Fajar Nugraha (16), pelajar asal Garut yang terancam gagal masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) diundang ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag). Dia rencananya akan bertemu dengan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Hal tersebut dibenarkan pihak Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Anwar Bayongbong yang menjadi tempat Fajar bersekolah. Kepsek MA Miftahul Anwar Tantan Khoerul Anwar mengatakan, Fajar mendapat perhatian serius dari Kemenag.
“Alhamdulillah hari ini anak-anak diundang sama Kemenag,” kata Tantan saat dikonfirmasi detikJabar, Senin (30/5/2022).
Fajar hari ini sudah berada di Jakarta untuk mengunjungi Kantor Kementerian Agama. Dia berangkat bersama pihak sekolah dan keluarga. Selain Fajar, sejumlah rekannya yang juga berprestasi ikut ke kantor Kemenag.
Tantan mengatakan, rencananya, Fajar dan rombongan akan dipertemukan dengan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. “Rencananya begitu. Insya Allah mau dipertemukan dengan Pak Menteri,” katanya.
Keberangkatan Fajar ke Jakarta juga dibenarkan Agus Muharam (32), salah seorang tetangga Fajar. Agus mengaku mendapat kabar Fajar saat ini bertolak ke Jakarta bersama sejumlah perwakilan sekolahnya, dari Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Anwar.
“Sudah berangkat. Pak kepsek (kepala sekolah) bilang diundang Dirjen Pendidikan Islam Kemenag,” kata Agus saat dikonfirmasi detikJabar.
Agus mengatakan, selain Fajar, ada sekitar tiga pelajar lain yang ikut bertolak ke ibu kota. Selain akan bertemu Dirjen Pendis, rencananya hari ini Fajar dan perwakilan sekolah juga akan bertemu dengan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
“Iya akan ditemui Menag,” katanya.
Fajar sendiri sebelumnya dikabarkan diterima di tiga perguruan tinggi favorit. Ketiga perguruan tinggi tersebut adalah Institut Teknologi Bandung, UIN Sunan Gunung Djati, dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin.
Namun sayang, impian remaja asal Kecamatan Bayongbong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ini terancam gagal karena terkendala biaya. Fajar merupakan anak dari kuli bangunan.
Dia tinggal di rumah gubuk di kawasan Kampung Sukatani, Desa Ciburuy dengan ibu, satu adik dan ayah tirinya. Meskipun begitu, tekad Fajar dalam belajar tak pernah pudar. Hal tersebut dikatakan sang ibu, Elin.
“Anak saya ini pintar, dia selalu ingin jadi seperti idolanya pak Habibie. Tapi saya sendiri merasa bersalah karena saya enggak bisa berbuat apa-apa. Ekonomi keluarga seperti ini,” kata Elin.

source