SOLO – UPT Rumah Potong Hewan (RPH) Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KPP) Kota Surakarta menolak enam ekor sapi untuk disembelih. Penolakan itu dilakukan lantaran enam ekor sapi dari luar Solo itu terindikasi terjangkit atau suspek Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Plt Kepala UPT RPH Kota Surakarta, dr Abdul Azis membenarkan adanya enam sapi yang ditolak lantaran terindikasi PMK. Keenam sapi itu datang pada waktu berbeda yakni pada Sabtu (21/5) lalu dari Magetan dan Senin (23/5) lalu dari Karanganyar. “Dari Magetan lima ekor sapi yang kami tolak, satu lainnya dari karanganyar,” kata dia Kamis (2//6).
Pemulangan lima sapi ke Magetan itu dilakukan usai pengecekan kesehatan dilakukan. Sebelum diturunkan dari kendaraan, sapi tersebut langsung diperiksa oleh petugas. Saat itulah petugas curiga bahwa sapi itu tertular PMK.
“Sapi datang harus kita periksa terlebih dahulu. Belum sampai turun dari mobil, kita periksa dulu kesehatannya. Kalau memang mencurigakan terindikasi dan mengarah kesana kita tolak untuk masuk di RPH. Jadi sapi datang belum sampai turun udah kita tolak,” terang dia.
Dari pemeriksaan yang dilakukan sejumlah sapi tersebut mengeluarkan liur dari mulut yang berlebihan. Selain itu juga ada luka atau sariawan di mulutnya. Di waktu bersamaan, petugas juga mendapati ada sapi yang kakinya terdapat luka yang mengarah pada penyakit mulut dan kuku.
“Yang pasti air liur banyak menetes, terus kemudian ketika diperiksa di mulut ada lesi, kayak sariawan dan juga ada beberapa sapi yang kakinya ada lukanya juga. Lukanya agak spesifik dia posisi masih ditengah teracak itu. Rata-rata begitu. Disela-sela kuku, maka kita tolak dan dikembalikan,” papar Aziz.
Pasca memulangkan lima sapi asal Magetan, RPH kembali menolak seekor sapi yang didatangkan dari Karanganyar. Alasannya pun sama karena sapi tersebut terindikasi PMK. Usai pengecekan kesehatan, sapi tersebut dikembalikan ke asalnya dan dilaporkan kepada dinas terkait.
“Yang pasti tidak boleh masuk ke RPH. Temuan ini sudah kami koordinasikan dengan dinas setempat. Kita perketat pengawasan di wilayah RPH dan juga di pasar hewan (Semanggi, Pasarkliwon) pemeriksaan di sana,” terang dia.
Disisi lain, Kabid Veteriner Dispertan KPP Kota Surakarta, dr Agus Sasmita memastikan hingga Kamis (2/6) belum ada laporan temuan kasus PMK di Solo. Baik dari masyarakat maupun hasil pemeriksaan di pasar kambing, ataupun pemantauan monitoring dari kandang ke kandang. Pihaknya belum menemukan kasus tersebut menjangkiti ternak di kota bengawan.
“Setiap hari kami menjadwalkan tiga orang memeriksa kesehatan hewan di pasar hewan, baik itu kambing atau domba. Ini dilakukan setiap hari kerja. Dan sampai hari ini belum ada laporan temuan kasus,” papar dia.
Saat ini pihaknya terus melakukan antisipasi penularan wabah PMK terhadap ternak di Solo dengan upaya penyemprotan desinfektan di Pasar Hewan maupun kandang ternak. Sosialisasi kepada peternak juga intens dilakukan hingga jelang hari kurban mendatang.
