Besok, Presiden Jokowi Saksikan Balapan Formula E di Ancol|KPK Sampaikan Perkembangan soal Pengejaran Harun Masiku|Haryadi Suyuti Diduga Terima Uang dari Penerbitan IMB Lainnya
Minggu, 15 Mei 2022 | 23:00 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / FFS
Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang juga Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 IDI, Prof dr Zubairi Djoerban mengungkapkan perkembangan terbaru soal hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Menurutnya, tersangka utama penyebab penyakit ini masih adenovirus.
“Adenovirus masih jadi tersangka utama,” kata Zubairi ketika dihubungi Beritasatu.com pada Minggu (15/5/2022).
Masyarakat Diminta Waspada terhadap Gejala Hepatitis Akut
Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi hematologi onkologi medik⁣ ini mengatakan lebih dari setengah pasien hepatitis akut positif Adenovirus. Dokter direkomendasikan untuk mempertimbangkan uji adenovirus kepada pasien.
“Termasuk sampel darah, pernapasan, tinja,” ucapnya.
Beberapa gejala yang banyak ditemukan adalah demam, mual, dan muntah. Ada juga pasiden yang mengalami diare akut, warna kuning pada mata, dan warna urin yang keruh menyerupai teh dan buang air besarnya berwarna pucat.
“Sekarang anak-anak kita harus berhati-hati dan selalu menjalankan protokol kesehatan dan pola hidup yang bersih dan sehat,” katanya.
Update: RSPI Sebut Ada 17 Kasus Hepatitis Akut di Indonesia
Saat ini, total penderita hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya di dunia mencapai 450 kasus.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sekaligus Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dr Mohammad Syahril Mansyur menyatakan hingga saat sudah ada 17 dugaan laporan kasus hepatitis akut di Indonesia.
“Sebenarnya total pasien yang diselidiki, diinvestigasi atau tengah diperiksa berjumlah 25 orang. Namun dari 25 orang itu, ada delapan yang disingkirkan atau discarded karena tidak memenuhi kriteria diagnosis sebagai hepatitis akut yang belum diketahui ini,” katanya kepada Beritasatu.com.
Misalnya seperti dengue haemoragic fever (DHF) atau yang biasa dikenal dengan istilah DBD (demam berdarah dengue), ada hepatitis A, B, C (reaktif) atau penyakit lain. Dengan demikian, hingga per hari ini hanya ada 17 kasus hepatitis akut.
Cegah Hepatitis Misterius, Epidemiolog: Tingkatkan Pola Hidup Bersih
Selanjutnya perincian usia pasien dari 17 kasus suspek hepatitis tersebut, yakni 0-5 tahun sebanyak tujuh orang. Usia 5-10 tahun sebanyak empat orang, dan pada usia 10-16 tahun sebanyak enam orang. Dari 17 kasus tersebut, untuk jenis kelaminnya terbagi delapan orang laki-laki dan tujuh orang perempuan.
“Untuk status pasien, enam meninggal dunia dengan perincian usia 2 bulan, 9 bulan, 7 tahun, 8 tahun dan 12 tahun. Masih dirawat sebanyak tujuh pasien, dipulangkan dua orang. Nah, 15 orang ini masih pending classification dan dua orang dalam proses verifikasi (probable),” ungkap dr Syahril.
Untuk dipahami bersama, lanjutnya, kriteria konfirmasi hepatitis akut yang belum diketahui sebabnya ini belum ada atau belum dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jadi istilahnya masih probable.
“Sedangkan yang pending classification sedang ditelusuri atau diinvestigasi bukti-bukti pendukung diagnosisnya,” ucapnya.
Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini
Sumber: BeritaSatu.com
Berikut ini Data Kasus Positif Kumulatif & Suspek Covid-19, 3 Juni 2022 sesuai data Kementerian Kesehatan.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran bersama para pejabat utama (PJU) Polda Metro Jaya, menggelar halalbihalal dengan Forum Wartawan Polri (FWP).
Berikut ini Data Nasional Kematian akibat Covid-19 sampai 3 Juni 2022 sesuai data Kementerian Kesehatan.
Pengamat Politik Ujang Komaruddin mengatakan, Ketum Gerindra Prabowo Subianto berpotensi menggandeng Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pilpres 2024.
Disprz, platform pembelajaran dan keterampilan perusahaan bertenaga artificial intelligence atau AI merayakan dua tahun berkiprah di Indonesia.
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menegaskan sampai saat ini upaya penangkapan terhadap buronan Harun Masiku masih terus dilaksanakan.
Perhimpunan Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Indonesia (Paboi) mengakui Provinsi Papua masih kekurangan dokter ortopedi.
KPK mengusut dugaan eks Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti menerima uang dari berbagai penerbitan izin mendirikan bangunan (IMB) lainnya
Hadirnya praktisi yang mengajar di kampus melalui program Praktisi Mengajar, maka  proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal
Sayatan yang dilakukan tersangka pembunuhan di wajah dan leher korban dengan cutter supaya tidak mudah dikenali.
 
NEWSLETTER
 
NEWSLETTER

source