Thursday, 3 Zulqaidah 1443 / 02 June 2022
Thursday, 3 Zulqaidah 1443 / 02 June 2022
Rabu 01 Jun 2022 05:03 WIB
Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko
Sekjen MUI Amirsyah Tambunan memberikan ceramah saat Tabligh Akbar di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/5/2022). Tabligh Akbar yang terselenggara atas kerjasama antara Republika dan Majelis Az-Zikra tersebut mengambil tema Semangat Umat Merawat Bangsa.Prayogi/Republika.
REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan mengajak masyarakat khususnya umat Islam untuk mensyukuri bangsa dan negara Indonesia. Menurutnya ungkapan rasa syukur tersebut bisa diaplikasikan dalam beberapa hal.
Buya Amirsyah mengatakan, sebagai ungkapan dari rasa syukur, umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia harus bersatu untuk membuktikan kesyukuran itu. Bersatu untuk membuktikan bahwa negara yang kaya raya dan penuh dengan nikmat Allah ini harus disatukan menjadi satu kekuatan.
“Sikap umat Islam harus bersatu, umat Islam sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW yang saya sebut Muhammadiyah yaitu mengikuti jejak langkah perjuangan Nabi Muhammad mempersatukan kaum muhajirin dan anshar, tentu harus memiliki dasar yang kuat, yaitu dengan kekuatan iman,” kata Buya Amirsyah kepada Republika usai Tabligh Akbar bertema “Semangat Umat Merawat Bangsa” yang digelar Republika bersama Majelis Az-Zikra di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor pada Selasa (31/5/2022) malam.
Buya Amirsyah mengatakan, jadi cara bersyukur selanjutnya dengan menguatkan iman, sebagaimana pesan Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Kekuatan iman sangat penting untuk terus ditingkatkan sebagai bukti tanda syukur ini.
Ia mengingatkan, sebagai umat yang bersyukur, harus menjadi umat yang kompak merawat keragaman suku, agama, dan etnis. Maka bangsa Indonesia harus kompak membangun kebersamaan, itu juga bagian dari bersyukur.
“Rasa syukur terhadap Indonesia juga bisa diungkapkan dengan rasa terimakasih kepada para ulama yang sudah bersusah payah merebut kemerdekaan, dan harus diisi kembali kemerdekaan ini, karena untuk meraih kemerdekaan ini sudah mengorbankan segala jiwa raga dan tumpah darah ini,” jelas Buya Amirsyah.
Maka, Sekjen MUI ini menegaskan, para ulama harus dijadikan teladan oleh bangsa Indonesia. Supaya anak cucu bangsa ini bisa mewarisi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
“Sebagai bukti kesyukuran, para ulama harus kita jadikan contoh teladan oleh generasi kemudian, mengetahui sejarah perjuangan ulama itu bukti kesyukuran kita,” ujar Buya Amirsyah.
Menurutnya, kalau tidak mengakui sejarah perjuangan ulama, itu sikap tidak bersyukur. Maka ulama jangan sampai dilupakan atau ditinggalkan. Ulama-ulama yang menjadi pahlawan itu contohnya KH Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, Imam Bonjol dari Sumatera, Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah, dan lain sebagainya.
“Semua tokoh ulama ini rela mengorbankan jiwa raga sebagai bukti kesyukurannya, maka bangsa Indonesia sekarang harus merawat negeri ini sebagai bukti kesyukuran kita,” kata Buya Amirsyah.
Dapatkan Update Berita Republika
Hukum Mahallul-Qiyam dalam Shalawat
Begini Status Pinjaman yang Diatur dalam Fikih
Mengakhirkan Sholat karena Padatnya Jam Kerja, Bolehkah?
Sifat Dasar Manusia Menurut Ibnu Athaillah
Jangan Pernah Sepelekan Bahkan Hina Sunnah Nabi SAW, Ini Alasannya
Aplikasi
Aplikasi Sapimoo membantu peternak untuk mengecek kesehatan hewan di tengah wabah PMK
Berita Jurnal Haji
Makan jamaah haji disediakan selama di Arab Saudi.
Sains Trendtek
Siklus Nodal bisa meningkatkan pasang maksimum.
Umum
Sarinah dianggap sebagai simbol keberpihakan BUMN ke pelaku UMKM..
Info Sehat
Hepatitis bisa jadi akut jika diderita dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan.
3 PHOTO
6 PHOTO
5 PHOTO
5 PHOTO
6 PHOTO
Kamis , 02 Jun 2022, 09:01 WIB
Kamis , 02 Jun 2022, 18:00 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved