TUBAN, Radar Bojonegoro – Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur pada hari Minggu, 30 Oktober 2022, melanjutkan kegiatan Sosialisasi berupa dialog interaktif yang akan di tayangkan TVRI Jawa Timur.
Kali ini membahas tema tentang Pengasuhan Balita Optimal, Untuk Mencegah dan Menanggulangi Stunting. Desa Mergosari, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban menjadi pilihan kegiatan Sosialisasinya.
Dalam rangka mencegah dan penanganan Stunting merupakan wujud dari pemenuhan hak dasar pada anak, bila seluruh pihak bersinergi dan bekerja sama maka penurunan stunting bukanlah hal yang mustahil. Untuk itu BKKBN menghimbau agar selalu bekerja sama dalam pemenuhan hak anak demi terbebas dari Stunting.
Kegiatan ini dihadiri oleh Andi Hartanto Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban selaku Perwakilan dari Abidin Fikri dari anggota Komisi IX DPR RI, Taufik Daryanto selaku Perwakilan dari BKKBN Provinsi Jawa Timur, dan dr Atiek Surpatiningsih perwakilan dari Kabid Pengendalian Penduduk dan KB, Kabupaten Tuban.
Menurut Andi Hartanto, wakil Ketua DPRD Tuban stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam usia perkembanyan bayi.
“Pengasuhan anak yang baik dan optimal merupakan kunci utama untuk mencegah Stunting. Praktik pengasuhan memiliki peran penting dalam peningkatan perkembangan anak,” jelas Andi.
Adanya interaksi antara orang tua dan anak memberi stimulasi perkembangan secara optimal. Oleh karena itu, tugas mengasuh dan memastikan pemenuhan hak anak bukan hanya ibu, akan tetapi ayah dan keluarga anak tersebut.
“Bagi para ayah, kita harus dapat bersama-sama menyuarakan pentingnya kesetaraan gender dalam pengasuhan. Ayah sebagai kepala keluarga, harus dapat membangun empati, berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan, mempunyai sikap positif, dan juga mempunyai pengetahuan luas tentang pengasuhan anak,” jelasnya.
Sedangkan menurut wakil dari anggota Komisi IX DPR RI Taufik Daryanto, faktor-faktor yang menyebabkan stunting pada anak, selain pemenuhan gizi seimbang pada ibu dan bayi, isu perkawinan dini juga memiliki kaitan dengan isu stunting.
“Kami berupaya melakukan pencegahan perkawinan dini pada daerah yang tinggi angka perkawinan anaknya dan pada saat yang bersamaan kami menekankan edukasi terkait stunting. Hal ini dikarenakan perkawinan di usia dini sangat berpotensi meningkatkan risiko melahirkan anak-anak yang stunting,” ungkap Taufik.
Strategi Pemerintah dalam menurunkan angka Stunting bisa dilakukan dalam beberapa hal. Tak kalah penting, penyediaan konseling pengasuhan untuk orang tua. Kegiatan pola asuh (parenting) ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam menerapkan pengasuhan yang tepat pada anak, termasuk di dalamnya perbaikan pola asuh untuk mencegah stunting.
“Sebagai contoh, penyediaan akses PAUD, promosi stimulasi anak usia dini dan pemantauan tumbuh-kembang anak,” paparnya.
Sementara itu, menurut dokter Atiek Surpatiningsih, upaya penurunan stunting di PAUD dan BKB (Bina Keluarga Balita) dilakukan dengan dua cara.
“Cara tersebut adalah: (1) Penyediaan makanan bergizi seimbang sesuai dengan kondisi pertumbuhan anak; dan (2) Pengenalan makanan seimbang dan faktor terkait stunting lainnya melalui Alat Permainan Edukatif (APE) yang digunakan di Posyandu,” pungkas dokter yang juga perwakilan dari Kabid Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Tuban ini. (*)
TUBAN, Radar Bojonegoro – Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur pada hari Minggu, 30 Oktober 2022, melanjutkan kegiatan Sosialisasi berupa dialog interaktif yang akan di tayangkan TVRI Jawa Timur.
