Wednesday, 9 Zulqaidah 1443 / 08 June 2022
Wednesday, 9 Zulqaidah 1443 / 08 June 2022
Selasa 07 Jun 2022 21:57 WIB
Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Teguh Firmansyah
Ilustrasi hepatitis akut.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kesehatan RI melaporkan adanya penambahan jumlah kasus yang diduga akibat infeksi hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Berdasarkan data Kemenkes RI pada Senin (6/6) kasus dugaan hepatitis misterius tersebut bertambah menjadi 25 kasus.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI,dr Mohammad Syahril mengatakan, 25 kasus dugaan hepatitis akut itu tersebar di 16 provinsi Indonesia. Terbanyak kasus ditemukan di DKI Jakarta. “Jumlah kasus total 25 pasien dengan klasifikasi 9 probable. Kemudian 16 pending classification,” kata Syahril saat dikonfirmasi, Selasa (7/6).
Adapun, 16 provinsi yang melaporkan dugaan hepatitis misterius tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, dan Kepulauan Bangka Belitung. Kemudian, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Kasus hepatitis akut misterius juga dilaporkan di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Disusul kasus yang dilaporkan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali.
Dari 25 kasus yang dilaporkan tersebut, 12 orang diantaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit dengan status 3 orang masih probable dan 9 orang menunggu hasil atau pending classification.
Berita baiknya, 7 orang telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan dengan status 3 probable dan 4 pending classification. Sementara 6 orang meninggal dunia dengan status 3 probable dan 3 pending classification.
Berdasarkan data Kemenkes RI, total kumulatif kasus dugaan hepatitis akut di Indonesia sudah mencapai 57 kasus. Sebanyak 32 kasus dinyatakan tak terbukti hepatitis akut atau discarded.
Berdasarkan hasil diagnosa, para pasien discarded tersebut didiagnosis dengue, sepsis, infeksi bakteri, hepatitis A reaktif. Ada juga yang didiagnosis drug induce hepatitis, dilated cardiomyopathy, kolestasis susp atresia bilier, leukemia dan neonatal kolestasis.
Dengan terus bertambahnya kasus dugaan hepatitis akut, Syahril meminta kepada orangtua untuk terus mewaspadai gejala hepatitis akut misterius pada anak. “Orang tua harus mewaspadai gejala hepatitis akut pada anak yakni adanya diare, mual, muntah, sakit perut dan dapat disertai demam ringan,” ujar dia.
“Selain itu warna mata dan kulit anak dapat menguning dan terjadi gangguan pembekuan darah yang bisa menyebabkan kejang dan kesadaran menurun,” sambungnya.
Syahril menekankan, orangtua harus segera membawa buah hatinya ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala hepatitis akut. Karena, pertolongan dengan cepat dapat menekan risiko yang fatal.
“Bila perlu kalau memang sudah dalam taraf penurunan kesadaran maka segera dibawa ke ICU anak agar bisa segera ditangani agar tidak berlanjut kemudian yang bisa berakibat fatal yakni meninggal dunia,” tegas Syahril.
Dapatkan Update Berita Republika
Gerindra Segera Proses Penggantian M Taufik di DPRD DKI
Nasdem: Capres Dulu, Baru Berkoalisi
Tiket Borobudur Rp 750 Ribu, PKB: Banyak Umat Buddha dari Desa dan tak Mampu
Jokowi Lantik Megawati di Tengah Isu Kerenggangan
‘Presiden Jokowi Minta Penjabat Kepala Daerah Netral’
Kabar Jogja
Pemotongan hewan ternak di Bantul mencapai ratusan tiap harinya.
Timur Tengah
Turki berencana serang Suriah utara untuk melawan PKK yang dicap teroris
Umroh Haji
Rumah Sakit King Fahd Madinah salah satu rujukan bagi jamaah haji yang sakit.
Aplikasi
Pengguna bisa menyematkan hingga tiga postingan di bagian atas profil.
Film
Hanung Bramantyo berikan karakter jahat Aswatama pada aktor Fedi Nuril.
3 PHOTO
3 PHOTO
3 PHOTO
3 PHOTO
3 PHOTO
Rabu , 08 Jun 2022, 00:45 WIB
Selasa , 07 Jun 2022, 16:11 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved