Friday, 10 Rabiul Akhir 1444 / 04 November 2022
Friday, 10 Rabiul Akhir 1444 / 04 November 2022
Selasa 01 Nov 2022 19:09 WIB
Rep: Amri Amrullah / Red: Nashih Nashrullah
Qua vadis partai Islam (ilustrasi). Partai Islam cenderung tidak diperhitungkan karena sejumlah faktor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kekuatan politik Islam semakin ke sini semakin memudar dan terpecah atau terfragmentasi ke dalam arus kekuatan politik kelompok nasionalis.
Padahal, kata pengamat dan peneliti Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, kekuatan politik Islam ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari sejarah politik di Indonesia.
Siti Zuhro mengatakan saat ini setidaknya hanya ada dua kelompok kekuatan partai Islam yang masih bisa disebut menyuarakan kepentingan umat Islam.
Yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), karena keduanya masih berideologi Islam, walaupun ada beberapa partai lain seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai partai berbasis ormas Islam.
“Kekuatan politik Islam kini telah terfragmentasi ke dalam kekuatan politik lain, sehingga semakin tidak diperhitungkan. Bagitu juga tidak ada lagi tokoh-tokoh politik Islam yang kuat dan mampu menjembatani antarkelompok Islam, sementara kampanye anti politik identitas kian kuat. Ini semakin memperlemah kekuatan politik Islam,” jelas analis politik yang akrab disapa Mbak Wik ini, Selasa (1/11/2022).
Padahal sejatinya, terang dia, antara politik identitas dan politik Islam itu sebenarnya sangat berbeda.
Dimana politik Islam, menurut dia, lebih mengedepankan nilai kebajikan dalam Islam yang rahmatan lil alamain, dengan nilai persatuan, nilai kemajemukan, nilai kemajuan, anti dengan kemunafikan dan sebagainya.
Baca juga: Pengakuan Mengharukan di Balik Islamnya Sang Diva Tere di Usia Dewasa
Namun, karena ada pihak yang tidak ingin kekuatan politik umat Islam ini besar dan dominan, maka dia menilai, dimainkanlah isu anti politik identitas untuk menyerang juga kekuatan politik Islam.
Sementara partai-partai yang masih yang masih konsisten memperjuangkan nilai nilai keislaman, bukan perpecahan dan identitas semata selalu diberi stigma negatif oleh beberapa kalangan.
Seperti pendukung khilafah, anti Pancasila dan pro asas syariat Islam dan lainnya. Di sisi lain, ujar dia, ancaman perpecahan juga membuat partai dengan kekuatan Islam, semakin rapuh.
Dapatkan Update Berita Republika
Indra Karya Garap Paket Manajemen Konstruksi di IKN
Ancaman Ekonomi Global, BTN Ungkap Lima Strategi Tingkatkan Bisnis Kredit
Toga Food Tawarkan Solusi bagi UMKM yang Ingin Miliki Produk Izin BPOM dan Halal
ITDC Siapkan Manajemen Trafik dan Crowd Control untuk WSBK 2022
Implementasi Budaya AKHLAK, BTN: 358 Jabatan Diduduki Generasi Milenial
Umum
Menurut Brigjen Hamim, yang mengeluarkan plat nomor adalah Polda Metro Jaya.
Aplikasi
Google Play Games juga telah hadir di berbagai negara.
Korporasi
Kementerian PUPR telah merancang pembangunan infrastruktur IKN dilaksanakan bertahap.
Islam Nusantara
Indonesia masih membutuhkan setidaknya 1.000 rumah sakit.
Hukum
Mardani akan menjalani sidang dugaan suap IUP di Pengadilan Tipikor Banjarmasin.
5 PHOTO
2 PHOTO
3 PHOTO
2 PHOTO
3 PHOTO
Jumat , 04 Nov 2022, 05:31 WIB
Kamis , 03 Nov 2022, 21:03 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved