pasti Cegah Hipertensi