TERNAK SEHAT: Keluarga Sukarman, warga Pendem, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih memperlakukan ternak sapi miliknya dengan penuh perhatian.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Sebanyak 307 ekor hewan ternak di Kabupaten Kulonprogo terserang penyakit mulut dan kuku (PMK). Ketersediaan stok obat-obatan pun semakin menipis. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulonprogo pun akhirnya mengusulkan sekitar 10 ribu dosis vaksin ke Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Estimasi kami sekitar 10 persen dari total populasi yang terpapar PMK, hewan-hewan tersebut butuh vaksin,” ucap Kepala DPP Kulonprogo, Aris Nugroho, Selasa (14/6).
Dijelaskan, usulan segera dikirimkan karena pemerintah pusat mendistribusikan ketersediaan vaksin sesuai skala prioritas untuk daerah yang sudah terkena wabah. Vaksin juga akan diprioritaskan untuk sapi perah, sapi potong, kambing dan domba.
“Sapi perah begitu kena PMK sulit memproduksi susu. Susunya tidak keluar, maka sapi perah prioritas utama untuk mendapatkan vaksin,” jelasnya.
Berdasarkan data, total populasi ternak di Kulonprogo ada 180.810 ekor. Rinciannya 56.412 ekor sapi, 60.950 ekor kambing lokal, 34.766 ekor kambing peranakan etawa (PE) dan 28.682 ekor domba. Terkait pemberian vaksin, DPP sudah melatih sejumlah dokter hewan sebagai vaksinator.
“Sebaran wabah PMK hampir merata, ada di 11 Kapanewon kecuali kapanewon Kokap. Hewan-hewan itu tersentral di kandang milik pedagang. Vaksinasi ini sebagai langkah untuk menekan persebaran kasus PMK di Kulonprogo,” ucapnya.
Ditambahkan, pihaknya juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan sejumlah instansi untuk obat-obatan yang bisa diberikan kepada 307 hewan ternak yang terpapar PMK. Adapun stok obat yang masih tersedia diantaranya vitamin ADE sebanyak 13 botol, antihistamin (84 botol), Roboransia (100 botol), antibiotik (41 botol), larvasid (28 botol) dan desinfektan (50 liter).
Aris mengimbau, para peternak tidak perlu panik dalam menghadapi PMK. Jangan tergesa-gesa menjual hewan ternak dengan harga murah, sebab PMK dalam perjalanan kasus masih bisa ditangani dan disembuhkan. Dari total 307 ekor ternak yang terkena PMK, 40 ekor dilaporkan sudah sembuh.
“Terpenting, ketika ada indikasi atau gejala klinis PMK, segera saja melaporkan, petugas kesehatan hewan sudah kami siapkan untuk menindaklanjuti,” ucapnya.
Penjabat (Pj) Bupati Kulonprogo, Tri Saktiyana mengungkapkan, langkah evaluasi secara lebih detail terkait perkembangan PMK di Kulonprogo terus dilakukan. Termasuk untuk mengalokasikan anggaran jika diperlukan, termasuk upaya mitigasi serius. “PMK ini sangat fluktuatif jika dilihat dari jumlahnya, maka besaran anggaran perlu dihitung secara matang melibatkan tim anggaran pemerintah daerah (TAPD),” ungkapnya.
Kebijakan lain yang diambil, sambungnya, pemkab Kulonprogo tidak akan menutup Pasar Hewan Terpadu (PHT) Pengasih, kendati ada temuan kasus PMK di Kulonprogo. Terlebih belum ada sumber penularan kasus PMK di pasar hewan tersebut. “Pasar hewan Pengasih tetap buka, hanya lalu lintas dan pemeriksaan hewan ternak khususnya yang bergejala lebih diperketat,” ucapnya.
Ditegaskan, DPP Kulonprogo juga sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) untuk pencegahan PMK. Salah satunya, hewan yang masuk ke Kulonprogo wajib dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari daerah asal, dipastikan tidak dari daerah wabah. Ternak yang akan dipelihara, begitu sampai di Kulonprogo, calon peternak harus melapor dan berkonsultasi dengan dokter hewan setempat untuk pemeriksaan.
Salah satu peternak sapi, Sukarman, warga Pendem, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih mengaku khawatir dengan PMK. Ia memilih rajin menyemprotkan cairan desinfektan dari DPP Kulonprogo untuk sterilisasi kandangnya setiap sepekan sekali. “Disini belum ada temuan PMK, namun saya tetap lakukan desinfeksi. Petugas kesehatan hewan juga sudah memberikan vitamin setiap melakukan pemeriksaan,” ucapnya. (tom/bah)

source