Data ”stunting” dan gizi buruk di NTT diduga direkayasa demi kepentingan politik tertentu. Di tengah pandemi Covid-19 yang mendera, pemerintah terus mengungkapkan kesuksesan menurunkan angka ”stunting” di NTT.
Seorang anak mengalami gizi buruk di Kelurahan Naioni, Kota Kupang, Jumat (30/4/2021). Kasus gizi buruk dan stunting di NTT menempati urutan pertama nasional. Penanganan stunting harus sesuai data lapangan yang akurat, dan jangan ada rekayasa data demi kepentingan tertentu.
Kepuasan keberhasilan penekanan kasus stunting dan gizi buruk di Nusa Tenggara Timur harus berdasar fakta lapangan bukan pada hasil analisis kepentingan. Data yang valid sangat mendesak untuk penanganan kasus secara menyeluruh, dan menyiapkan generasi muda daerah itu dengan sumber daya yang memadai. Pola asuh anak harus dimulai sejak dalam kandungan.
Rina Dewanti (8), siswa kelas 2 SD Gereja Kristen Injili Timor di Kelurahan Babau, Kabupaten Kupang, baru saja selesai mengonsumsi nasi putih tanpa lauk dan sayur. Tubuhnya kerdil dengan bobot 18 kg dan tinggi badan 70 cm. Ibu kandung Rina, Yelci Taek (32), telah meninggal dunia, hanyut terbawa banjir Badai Seroja pada 4 April 2021. Kini, ia dirawat ayahnya, Joben Tampani (38) dan kakeknya, Tanel Tampani (72).
Harian Kompas adalah surat kabar Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Kompas diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara yang merupakan bagian dari kelompok usaha Kompas Gramedia (KG), yang didirikan oleh P.K. Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama sejak 28 Juni 1965.

Mengusung semboyan “Amanat Hati Nurani Rakyat”, Kompas dikenal sebagai sumber informasi tepercaya, akurat, dan mendalam.

source