Penurunan tengkes membutuhkan inovasi daerah berbasis kearifan lokal dan karakteristik wilayah setempat. Hal ini karena implementasi program sering kali tidak dapat disamakan untuk semua wilayah.
Wakil Presiden Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan secara virtual pada peluncuran buku berjudul Melangkah Maju: Inisiatif Lokal dalam Menurunkan Stunting di Indonesia, Selasa (31/5/2022).
JAKARTA, KOMPAS — Penurunan prevalensi tengkes atau stunting di Indonesia membutuhkan kerja keras, cerdas, dan kolaboratif dari semua pihak, baik di pusat maupun daerah. Inovasi daerah yang memanfaatkan kearifan lokal dan menyesuaikan berbagai karakteristik wilayah setempat dianggap penting dalam upaya menurunkan angka tengkes.
Merujuk Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi tengkes di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 36,8 persen, meningkat menjadi 37,2 persen pada tahun 2013, dan menurun menjadi 30,8 persen pada tahun 2018. Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) mencatat prevalensi tengkes pada tahun 2019 sebesar 27,7 persen. Adapun Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi tengkes di tahun 2021 sebesar 24,4 persen.
Harian Kompas adalah surat kabar Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Kompas diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara yang merupakan bagian dari kelompok usaha Kompas Gramedia (KG), yang didirikan oleh P.K. Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama sejak 28 Juni 1965.

Mengusung semboyan “Amanat Hati Nurani Rakyat”, Kompas dikenal sebagai sumber informasi tepercaya, akurat, dan mendalam.

source