TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami deflasi 0,18 persen month to month (mtm) pada Oktober 2022.
Sementara inflasi year on year (yoy) gabungan lima kota di Sulawesi Selatan (Bulukumba, Watampone, Makassar, Parepare, dan Palopo) sebesar 6,12 persen.
Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Suntono saat press release berita resmi statistik bulanan melalui YouTube BPS Sulsel, Selasa (1/11/2022).
Suntono mengatakan, angka inflasi 6,12 persen yoy ini lebih rendah jika dibandingkan September lalu yang tercatat 6,35 persen.
“Series inflasi bulanan di Oktober terjadi deflasi 0,18 persen yang sebelumnya September itu terjadi inflasi 1,12 persen,” kata Suntono.
Suntono menyebut, dari 5 kota IHK di Sulsel, inflasi tertinggi secara yoy terjadi di Parepare yakni 7,66 persen.
“Yang terendah ada di Bulukumba tercatat 4,70 persen,” sebut Suntona.
Suntono memaparkan inflasi Sulsel 6,12 yoy terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 10 kelompok pengeluaran.
Yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,74 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,03 persen.
Lalu kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,77 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 4,96 persen.
Kemudian kelompok kesehatan sebesar 2,53 persen, kelompok transportasi sebesar 19,17 persen, kelompok rekreasi, budaya dan olahraga sebesar 3,13 persen.
Selanjutnya kelompok pendidikan sebesar 2,47 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,33 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,44 persen.
“Adapun kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,16 persen,” papar Suntono.
Suntono mengatakan, komoditas utama penyumbang inflasi yoy pada Oktober 2022 adalah bensin.
Juga angkutan udara, minyak goreng, telur ayam ras, rokok kretek filter, angkutan dalam kota dan cabai rawit.(*)