Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022
Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022
Kamis 26 May 2022 15:03 WIB
Rep: Fuji E Permana/ Red: Andi Nur Aminah
Din Syamsuddin
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setelah dari Kazan di Rusia, Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin menghadiri Doha International Interfaith Conference pada 24-25 Mei 2022 di Qatar. Konperensi ini adalah acara tahunan yang berlangsung sejak 2010, tapi sempat terhenti dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19.
Din mengatakan, pada pertemuan ke-12 tahun ini, membahas tema utama Religion and Hate Speech: Scripture and Practices atau agama dan ujaran kebencian, kitab suci dan praktik. Sebab isu ujaran kebencian menjadi masalah global yang menciptakan ketegangan bahkan konflik, baik antar agama maupun antar bangsa.
“Hadir pada konferensi ini 500 tokoh berbagai agama, akademisi, dan pencipta perdamaian dunia, dari berbagai negara dunia,” kata Din melalui pesan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (26/5/2022).
Dalam konferensi yang dihadiri 500 tokoh penting ini, Din membawakan sesi tentang faktor dan akibat ujaran kebencian. Dalam sisi itu, Din menegaskan bahwa ujaran kebencian adalah bertentangan dengan ajaran agama manapun.
Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menjelaskan, dalam agama Islam, seorang Muslim dianjurkan untuk mengatakan ucapan yang baik atau lebih baik diam. “Ujaran kebencian yang memenuhi jagad manusia, baik bentuk fobia terhadap sesuatu agama seperti Islamofobia ataupun labelisasi terhadap sesuatu kelompok adalah sumber malapetaka peradaban, pelaku-pelakunya adalah kaum perusak,” ujar Mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.
Din yang juga Guru Besar FISIP UIN Jakarta mengatakan, ujaran kebencian sesungguhnya lahir dari rasa ketakutan atau inferioritas terhadap kelompok lain. Maka sejatinya ujaran kebencian, apapun bentuknya adalah sikap irasional yang hanya dilakukan oleh orang-orang pengecut yang tidak bertanggung jawab.
“Maka, sudah waktunya umat manusia cinta kebenaran dan kedamaian, untuk bangkit bersama melawan kelompok pengecut ini, seperti para buzzer, baik yang bekerja karena kebodohan maupun yang menjadikannya sebagai mata pencaharian,” ujar Din.
Terhadap mereka yakni kelompok pengecut, menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Partai (MPP) Pelita ini, cukup disambut dengan tertawa sambil didoakan untuk mendapat hidayah Ilahi. Terhadap yang keterlaluan memang pantas diadukan ke proses hukum.
Dapatkan Update Berita Republika
Pandangan Ulama Kanada Soal Tes DNA
Kejeniusan Imam An Nawawi di Balik Kitab Dzikir dan Doa Al-Adzkar An-Nawawiyah
Benarkah Nabi Muhammad Hadir Ketika Membaca Shalawat?
Bolehkah Menikah atau Menikahkan dalam Keadaan Ihram?
Bagaimana Hukum Kerja Sama Pengelolaan Tanah untuk Pertanian
Bandung24jam
Persib mempersingkat waktu training camp karena Piala Presiden.
Jawa Timur
Bangkalan sudah enam kali menolak masuknya sapi dan kambing dari luar daerah.
Mobil
Penjualan Maserati naik 7.300 unit dibandingkan 2020.
Info Sehat
Lansia sehat dimulai dengan apa yang dimakan saat muda.
Jawa Barat
Pemkot Sukabumi mengaku belum mendapatkan laporan adanya kasus PMK di wilayahnya.
3 PHOTO
3 PHOTO
4 PHOTO
5 PHOTO
3 PHOTO
Jumat , 27 May 2022, 00:45 WIB
Kamis , 26 May 2022, 20:08 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved