Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM – Direktur Jenderal World Health Organization ( WHO ), Tedros Adhanom Ghebreyesus memuji sistem pelayanan pusat kesehatan masyarakat ( puskesmas ) di Indonesia.
Tedros, yang hadir dalam pertemuan pertama Menteri Kesehatan (Menkes) negara anggota G20 atau The 1st G20 Health Ministerial Meeting di Marriott Yogyakarta Hotel, Sleman, mengatakan sistem tersebut bisa sangat dekat dengan warga.
“Saya sangat senang Indonesia fokus kepada (layanan) kesehatan primer. Saya yakin, itu adalah arah yang tepat,” kata Tedros di sela-sela kegiatan, Senin (20/6/2022) sore.
Dia menjelaskan, sistem layanan kesehatan primer bisa menjadi respons awal untuk mempersiapkan penanganan pandemi, meningkatkan survailans dan mencegah non-communicable disease atau penyakit tidak menular.
Baca juga: Dirjen WHO Hadiri Pertemuan Para Menteri Kesehatan Anggota G20 di Yogyakarta
Sebab, dengan adanya pengecekan awal dari puskesmas, kata dia, masyarakat bisa mengidentifikasi adanya penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.
Lebih dari 70 persen populasi di dunia dapat meninggal akibat penyakit ini, diantaranya penyakit jantung, kanker, stroke, dan penyakit diabetes mellitus.
“Mereka bisa memberikan pelayanan dari rumah ke rumah. Jadi, saya senang Indonesia bisa fokus ke layanan kesehatan primer,” tambahnya.
Sayangnya, Tedros tidak bisa mengunjungi puskesmas yang ada di DI Yogyakarta .
Hari ini, Selasa (21/6/2022), mantan Menkes Ethiopia itu harus bertolak ke Jakarta.
“Saya mau berkunjung ke puskesmas, tapi saya ada agenda penting lain di Jakarta. Jadi, saya harus meninggalkan Yogyakarta lebih cepat dari yang saya jadwalkan,” tandas Tedros.
Baca juga: 15 Juta Orang di Dunia Meninggal karena Covid-19 Selama 2020-2021, Ini Catatan WHO
Di Yogyakarta , Tedros turut membicarakan penanganan tuberkulosis, penyakit yang meningkat dalam beberapa tahun belakangan akibat pandemi Covid-19.
Menurutnya, semenjak pandemi terjadi, kematian akibat tuberkulosis meningkat pertama kalinya dalam satu dekade.
Isu penting yang juga dibahas dalam pertemuan itu adalah pendanaan untuk meningkatkan arsitektur kesehatan global melalui penggalangan dana guna membentuk Financial Intermediary Fund (FIF).
“WHO dan Bank Dunia butuh USD 31 miliar setiap tahun untuk memperkuat kesehatan global. Dua pertiganya sudah ada dari sumber pasti, tapi kurang USD 10 miliar per tahun,” tambahnya. ( Tribunjogja.com )