JOMBANG – Bupati Mundjidah Wahab menegaskan akan terus berupaya menangani wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) di Jombang. Jika diperlukan, ia akan mengeluarkan anggaran darurat dari belanja tidak terduga (BTT) untuk penanganan PMK ini.
”Sampai saat ini kita tetap berusaha optimal. Penanganan sapi yang terjangkit PMK diberi obat dan vitamin,’’ ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (15/6).
Sejauh ini, pemberian obat dan vitamin memang dilakukan terbatas. Pemanfaatannya hanya digunakan untuk menangani sapi yang terjangkit PMK. ”Kita bagi secara gratis kepada masyarakat,’’ papar dia.
Bupati tak menampik jika anggaran yang disiapkan untuk penanganan wabah PMK telah habis. Meski demikian, dalam kondisi tertentu sangat mendesak, masih dapat dianggarkan melalui anggaran BTT yang dikelola BPBD.
Mengingat wabah ini mirip pandemi Covid-19 yakni bencana nonalam yang datang tiba-tiba tak terduga. ”Kalau sudah sangat memerlukan akan kita keluarkan karena ini wabah/penyakit mendadak,’’ tandasnya.
Sesuai arahan dari pemerintah pusat, semua pasar hewan yang ada di Jombang sudah ditutup. Langkah ini untuk antisipasi pencegahan penularan PMK yang lebih masif. ”Tapi untuk pelayanan kesehatan hewan jalan terus, terutama hewan yang digunakan untuk kurban harus bersertifikat,’’ pungkas Mundjidah.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jombang Agus Susilo Sugioto, menjelaskan setiap harinya kasus sapi terjangkit PMK masih terus bertambah. Rata-rata, temuan kasus baru 158 ekor yang menyebar hampir di semua kecamatan. “Penyebaran PMK di Jombang setiap hari ada penambahan,” ujarnya.
Berdasar catatannya, lanjut Agus, ada ribuan sapi terjangkit PMK sejak bulan Mei hingga sekarang. “Ada penambahan per hari sekitar 158 ekor, sehingga sapi yang sakit sekarang berjumlah 2.854 ekor,” beber Agus. Meski begitu, sapi yang berhasil sembuh tercatat ada 1.115 ekor.
Ia menyebut, jumlah temuan kasus PMK menyebar di 21 kecamatan se-Jombang. “Kalau sapi yang mati tercatat 52 ekor. Rata-rata sapi yang mati itu usia anakan atau pedet. Sedangkan sapi dewasa akhirnya dipotong paksa agar peternak tidak terlalu merugi,” ungkap Agus.
Untuk mencegah penularan tidak semakin masif, sejak 6 Mei lalu pihaknya membentuk satuan gugus tugas yang secara khusus menangani PMK. “Dibentuk tim URC (unit reaksi cepat) yang beranggotakan 30 orang, bertugas khusus menangani kasus PMK,” ucapnya.
Selain itu, langkah penutupan pasar hewan masih berlanjut di 10 lokasi. Pihaknya juga tetap menyiapkan obat dan vitamin yang dibagikan ke peternak sapi. Obat-obatan tersebut sebagai persiapan banyaknya permintaan sapi jelang Idul Adha. “Kita ajukan obat melalui BTT di BPBD sampai tercukupi, agar peternak lebih tenang dan kasus PMK bisa segera teratasi,” pungkasnya. (ang/yan/bin/riz)
JOMBANG – Bupati Mundjidah Wahab menegaskan akan terus berupaya menangani wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) di Jombang. Jika diperlukan, ia akan mengeluarkan anggaran darurat dari belanja tidak terduga (BTT) untuk penanganan PMK ini.
”Sampai saat ini kita tetap berusaha optimal. Penanganan sapi yang terjangkit PMK diberi obat dan vitamin,’’ ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (15/6).
Sejauh ini, pemberian obat dan vitamin memang dilakukan terbatas. Pemanfaatannya hanya digunakan untuk menangani sapi yang terjangkit PMK. ”Kita bagi secara gratis kepada masyarakat,’’ papar dia.
Bupati tak menampik jika anggaran yang disiapkan untuk penanganan wabah PMK telah habis. Meski demikian, dalam kondisi tertentu sangat mendesak, masih dapat dianggarkan melalui anggaran BTT yang dikelola BPBD.
Mengingat wabah ini mirip pandemi Covid-19 yakni bencana nonalam yang datang tiba-tiba tak terduga. ”Kalau sudah sangat memerlukan akan kita keluarkan karena ini wabah/penyakit mendadak,’’ tandasnya.
Sesuai arahan dari pemerintah pusat, semua pasar hewan yang ada di Jombang sudah ditutup. Langkah ini untuk antisipasi pencegahan penularan PMK yang lebih masif. ”Tapi untuk pelayanan kesehatan hewan jalan terus, terutama hewan yang digunakan untuk kurban harus bersertifikat,’’ pungkas Mundjidah.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jombang Agus Susilo Sugioto, menjelaskan setiap harinya kasus sapi terjangkit PMK masih terus bertambah. Rata-rata, temuan kasus baru 158 ekor yang menyebar hampir di semua kecamatan. “Penyebaran PMK di Jombang setiap hari ada penambahan,” ujarnya.
Berdasar catatannya, lanjut Agus, ada ribuan sapi terjangkit PMK sejak bulan Mei hingga sekarang. “Ada penambahan per hari sekitar 158 ekor, sehingga sapi yang sakit sekarang berjumlah 2.854 ekor,” beber Agus. Meski begitu, sapi yang berhasil sembuh tercatat ada 1.115 ekor.
Ia menyebut, jumlah temuan kasus PMK menyebar di 21 kecamatan se-Jombang. “Kalau sapi yang mati tercatat 52 ekor. Rata-rata sapi yang mati itu usia anakan atau pedet. Sedangkan sapi dewasa akhirnya dipotong paksa agar peternak tidak terlalu merugi,” ungkap Agus.
Untuk mencegah penularan tidak semakin masif, sejak 6 Mei lalu pihaknya membentuk satuan gugus tugas yang secara khusus menangani PMK. “Dibentuk tim URC (unit reaksi cepat) yang beranggotakan 30 orang, bertugas khusus menangani kasus PMK,” ucapnya.
Selain itu, langkah penutupan pasar hewan masih berlanjut di 10 lokasi. Pihaknya juga tetap menyiapkan obat dan vitamin yang dibagikan ke peternak sapi. Obat-obatan tersebut sebagai persiapan banyaknya permintaan sapi jelang Idul Adha. “Kita ajukan obat melalui BTT di BPBD sampai tercukupi, agar peternak lebih tenang dan kasus PMK bisa segera teratasi,” pungkasnya. (ang/yan/bin/riz)
PT JOMBANG INTERMEDIA PERS
JALAN AIRLANGGA NOMOR 10,
KEPANJEN, JOMBANG
TELEPON / FAX / WHATSAPP: (0321) 875137/081336610001