Kali ini membahas tema tentang Pengasuhan Balita Optimal, Untuk Mencegah dan Menanggulangi Stunting. Desa Mergosari, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban menjadi pilihan kegiatan Sosialisasinya.
Dalam rangka mencegah dan penanganan Stunting merupakan wujud dari pemenuhan hak dasar pada anak, bila seluruh pihak bersinergi dan bekerja sama maka penurunan stunting bukanlah hal yang mustahil. Untuk itu BKKBN menghimbau agar selalu bekerja sama dalam pemenuhan hak anak demi terbebas dari Stunting.
Kegiatan ini dihadiri oleh Andi Hartanto Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban selaku Perwakilan dari Abidin Fikri dari anggota Komisi IX DPR RI, Taufik Daryanto selaku Perwakilan dari BKKBN Provinsi Jawa Timur, dan dr Atiek Surpatiningsih perwakilan dari Kabid Pengendalian Penduduk dan KB, Kabupaten Tuban.
Menurut Andi Hartanto, wakil Ketua DPRD Tuban stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam usia perkembanyan bayi.
“Pengasuhan anak yang baik dan optimal merupakan kunci utama untuk mencegah Stunting. Praktik pengasuhan memiliki peran penting dalam peningkatan perkembangan anak,” jelas Andi.
Adanya interaksi antara orang tua dan anak memberi stimulasi perkembangan secara optimal. Oleh karena itu, tugas mengasuh dan memastikan pemenuhan hak anak bukan hanya ibu, akan tetapi ayah dan keluarga anak tersebut.
“Bagi para ayah, kita harus dapat bersama-sama menyuarakan pentingnya kesetaraan gender dalam pengasuhan. Ayah sebagai kepala keluarga, harus dapat membangun empati, berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan, mempunyai sikap positif, dan juga mempunyai pengetahuan luas tentang pengasuhan anak,” jelasnya.
Sedangkan menurut wakil dari anggota Komisi IX DPR RI Taufik Daryanto, faktor-faktor yang menyebabkan stunting pada anak, selain pemenuhan gizi seimbang pada ibu dan bayi, isu perkawinan dini juga memiliki kaitan dengan isu stunting.
“Kami berupaya melakukan pencegahan perkawinan dini pada daerah yang tinggi angka perkawinan anaknya dan pada saat yang bersamaan kami menekankan edukasi terkait stunting. Hal ini dikarenakan perkawinan di usia dini sangat berpotensi meningkatkan risiko melahirkan anak-anak yang stunting,” ungkap Taufik.
Strategi Pemerintah dalam menurunkan angka Stunting bisa dilakukan dalam beberapa hal. Tak kalah penting, penyediaan konseling pengasuhan untuk orang tua. Kegiatan pola asuh (parenting) ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam menerapkan pengasuhan yang tepat pada anak, termasuk di dalamnya perbaikan pola asuh untuk mencegah stunting.
“Sebagai contoh, penyediaan akses PAUD, promosi stimulasi anak usia dini dan pemantauan tumbuh-kembang anak,” paparnya.
Sementara itu, menurut dokter Atiek Surpatiningsih, upaya penurunan stunting di PAUD dan BKB (Bina Keluarga Balita) dilakukan dengan dua cara.
“Cara tersebut adalah: (1) Penyediaan makanan bergizi seimbang sesuai dengan kondisi pertumbuhan anak; dan (2) Pengenalan makanan seimbang dan faktor terkait stunting lainnya melalui Alat Permainan Edukatif (APE) yang digunakan di Posyandu,” pungkas dokter yang juga perwakilan dari Kabid Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Tuban ini. (*)
PT. Bojonegoro Intermedia Pers Digital
Jl. Ahmad Yani No.39 Bojonegoro
Mobile: 0851 5618 4830 (WA)
Telp: 0353-892000