PALPRES. COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), menyebutkan dari data prevalensi anak balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga.
“Adapun prevalensi tertinggi di South-East Asian Region setelah Timor Leste (50,5%) dan India (38,4%) yaitu sebesar 36,4% data ini dari pusat data dan informasi kemenkes Tahun
2018,” kata Plt Kepala Dinkes OKU, Rozali, Senin (20/06/2022).
Dikatakannya, hingga saat ini angka prevalensi stunting di Indonesia masih di atas 20 persen Atau belum mencapai target WHO yang di bawah 20 persen.
Menurut Rozali, Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
“Yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan, anak tergolong Stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya,” terangnya. YEN
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.






No More Posts Available.
No more pages to load.


source