TRIBUNJATENG.COM, KUDUS –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menganggarkan Rp 8,9 miliar untuk melakukan rehabilitasi terhadap enam Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Rencananya rehabilitasi puskesmas itu akan dilaksanakan pada lima lokasi dan satu lokasi Puskesmas pembantu (Pustu)
Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Edi Kusworo menyampaikan, enam paket rehabilitasi puskesmas akan dilaksanakan menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2022.
Adapun enam paket lokasi rehabilitasi itu terdiri dari Puskesmas Jati sebesar Rp 2,03 miliar, Puskesmas Mejobo Rp 1,2 miliar, Puskesmas Rejosari Rp 1,348 miliar, Puskesmas Rendeng Rp 1,61 miliar, Puskesmas Sidorekso Rp 2,4 miliar dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Rahtawu Rp 356 juta.
“Alokasi anggaran tersebut dipakai untuk perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan. Totalnya sekitar Rp 8,9 miliar,” ujar dia.
Menurutnya, rehabilitasi puskesmas itu hampir semuanya melanjutkan dari rehabilitasi sebelumnya yang belum tuntas.
Sehingga dialokasikan anggaran tersebut untuk menyempurnakan perbaikan bangunan‎ puskesmas yang rusak.
“‎Misalnya renovasi atap Puskesmas Sidorekso dan perbaikan bangunan Puskesmas Rendeng yang sudah tidak layak,” jelasnya.
Saat ini, progres rehabilitasi puskesmas itu ‎masih dalam tahap perencanaan. Rencananya, lelang proyek akan dilaksanakan sekitar bulan Juli 2022.
“Harapannya sekitar bulan Agustus 2022 proyek rehabilitasi puskesmas bisa dilaksanakan,” jelas dia.
Dia menilai masih ada waktu agar pelaksanaannya berjalan tepat waktu. Mengingat tahun 2021 lalu banyak proyek rehabilitasi puskesmas yang tidak dapat berjalan.
Waktu yang suah mendekati akhir tahun dan gagalnya lelang membuat pelaksanaannya menjadi terkendala.
“Kalau bulan depan lelang gagal lagi kemungkinan masih ada waktu yang cukup untuk lelang ulang. Tapi mudah-mudahan lelang kali ini tidak gagal,” ujarnya.
Dia berharap, puskesmas yang memiliki bangunan memadai dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan rehabilitasi ini pelayanan kesehatan kepada masyarakat juga menjadi lebih baik,” jelasnya. (raf) 

source