Saya suka membaca buku, buku adalah salah satu yang dapat membantu saya untuk menghilangkan stress.
Selanjutnya
Tutup
Proses pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berprinsip pada pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi di masa mendatang dengan menitikberatkan pada daya dukung lingkungan, sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Tujuan pembangunan berkelanjutan ini ditetapkan oleh negara yang tergabung dalam United Nations (PBB) yaitu untuk mencapai kemajuan bagi bangsa di dunia pada tahun 2030. Salah satu target yang akan dicapai adalah mewujudkan tencapainya Zero Hunger World atau angka kelaparan nol di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Maka dari itu, diperlukan masyarakat yang berkualitas sehingga mampu mengelola sumber daya alam secara tepat, efisien, maksimal dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Salah satu tantangan untuk mencapai Indonesia tanpa kelaparan di tahun 2030 adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan permasalahan pangan dan gizi. Masalah pangan dan gizi jika tidak tertangani dengan baik maka dapat mengakibatkan kekurangan gizi kronis atau stunting. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi yang kronis ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting umumnya rentan terkena penyakit, kecerdasan dibawah normal, dan produktivitas rendah. Menurut WHO, suatu negara dikatakan terkena stunting apabila angka prevalensi telah mencapai diatas 20%. Pada tahun 2017, World Health Organization (WHO) menempatkan Indonesia pada tingkat ke-3 dengan penderita stunting mencapai angka prevalensi 36,4%. Namun, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilakukan oleh Kemenkes angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%, atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018.
Guna mengatasi dan menurunkan angka prevalensi, pemenuhan gizi dan nutrisi yang optimal sangat diperlukan. Nutrisi penting yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, zat besi, zink, kalsium dan karbohidrat. Pemenuhan gizi tersebut dapat dilakukan oleh ibu sewaktu hamil dan tidak lupa bayi diberikan ASI eksklusif hingga berumur 6 bulan. Pemeriksaan anak dilakukan secara rutin melalui Posyandu maupun klinik khusus anak agar ibu lebih mudah mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya. Kebersihan sekitar juga merupakan faktor penting sebagai langkah pencegahan stunting.
Referensi :
Kementerian Kesehatan. 2019. Pencegahan Stunting Pada Anak. Dilihat pada 11 Juni 2022. https://promkes.kemkes.go.id/pencegahan-stunting.
Mutia, A. 2021. Prevalensi Stunting Balita Indonesia Tertinggi ke-2 di Asia Tenggara. Dilihat pada 11 Juni 2022. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/11/25/prevalensi-stunting-balita-indonesia-tertinggi-ke-2-di-asia-tenggara.
Berita, Wapres RI. 2022. “Tahun 2022 Angka Prevalensi Stunting Harus Turun Setidaknya 3%”. Dilihat pada 11 Juni 2022. https://stunting.go.id/tahun-2022-angka-prevalensi-stunting-harus-turun-setidaknya-3/#:~:text=Lebih%20lanjut%2C%20Wapres%20memaparkan%20bahwa,30%2C8%25%20pada%202018