Regional
Kategori
Event
Channels
DOWNLOAD IDN APP SEKARANG!
Jakarta, IDN Times – Dmitry Kovtun, seorang mantan agen KGB atau badan intelijen Uni Soviet, meninggal pada Sabtu (4/6/2022). Kovtun merupakan salah satu dari dua lelaki Rusia yang dituduh membunuh mantan agen Rusia dan kritikus Kremlin Alexander Litvinenko pada 2006.
Kematian Kovtun di usia 56 tahun telah dikonfirmasi oleh Andrei Lugovoi, yang menyampaikan bahwa Kovtun meninggal akibat sakit parah setelah terinfeksi virus corona. Lugovoi merupakan anggota parlemen Rusia dan mantan agen KGB, yang juga dituduh membunuh Litvinenko.
Melansir dari BBC, Kovtun dan Lugovoi dituduh membunuh Litvinenko dalam pertemuan mereka pada 2006 di sebuah hotel di London, Inggris. Mereka dituduh menaruh zat beracun polonium-210 ke dalam minuman Litvinenko, yang membuatnya sakit parah dan meninggal pada 23 November, beberapa minggu setelah pertemuan mereka.
Hasil investigasi menemukan bahwa tempat yang dikunjungi oleh Kovtun dan Lugovoi selama berada di London, termasuk di hotel tempat mereka bertemu ada jejak polonium-210.
Pembunuhan ini diduga terjadi karena Litvinenko membelot dari Rusia. Dia mengklaim bahwa badan intelijen Rusia dan Presiden Vladimir Putin sebagai dalang dari pemboman di gedung-gedung di Moskow dan dua kota lainnya pada 1999, yang dilakukan untuk membenarkan perang di Chechnya dan meningkatkan kredibilitas Putin.
Tuduhannya terhadap Putin membuat Litvinenko dipecat dari badan intelijen Rusia. Karena merasa terancam, dia dan keluarganya meninggalkan Rusia pada 2000 dan hijrah ke London. Dia kemudian diberikan kewarganegaraan Inggris dan bekerja untuk badan intelijen Inggris.
Baca Juga: Macron: Rusia Bersalah Atas Invasi, Tapi Putin Jangan Dipermalukan
Melansir RFE/RL, Kovtun pada Desember 2006 pernah memiliki gangguan kesehatan yang parah akibat paparan radiasi, yang membuatnya mengalami koma dan kegagalan organ utama. Paparan radiasi diduga akibat radioaktif dari polonium-210. Belum ada laporan apakah paparan radiasi telah memengaruhi kemampuannya dalam melawan COVID-19.
John Moore, profesor mikrobiologi dan imunologi di Weill Cornell Medical College di New York, memberitahu bahwa gangguan kesehatan akibat radiasi yang signifikan dapat melemahkan sistem kekebalan seseorang. Tapi dia sulit untuk mengetahui sebab dan akibat dalam kasus Kovtun.
Moore menyampaikan, masalah kesehatan yang ditimbulkan radiasi kemungkinan besar akan berdampak buruk dalam menangani COVID-19. Dia juga menegaskan kondisi Kovtun saat terinfeksi virus berada dalam rentang usia yang berisiko terhadap nyawa menjadi signifikan.
Orang yang sudah tua dan memiliki penyakit bawaan diketahui memiliki peluang yang lebih besar untuk meninggal akibat komplikasi COVID-19.
Melansir dari iNews, penyelidikan publik Inggris yang dilakukan 10 tahun setelah kematian Litvinenko menyimpulkan bahwa pembunuhan itu kemungkinan disetujui oleh Putin. Litvinenko saat menjalani perawatan juga menuduh Putin sebagi orang yang memerintahkan pembunuhannya.
Pada tahun lalu, hasil penyelidikan terpisah Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan, Rusia bertanggung jawab atas pembunuhan Litvinenko dan memerintahkan Moskow untuk memberikan kompensasi sebesar 100 ribu euro (Rp1,5 miliar) kepada istri Litvinenko.
Tuduhan Putin terlibat selalu dibantah oleh Rusia dan menolak untuk mengekstradisi kedua warganya yang dituduh membunuh.
Menanggapi laporan investigasi yang dilakukan oleh Inggris, Kovtun dalam sebuah wawancara dengan media Rusia menegaskan bahwa dia tidak terlibat dalam kematian Litvinenko. Dia menuduh hasil penyelidikan tidak dapat dibenarkan dan ada bukti yang dipalsukan dan dibuat-buat.
Baca Juga: Hillary Clinton: Putin Itu Orangnya Antikritik dan Narsistik
Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya
IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
IDN Times Community
Stella Azasya
Stella Azasya
Izza Namira
kamu sudah cukup umur belum ?