atau cari berdasarkan hari
Logo Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diluncurkan pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-26 pada Selasa 10 Agustus 2021. ANTARA/HO-Humas BRIN/am. (ANTARA/HO-Humas BRIN)
TEMPO.CO, Jakarta – Kegiatan lima tahunan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dimulai hari ini, Kamis 16 Juni 2022. Berbeda dari delapan kali kegiatan sebelumnya, survei tahun ini dilaksanakan  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Badan Pusat Statistik (BPS).
SDKI 2022 bergulir dari Gedung BJ. Habibie, Jakarta, hari ini dan segera dilanjutkan uji coba survei yang rencananya segera dimulai Juli nanti. Survei diselenggarakan BRIN melalui Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi. “Untuk kali pertama SDKI dilaksanakan oleh BRIN dengan berbagai inovasi survei atau keterbaruan survei,” kata Kepala BRIN, L.T. Handoko, dalam kick off SDKI 2022 itu.
Ada tiga inovasi yang dimaksud Handoko  yaitu, yang pertama, penggunaan Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI) menggantikan Paper-Assisted Personal Interviewing (PAPI). Ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas pelaksanaan survei.
Inovasi kedua adalah melibatkan mahasiswa dan akademisi dari perguruan tinggi di 34 provinsi untuk menjadi petugas pewawancara. Selain itu, yang ketiga, melibatkan Periset BRIN sebagai Koordinator Lapangan dan Tim Analisis untuk  menemu-kenali kondisi demografi dan kesehatan di masyarakat dan menghasilkan analisis yang mendalam dan komprehensif.
SDKI diarahkan memenuhi kebutuhan data yang memiliki keterbandingan internasional. Data digunakan untuk penyusunan kebijakan, program kependudukan, dan kesehatan. “Data hasil SDKI akan digunakan Bappenas untuk menyusun indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN),  dan Sustainable Development Goals (SDGs) terkait kependudukan,” kata Handoko.
SDKI 2022 telah melakukan tahapan perencanaan data. Tahapannya mencakup identifikasi kebutuhan data dan membangun rancangan survei dengan metodologi yang diharapkan dapat menghasilkan Indikator Demografi dan Kesehatan pada tingkat nasional dan provinsi. Acuannya adalah Demographic Health Survey Program untuk dapat diperbandingkan secara internasional sehingga bsai dipenuhi Global Statistical Business Process Model.

Tanggapan BKKBN
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, menyatakan menantikan hasil survei SDKI 2022. “Kami terus bekerja keras, dan dievaluasi melalui suatu survei yang terpercaya yang bisa menjadi ukuran oleh nasional dan internasional.”
Ia juga menceritakan beberapa hal di  bidang kerjanya. Misalnya beredar isu di masyarakat saat pandemi, membuat orang banyak diam di rumah, kemudian banyak nikah dan hamil. “Kita buktikan bersama, apakah perempuan yang usia 15-19 tahun yang kemudian hamil dan melahirkan meningkat atau tidak?” katanya. Angkanya per 1.000 penduduk ditargetkan tak lebih dari 22. “Kami akan lebih yakin lagi jika SDKI yang bicara secara nasional dan internasional,” kata Hasto.
Ia juga menceritakan  ada 4,8 juta perempuan yang melahirkan di Indonesia, namun yang hamil kurang lebih 5 juta. Dia menunjukkan angka abortus yang cukup tinggi. Lalu, dari jumlah yang melahirkan, yang langsung ber KB hanya 29 persen. “Padahal kalau mereka ditanya, apakah Anda mau hamil lagi di tahun ini juga. Jawabannya, tidak. Tapi, apakah Anda menggunakan kontrasepsi jawabannya juga tidak.”
Baca juga:
Satgas Bilang Butuh 2 Minggu Pastikan Sebab Meningkatnya Covid-19 Saat Ini, Epidemiolog Jawab Keburu Kompleks
 
 
Dapatkan ringkasan berita eksklusif dan mendalam sesuai dengan topik pilihan Anda dengan membaca newsletter pilihan Tempo
Pilih Topik
Jokowi mengganti sejumlah menteri dan wakil menteri saat reshuffle Kabinet Indonesia Maju. Perombakan itu dilakukan untuk menyelesaikan dua masalah.
Tempo Media Group © 2017

source