Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO – Pemkab Kulon Progo terus berupaya menurunkan angka kekerdilan anak di wilayahnya meski persentasenya sudah di angka 14,9 persen pada tahun ini.
Ditargetkan pada 2024 mendatang, kasus stunting di wilayah paling barat DIY bisa turun satu digit lagi di angka 9 persen.
Upaya percepatannya melalui rembuk stunting yang diikuti oleh organisasi perangkat daerah (opd) terkait, Kamis (9/6/2022).
Baca juga: BKKBN Turunkan Angka Stunting di Kulon Progo Melalui Media Pewayangan dan Program DASHAT
Penjabat (Pj) Bupati Kulon Progo , Tri Saktiyana mengatakan stunting masih menjadi permasalahan mendasar yang masih dihadapi di wilayahnya hingga saat ini, selain kemiskinan.
Meski sekarang ini, sektor ekonomi di Kulon Progo perlahan mulai tumbuh dengan adanya Yogyakarta International Airport (YIA).
Dia menyebut, penyebab utama stunting di wilayahnya karena asupan gizi yang kurang dan pola asuh yang salah, mulai hamil sampai dengan anak lahir.
“Kekurangan gizi di Kulon Progo sebagian besar bukan faktor ekonomi dan kemiskinan. Intervensinya bukan faktor itu melainkan pola asuh yg perlu diperhatikan,” kata Tri.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat menugaskan sejumlah kader di tingkat bawah untuk mengingatkan masyarakatnya agar menunda kehamilannya.
Salah satunya bila memiliki lingkar lengan kurang dari 23 sentimeter.