TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menggelar Temu Ilmiah Nasional 2022 bertema “Update Terkini : Ilmu Gizi, Pangan dan Kesehatan Untuk Menunjang Program Nasional di Bidang Gizi, Kesehatan dan Pariwisata Indonesia,” di The Rich Jogja Hotel pada 23-25 Juni 2022.
Laporan Ketua Panitia Kegiatan Pra Kongres ke-17 dan Temu Ilmiah Nasional 2022, Pritasari, mengatakan, acara yang digelar secara luring tersebut telah dihadiri oleh 800 peserta.
“Peserta kegiatan itu terdiri dari teman-teman sejawat ahli gizi yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan. baik di puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan, dan juga institusi atau bidang lain yang terkait,” katanya, dalam laporan Temu Ilmiah Nasional 2022, Kamis (23/6/2022) siang.
Dalam kegitan tersebut, pihaknya turut mengundang narasumber yang kompeten di bidang Gizi Masyarakat, Gizi Klinik, Gizi Olahraga, dan Food Service untuk memberikan update terkini terkait keilmuan untuk memperkaya dan meningkatkan kompetensi teman-teman ahli gizi di mana pun berada.
Oleh sebab itu, pihaknya turut menggandeng dari panitia Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persagi, DPP Persagi DI Yogyakarta, dan mitra Persagi.
Baca juga: Akses Jalan Menuju Suko Gedangsari Gunungkidul Dinilai Tak Layak, Dukuh Minta Dukungan Pemkab
Pihaknya berharap, dengan diselenggarakan acara tersebut, setidaknya dapat mencapai kemandirian profesi gizi melalui penguatan kompetensi dan profesionalisme dalam upaya penanggualangan masalah gizi sesuai standar dan perkembangan ilmu teknologi terkini di bidang gizi.
Ketua Umum DPP Persagi, Rudatin, turut antusias hadir dalam Temu Ilmiah Nasional 2022 terkait updating ilmu gizi yang harus terus dikembangkan. Bahkan menurutnya, ahli gizi harus ikut serta mengatasi permasalah gizi kesehatan di Indonesia.
“Indonesia itu sangat luas, banyak permasalahan kesehatan yang intinya terkiat juga dengan permasalahan gizi,” papar Rudatin.
Dikatakannya, Indonesia memiliki 7.230 kecamatan dan 81.616 desa. Maka dari itu, desa tersebut turut hadir sebagai ujung tombak dari pemerintahan Indonesia. 
Pihaknya pun mengharapkan, para ahli gizi ikut aktif dalam kegiatan di setiap desa mengenai permasalahan kesehatan. Walaupun saat ini, jelasnya para ahli gizi hanya ada di tingkat kecamatan yaitu puskesmas dan tidak semua puskesmas memiliki ahli gizi.

source