BANGKAPOS.COM, BANGKA — Untuk mengentaskan prevalensi kasus stunting atau kekerdilan pada anak di bawah lima tahun (Balita) Pemerintah Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung kembali mengkampanyekan pemberian makan beragam, bergizi, seimbang, dan aman atau B2SA.
Kali ini puluhan masyarakat dan kader Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) se-Kota Pangkalpinang turut mengikuti sosialisasi pangan lokal B2SA kepada 11 Kelurahan lokus stunting di Ruang OR Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Rabu (19/10/2022).
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) III TP PKK Kota Pangkalpinang, Zumalia Miego mengatakan, dalam pemberian bekal pemahaman kepada para kader dan masyarakat pentingnya penanganan stunting pihaknya telah menggandeng beberapa perangkat daerah.
Baca juga: Mahasiswi Terlibat Sindikat Uang Palsu, Terungkap Saat Top Up di Konter Handphone di Pangkalpinang
Baca juga: Terungkap Selain Pengedar Uang Palsu, Oknum Mahasiswi Ini Ternyata Pernah Jadi Pengedar Sabu
Satu di antaranya yakni Dinas Pangan dan Pertanian (DPP) Kota Pangkalpinang.
Di mana pihaknya telah menggandeng DPP dengan nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MoU).
Kerja sama tersebut sebagai bentuk keseriusan TP PKK Kota Pangkalpinang untuk mewujudkan Pangkalpinang zero stunting atau nol stunting.
“Dalam rangka pengentasan stunting ada Peraturan Wali Kota (Perwako-Red) dari Pemerintah Kota Pangkalpinang. Bentuk kerja sama kami mengadakan sosialisasi mengenai menu B2SA pangan lokal non-beras dan terigu,” kata Zumalia kepada Bangkapos.com.
Ia mengungkapkan, saat ini memang terdapat 11 kelurahan yang menjadi lokus intervensi pengentasan stunting.
Empat di antaranya berada di Kecamatan Bukit Intan yakni Kelurahan Bacang, Kelurahan Sinar Bulan, Kelurahan Air Mawar, dan Kelurahan Pasir Putih.
Di Kecamatan Girimaya yakni Kelurahan Sriwijaya, Kelurahan Bukit Besar, Kelurahan Batu Intan, dan Kelurahan Semabung Baru. Di Kecamatan Gerunggang yakni Kelurahan Kacang Pedang, dan Kelurahan Air Kepala Tujuh, serta di Kecamatan Taman Sari yakni Kelurahan Batin Tikal. Dimana di sebelas kelurahan itu terdapat 36 anak yang terindikasi stunting
“Dengan adanya sosialisasi ini, TP PKK Kelurahan lokus stunting bisa membantu mengatasi stunting di kelurahan, setidak-tidaknya mengurangi,” jelas Zumalia.
Tidak hanya itu menurutnya, stunting merupakan agenda penting yang tidak hanya di tingkat kota, akan tetapi tingkat provinsi bahkan pusat sebagai program prioritas nasional.
Untuk itu perlu adanya komitmen bersama untuk mengatasi permasalahan ini. Dengan adanya sosialisasi B2SA berbasis pangan lokal ini semua pihak dapat komitmen secara bersama.
Pada tanggal 26 Oktober 2022 mendatang, pihaknya sendiri akan menggelar lomba menu B2SA. Diharapkan dengan lomba itu masyarakat terutama kalangan ibu rumah tangga dapat menjadikan menu baru B2SA yang berbasis pangan lokal dapat dijadikan alternatif.

source