TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Hasil survei SSGI, stunting Tarakan capai 25,9 persen, bentuk 87 kelompok pendamping di setiap kelurahan.
Berdasarkan survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, tingkat stunting Kota Tarakan sebesar 25,9 persen.
Diharapkan pada tahun 2024 mendatang, penurunan stunting bisa mencapai angka 14 persen.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Tarakan, Hj. Mariyam mengungkapkan pada tupoksinya sendiri, khusus kasus angka stunting dikerjakan di Bidang Keluarga Berencana.
Baca juga: Berangkat Dini Hari, Berikut Jadwal & Tarif Kapal Feri Rute Tarakan-Tana Tidung Selasa 21 Juni 2022
Ia menjelaskan, Presiden RI mempercayakan kepada bidang ini secara khusus melakukan penanganan stunting anak.
“Karena Tarakan tertinggi. Dan pada saat ini ada Perpres Nomor 72. Yang harus dilakukan adalah melakukan membentuk keluarga pendamping stunting. Itu di 20 kelurahan masing-masing keluarahan ada yang pendamping keluarga empat sampai lima orang sesuai banyak penduduk dan angka staunting,” urai Hj. Mariyam.
Tarakan sendiri lanjutnya, sudah dibentuk 87 kelompok pendamping keluarga dengan 200 lebih kader.
“Ini yang dikerahkan menangani stunting. Bahkan pempus mengalokasikan DAK akan memebrikan reward terhadap tim pendamping di keluarahan. Dibentuk juga tim pendamping percepatan di tingkat kota,” beber Hj. Mariyam.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tarakan, Effendhi Djuprianto mengungkapkan, dalam rangka menindaklanjuti SSGI tersebut, pihaknya beberapa waktu lalu sudah memimpin Rapat Pra Rembuk Stunting Tingkat Kota Tarakan, bertempat di Ruang Rapat Wakil Wali Kota Tarakan.
“Tanggal 7 Juni 2022 kemarin. Tujuan rapat tersebut, membahas mengenai masalah penyebab stunting dan rencana aksi pencegahan stunting di Kota Tarakan,” urainya.
Baca juga: Harga Bawang Merah di Kota Tarakan Tembus Rp 65 Ribu per Kilogram, Pasokan dari Sulawesi Kosong
Dalam hal penanganan lanjutnya, seluruh stakeholders terkait harus bekerja keras bersama-sama.
“Dibutuhkan kolaborasi pelayanan tim percepatan penurunan stunting kepada keluarga risiko stunting agar penurunan stunting di Kota Tarakan mengalami percepatan,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah

source