Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022
Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Senin 19 Jul 2021 04:45 WIB
Red: Dwi Murdaningsih
Seorang anak menunjukkan kartu vaksinnya saat vaksinasi COVID-19 khusus anak usia 12-17 tahun di Mal Phinisi Point Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (16/7/2021). Vaksinasi massal yang berlangsung pada 16-17 Juli 2021 tersebut menargetkan sebanyak 2.000 anak di daerah itu sebagai upaya membantu pemerintah dalam mewujudkan capaian vaksinasi anak usia 12-17 tahun sebanyak 32,6 juta anak secara nasional.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ellen Wijaya menjelaskan bahwa pemberian vaksin COVID-19 perlu diberi jeda waktu sebulan dengan imunisasi lainnya. Hal ini untuk memberikan kekebalan tubuh yang optimal.
Hal itu juga berdasarkan sejumlah rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait anak usia 12-17 tahun yang akan mendapatkan vaksin COVID-19. “Kita baru diberikan vaksin COVID-19. Antigen masuk ke dalam tubuh. Tubuh sedang memberikan respon dengan membentuk antibodi supaya bisa memberikan kekebalan terhadap SARS-CoV-2. Saat itu, kalau tubuh diberikan imunisasi lainnya, nanti kekebalan yang diusahakan untuk SARS-CoV-2 tidak menjadi optimal,” ujar Ellen Wijaya dalam webinar kesehatan, Rabu, pekan lalu.
Tubuh perlu dibiarkan membentuk antibodi secara optimal setelah mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 dengan jarak minimal satu bulan dengan pemberian imunisasi lainnya. Sebenarnya, menurut Ellen yang berpraktik di RS Pondok Indah – Puri Indah itu, ketentuan serupa juga berlaku untuk vaksin lain semisal Hepatitis B dan HPV.
IDAI juga merekomendasikan anak yang akan divaksin COVID-19 tidak mengalami imunodefisiensi, kanker darah yang menjalani kemoterapi, mendapatkan steroid dosis tinggi. Anak juga sembuh dari COVID-19 tidak kurang dari 3 bulan, tidak memiliki penyakit Sindrom Gullian Barre, mielitis transversa dan acute demyelinating encephalomyelitis. Terkait persiapan sebelum anak divaksin sebaiknya orang tua memastikan kondisi mereka sehat, tidak demam (di atas 37,5 derajat Celcius), beristirahat cukup, tidak memiliki komorbid tertentu.
“Orang tua bisa mengkomunikasikan pada anak misalnya manfaat divaksin, lokasi suntikan, kondisi yang bisa terjadi usai divaksin semisal nyeri di area bekas suntikan dan sebagainya, tidur cukup, anak dalam kondisi sehat,” kata Ellen.
Dapatkan Update Berita Republika
Tak Sempat Puasa Syawal, Bolehkah Diganti pada Bulan Lain?
Pandangan Ulama Kanada Soal Tes DNA
Kejeniusan Imam An Nawawi di Balik Kitab Dzikir dan Doa Al-Adzkar An-Nawawiyah
Benarkah Nabi Muhammad Hadir Ketika Membaca Shalawat?
Bolehkah Menikah atau Menikahkan dalam Keadaan Ihram?
Asia

Singapura kampanye pemulihan pariwisata bertajuk SingapoReimagine
Eropa

Pabrik baja miliknya hancur dan merugi hingga 20 miliar dolar AS.
Bandung24jam

Begitu mendengar anak sulungnya terseret arus sungai di Swiss, Ridwan Kamil langsung menyusul terbang ke Swiss.
Sumatra

Syekh Sulaiman pendiri lahirnya madrasah tarbiyah dan dikenal tokoh anti-PKI.
Nasional Repjogja

Kondisi Eril saat ini masih dalam pencarian tim SAR dan polisi Swiss.
3 PHOTO
3 PHOTO
4 PHOTO
5 PHOTO
3 PHOTO
Jumat , 27 May 2022, 03:30 WIB
Kamis , 26 May 2022, 20:08 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved

source