Suara.com – Pandemi Covid-19 yang berlangsug sejak 2020 membuat cakupan imunisasi anak di Indonesia menurun.  Padahal, pencegahan terbaik dari tertular dan risiko penyakit menular tersebut adalah melalui cakupan imunisasi yang tinggi.
Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan menggelar Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN). Meski demikian, di masyarakat masih ada kekhawatiran bahwa vaksin yang digunakan tidak aman bagi anak.
Menanggapi hal tersebut, Anggota ITAGI sekaligus Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K)., MSi., mengatakan bahwa vaksin yang digunakan aman dan bermanfaat. 
“Vaksin yang digunakan dalam program BIAN adalah vaksin yang sudah lama digunakan dalam program imunisasi di Indonesia dan beberapa negara lain sejak lama, dan terbukti aman serta bermanfaat mencegah sakit berat, cacat dan kematian akibat penyakit menular. Maka supaya kadar antibodi tetap tinggi, bertahan lama, dan tidak cepat habis, beberapa imunisasi harus diulang beberapa kali,” ujar Prof. Soedjatmiko dalam keterangannya, Senin, (6/6/2022).
Baca Juga: Vaksin Covid-19: Pfizer Ajukan Izin Penggunaan untuk Balita di Amerika Serikat
Mengutip data dari Kemenkes terkait peningkatan kasus penyakit menular di 2021 antara lain, Prof Soedjatmiko mengatakan bahwa kasus campak meningkat di 71 Kab/Kota di 25 provinsi. Kasus rubela di tahun yang sama meningkat 84 Kab/Kota di 25 provinsi.
Kasus difteri meningkat di 96 Kab/Kota di 23 provinsi, Ini karena cakupan imunisasi campak rubella di 2020-2021 menurun sekitar 81-86 persen pada bayi, lalu anak usia kurang dari 2 tahun cakupan imunisasinya turun sekitar 65-67 persen, dan murid SD kelas 1 di hampir semua provinsi berada di bawah target perlindungan cakupan imunisasi.
“Kasus positif campak anak umur 0 – 15 tahun  di Indonesia pada 2020 sebanyak 80 persen, dan 2021 sebanyak 74 persen. Sementara itu kasus positif rubela di Indonesia untuk anak usia 0-15 tahun di 2020 sebanyak 80 persen, sedangkan di 2021 sebanyak 84 persen,” ujar Prof. Soedjatmiko.
Hal tersebut menjadi dasar pertimbangan Kemenkes memberikan tambahan imunisasi campak rubela mulai umur 9 bulan sampai 15 tahun, tergantung cakupan imunisasi campak rubella di setiap provinsi.
Lebih lanjut lagi, data yang disampaikan Prof. Miko untuk cakupan imunisasi difteri di 2020-2021 juga turut menurun. Imunisasi DPT4 pada bayi hanya memiliki cakupan sekitar 68-51 persen, imunisasi Difteri Tetanus (DT) untuk kelas 1 SD, Tetanus Diphteria (Td) untuk kelas 2 SD dan kelas 5 SD di hampir semua provinsi di Indonesia dibawah target cakupan perlindungan yang ditetapkan WHO.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Naik Lagi, Lansia di Brasil Bakal Dapat Vaksin Booster Kedua
Cakupan vaksinasi polio oral untuk mencegah polio serotipe 1 dan 3 menurun pada periode 20202021 dengan cakupan sekitar 86-70 persen. Begitu juga dengan vaksin polio suntik untuk mencegah polio serotipe 1, 2, 3 menurun drastis 37-58 persen, sehingga perlindungan terhadap polio serotipe 2 sangat rendah di Indonesia.
Setelah kepergian sang ibu, Putri Delina mengaku kehilangan support system-nya.
Disebutkan ada beberapa makanan yang dapat mencegah infeksi ragi terjadi dan men
Kondisi Putri Delina memburuk ketika ia harus tinggal seorang diri setelah Sule
Katanya, cuaca dingin dapat menyebabkan penis menciut dan menjadi lebih kecil da
Kini, Kiwil pun memilih lebih santai dan tidak memaksakan istrinya, Venti, karen
Irfan Hakim dilarikan ke IGD setelah makan keripik pedas.
Wanita 50 tahun ini menjadi ibu pengganti bagi anaknya yang tidak subur
Pangeran Louis juga tertangkap kamera menarik rambut perempuan lain dan mengarah
Puluhan anak di antaranya bahkan mengalami kondisi buruk hingga membutuhkan tran
Ikuti Kami
Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda
© 2022 suara.com – All Rights Reserved.

source