logo
Selamat
Logo
twitter
facebook
instagram
youtube
Sabtu, 11 Juni 2022
11 Juni 2022
13:09 WIB
Penulis: Tristania Dyah Astuti,
Editor: Satrio Wicaksono
JAKARTA – Rencana Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk mengeliminasi virus Hepatitis pada tahun 2030 tampaknya masih membutuhkan usaha yang besar. Di tahun 2022 ini saja, hepatitis justru menjadi salah satu penyakit yang tampak eksis.
Sejak 2016 lalu, WHO bersama banyak negara dan organisasi terkait hepatitis tengah fokus melakukan langkah pencegahan dan penanganan penyakit hepatitis A, B, C, D dan E, namun lebih fokus pada pencegahan dan penanganan B dan C.
Hepatitis B dan C menjadi perhatian karena menular melalui darah dan dapat meningkat menjadi kronis, sehingga menyebabkan kanker hati dan kematian. Mencegah dan mengobati hepatitis B dan C sama dengan mencegah hepatitis D.
Sementara pada hepatitis A dan E lebih jarang menjadi kronis, dan lebih mudah menjadi endemik hanya di negara-negara yang kekurangan air bersih dan sanitasi yang buruk.
Cita-cita mengeliminasi virus hepatitis ini tidak main-main. Selama 6 tahun WHO rutin menggelar World Hepatitis Summit (WHS) atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang membahas kemajuan dalam penanganan virus hepatitis dari tiap negara.
Hingga 2020 lalu, banyak negara telah memenuhi target global sepanjang 2020. Negara-negara ini berhasil mengurangi kejadian hepatitis B pada anak di bawah 5 tahun dan jumlah orang yang menerima pengobatan untuk hepatitis C telah meningkat 10 kali lipat.
Walaupun target lebih besar belum tercapai, sebab masih banyak negara yang belum mampu memenuhi target penanganan penderita hepatitis. WHO menduga gagalnya negara-negara ini mencapai target penanganan karena banyak faktor seperti sulitnya mengakses fasilitas kesehatan, kurangnya komitmen politik, serta deskriminasi dan stigma yang didapatkan pasien hepatitis membuat penderitanya enggan melaporkan diri.
Padahal, penanganan penyakit ini sudah bisa diakses di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Hepatitis adalah salah satu penyakit paling mematikan di dunia, tetapi juga salah satu yang paling dapat dicegah dan diobati, dengan layanan yang dapat diberikan dengan mudah dan murah di tingkat perawatan kesehatan primer,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dikutip dari laman resmi WHO, Sabtu (11/6).
Di tengah tantangan WHO melakukan upaya pencegahan dan penanganan hepatitis A-E, pada pertengahan tahun 2022 muncul kasus yang diduga merupakan bagian dari hepatitis, yakni Hepatitis Akut.
Dalam dua bulan terakhir WHO menerima hampir 700 laporan yang berasal dari 34 negara, di mana anak-anak mengalami gangguan fungsi hati bahkan hingga membutuhkan transplantasi akibat penyakit Hepatitis Akut.
Maka muncul kekhawatiran Hepatitis Akut dapat menjadi salah satu penghambat dalam rencana penghapusan virus hepatitis tahun 2030 mendatang.
Pasalnya hingga saat ini para peneliti belum berhasil menemukan penyebab pasti hepatitis akut, sehingga belum ada langkah pencegahan dan penanganan yang spesifik dan akurat untuk penyakit ini.
Pada Juni 2022 ini, WHO akan memastikan bahwa rencana eliminasi virus hepatitis sudah berada dijalur yang diharapakan. Terkait belum terpenuhinya target penanganan serta ancaman hepatitis akut, WHO akan menggerakan Strategi Sektor Kesehatan Global yang baru tentang hepatitis virus untuk dijalankan selama 2022 hingga 2030.
Bagikan ke:
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on LinkedIn
Share on Whatsapp
Silahkan login untuk memberikan komentar
Login atau Daftar
Tentang kami
Redaksi
Pedoman dan Siber
Disclaimer
Privacy Policy
Kontak
©Validnews 2022 All rights reserved.