Thursday, 17 Zulqaidah 1443 / 16 June 2022
Thursday, 17 Zulqaidah 1443 / 16 June 2022

Rabu 15 Jun 2022 04:21 WIB
Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Penjaga kandang mengawasi nafsu makan sapi yang terpapar penyakit PMK di Segoroyoso, Bantul, Yogyakarta, Selasa (14/6/2022). Petugas melihat kondisi hewan ternak yang terpapar penyakit PMK di salah satu pedagang besar. Pemilik hewan ternak juga memberikan jamu kunyit dan ramuan tradisional untuk menjaga kondisi sapi yang sudah terpapar.
REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat menyatakan anggaran untuk menangani wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) belum ada. Karena itulah penanganannya masih belum maksimal.

“Untuk anggaran penanganan PMK dari pemda (Pemerintah Daerah) belum keluar,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Asep Pamungkas di Cirebon, Selasa (14/6/2022).

Baca Juga

Menurut Asep belum keluarnya anggaran untuk penanganan wabah PMK membuat dirinya tidak bisa secara maksimal menangani wabah yang kian meluas. Bahkan, lanjut Asep, hingga saat ini hewan ternak yang sudah terjangkit PMK sudah mencapai 899 ekor, baik dari sapi maupun kerbau.

Sejauh ini Distan hanya mengandalkan obat-obatan yang ada dalam penanganan wabah PMK, yang pertama kali terdeteksi di Kabupaten Cirebon pada pertengahan bulan Mei 2022. “Penanganan yang kami lakukan masih ala kadarnya, hanya mengandalkan obat-obatan yang ada,” ujarnya.

Asep mengatakan meskipun belum bisa maksimal dalam penanganan PMK, tapi tim kesehatan hewan terus bergerak menangani semampu mereka.  Karena ketika wabah tersebut tidak ditangani secara maksimal, maka akan menimbulkan kerugian materiil bagi para peternak yang ada di Kabupaten Cirebon.

“Karena wabah ini cepat menyebar, sehingga memang butuh penanganan yang cepat pula,” terang Asep.

“Untuk anggaran penanganan PMK dari pemda (Pemerintah Daerah) belum keluar,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Asep Pamungkas di Cirebon, Selasa (14/6/2022).

Menurut Asep belum keluarnya anggaran untuk penanganan wabah PMK membuat dirinya tidak bisa secara maksimal menangani wabah yang kian meluas. Bahkan, lanjut Asep, hingga saat ini hewan ternak yang sudah terjangkit PMK sudah mencapai 899 ekor, baik dari sapi maupun kerbau.

Sejauh ini Distan hanya mengandalkan obat-obatan yang ada dalam penanganan wabah PMK, yang pertama kali terdeteksi di Kabupaten Cirebon pada pertengahan bulan Mei 2022. “Penanganan yang kami lakukan masih ala kadarnya, hanya mengandalkan obat-obatan yang ada,” ujarnya.

Asep mengatakan meskipun belum bisa maksimal dalam penanganan PMK, tapi tim kesehatan hewan terus bergerak menangani semampu mereka.  Karena ketika wabah tersebut tidak ditangani secara maksimal, maka akan menimbulkan kerugian materiil bagi para peternak yang ada di Kabupaten Cirebon.

“Karena wabah ini cepat menyebar, sehingga memang butuh penanganan yang cepat pula,” terang Asep.

Dapatkan Update Berita Republika
Gapki: Ekspor CPO Kemungkinan Baru Normal Mulai Juli 2022
Flip Raih Pendanaan Seri B Putaran Kedua
Bali Kembali Layani Penerbangan Citilink Rute Denpasar-Dili
Ekonom: Minyak Sawit RI Bakal Jadi Rebutan Pasar Global
Menteri Bahlil Perintahkan Tutup Tambang Emas Ilegal di Manokwari dan Pegaf
Islam Nusantara

Penyebaran radikalisme dan terorisme masih jadi ancaman serius.
Mancanegara

India Diminta Hentikan Kekerasan terhadap Pengunjuk Rasa Muslim
Liga Inggris

Paul Pogba dilaporkan akan tanda tangani kontrak di Juventus awal Juli
Liga Dunia

Sejumlah tim elite Eropa menginginkan tanda tangan Eriksen.
Mobil

Stellantis tidak merinci jumlah karyawan yang akan diberhentikan
3 PHOTO
4 PHOTO
5 PHOTO
4 PHOTO
6 PHOTO
Kamis , 16 Jun 2022, 00:01 WIB
Kamis , 16 Jun 2022, 01:16 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved

source