“Penyemprotan disinfektan di pasar kambing secara rutin oleh tim desinfeksi. Kemudian nanti malam sosialisasi di daerah Mojosongo. Kemudian kami intensifkan juga pemeriksaan kesehatan hewan,” tutup Agus. (ves/dam)
SOLO – UPT Rumah Potong Hewan (RPH) Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KPP) Kota Surakarta menolak enam ekor sapi untuk disembelih. Penolakan itu dilakukan lantaran enam ekor sapi dari luar Solo itu terindikasi terjangkit atau suspek Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Plt Kepala UPT RPH Kota Surakarta, dr Abdul Azis membenarkan adanya enam sapi yang ditolak lantaran terindikasi PMK. Keenam sapi itu datang pada waktu berbeda yakni pada Sabtu (21/5) lalu dari Magetan dan Senin (23/5) lalu dari Karanganyar. “Dari Magetan lima ekor sapi yang kami tolak, satu lainnya dari karanganyar,” kata dia Kamis (2//6).
Pemulangan lima sapi ke Magetan itu dilakukan usai pengecekan kesehatan dilakukan. Sebelum diturunkan dari kendaraan, sapi tersebut langsung diperiksa oleh petugas. Saat itulah petugas curiga bahwa sapi itu tertular PMK.
“Sapi datang harus kita periksa terlebih dahulu. Belum sampai turun dari mobil, kita periksa dulu kesehatannya. Kalau memang mencurigakan terindikasi dan mengarah kesana kita tolak untuk masuk di RPH. Jadi sapi datang belum sampai turun udah kita tolak,” terang dia.
Dari pemeriksaan yang dilakukan sejumlah sapi tersebut mengeluarkan liur dari mulut yang berlebihan. Selain itu juga ada luka atau sariawan di mulutnya. Di waktu bersamaan, petugas juga mendapati ada sapi yang kakinya terdapat luka yang mengarah pada penyakit mulut dan kuku.
“Yang pasti air liur banyak menetes, terus kemudian ketika diperiksa di mulut ada lesi, kayak sariawan dan juga ada beberapa sapi yang kakinya ada lukanya juga. Lukanya agak spesifik dia posisi masih ditengah teracak itu. Rata-rata begitu. Disela-sela kuku, maka kita tolak dan dikembalikan,” papar Aziz.
Pasca memulangkan lima sapi asal Magetan, RPH kembali menolak seekor sapi yang didatangkan dari Karanganyar. Alasannya pun sama karena sapi tersebut terindikasi PMK. Usai pengecekan kesehatan, sapi tersebut dikembalikan ke asalnya dan dilaporkan kepada dinas terkait.
“Yang pasti tidak boleh masuk ke RPH. Temuan ini sudah kami koordinasikan dengan dinas setempat. Kita perketat pengawasan di wilayah RPH dan juga di pasar hewan (Semanggi, Pasarkliwon) pemeriksaan di sana,” terang dia.
Disisi lain, Kabid Veteriner Dispertan KPP Kota Surakarta, dr Agus Sasmita memastikan hingga Kamis (2/6) belum ada laporan temuan kasus PMK di Solo. Baik dari masyarakat maupun hasil pemeriksaan di pasar kambing, ataupun pemantauan monitoring dari kandang ke kandang. Pihaknya belum menemukan kasus tersebut menjangkiti ternak di kota bengawan.
“Setiap hari kami menjadwalkan tiga orang memeriksa kesehatan hewan di pasar hewan, baik itu kambing atau domba. Ini dilakukan setiap hari kerja. Dan sampai hari ini belum ada laporan temuan kasus,” papar dia.
Saat ini pihaknya terus melakukan antisipasi penularan wabah PMK terhadap ternak di Solo dengan upaya penyemprotan desinfektan di Pasar Hewan maupun kandang ternak. Sosialisasi kepada peternak juga intens dilakukan hingga jelang hari kurban mendatang.
“Penyemprotan disinfektan di pasar kambing secara rutin oleh tim desinfeksi. Kemudian nanti malam sosialisasi di daerah Mojosongo. Kemudian kami intensifkan juga pemeriksaan kesehatan hewan,” tutup Agus. (ves/dam)
Penerbit : PT Surakarta Intermedia Pers
Alamat : Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 37 Surakarta