Giri Menang (Suara NTB) – Data sementara Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) hingga Minggu, 5 Juni 2022 terdapat 4.328 ekor ternak sapi yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Jumlah ini terus melonjak beberapa hari terakhir. Dari jumlah itu, ternak yang sembuh baru 1.0000 ekor atau setara 25-30 persen. Tingkat kesembuhan ternak PMK ini terbilang masih rendah, karena terdapat 3.328 ekor yang masih sakit dan butuh penanganan. Sementara kondisi stok obat-obatan yang tersedia hanya cukup untuk 2-3 hari ke depan.
Kepala Distan Lobar H. Lalu Winengan mengatakan tingkat kesembuhan ternak mencapai hampir 1.000 ekor. “Masih banyak yang masih sakit, tapi itu sudah kami upayakan disuntik,” kata Winengan, Senin, 6 Juni 2022.
Dijelaskan, pihaknya terus mengupayakan semua ternak yang sakit mendapatkan penanganan obat-obatan. Ternak yang sakit disuntik dua kali, baru bisa sembuh. Kalau ternak sudah bisa makan, maka dikatakan sembuh, sehingga berhenti disuntik. Terkait keluhan beberapa daerah yang belum tersasar penanganannya obat-obatan, seperti di Desa Jembatan Kembar dan Lembar Utara, menurut Winengan sudah ada yang ditangani, khususnya di Desa Jembatan Kembar. Ia meminta agar bagi yang belum mendapatkan penanganan segera melapor dan menghubunginya atau petugas kesehatan hewan.
Diakuinya, pihaknya butuh anggaran untuk penanganan ternak terjangkit PMK sekitar Rp800 juta lebih untuk pengadaan obat-obatan dan operasional. Pihak dinas sudah mengajukan melalui penganggaran Belanja Tak Terduga. Untuk tambahan obat-obatan ini pihaknya mengusulkan sebesar Rp75 juta ke Pemda. Karena kalau menunggu APBD Perubahan, khawatirnya ternak tak bisa tertangani cepat.
Selain itu, pihak Dinas akan mengalihkan anggaran untuk tambahan obat-obatan. Sejauh ini ketersediaan stok obat-obatan itu untuk kebutuhan 2-3 hari ke depan. Pihaknya juga telah mengajukan bantuan ke pusat. “Kita minta juga dari BTT Pemda untuk penanganan 10 persen ternak, terkena PMK,” jelas dia.
Disebutkan,kalau 10 persen itu jumlahnya mencapai 13 ribu dari 130 ribu ekor terkena di Lobar. Kalau dua kali suntik satu ternak, maka butuh anggaran Rp650 juta, ditambah dengan operasional maka kebutuhan anggarannya sebut dia mencapai Rp800 juta.
Terkait penanganan ternak, pihaknya juga mengimbau kepada peternak agar memberikan obat-obatan tradisional, kalau memang bisa dilakukan untuk sementara. Kalau memang tidak bisa menggunakan obat-obatan tradisional, maka pihaknya langsung turun menyuntik. (her)
Digital Interaktif.